beauty school

Bicara Tentang Laki-laki, Skincare, dan Toxic Masculinity

seo-img-article

“Laki kok nanya skincare, nggak sekalian nanya pembalut?” cibir seorang netizen tidak bertanggung jawab melalui cuitannya di media sosial beberapa waktu lalu.

 

Let’s welcome the male groom boom

Terlepas dari fakta bahwa ketersediaan produk skincare yang dikhususkan untuk laki-laki masih lebih sedikit daripada perempuan, geliat skincare khusus laki-laki sesungguhnya mulai meningkat. Di Indonesia pun semakin banyak beauty brand lokal yang memproduksi dan mendistribusikan produk skincare khusus laki-laki. Beberapa beauty brand lokal bahkan mencitrakan produknya sebagai genderless. Dalam laporan Connecting the Dots 2022 yang diterbitkan oleh GWI, perusahaan yang menyediakan layanan riset dan analisis pasar dari Inggris, Indonesia bahkan disebut sebagai negara dengan interest terbesar – setelah Tiongkok dan Australia –  dalam kategori men’s beauty & personal care. 

Baca juga: Sulwhasoo MEN Kini Hadir untuk Membantu Para Cowok Memiliki Kulit Awet Muda!

Pada tingkat global, kategori men’s beauty & personal care memiliki valuasi sebesar 30,8 miliar dolar Amerika dan diperkirakan akan mengalami tingkat pertumbuhan rata-rata per tahun (CAGR) sebesar 9,1% hingga tahun 2030. Skincare mendominasi kategori tersebut dengan kontribusi revenue sebesar 45.6%. Dari berbagai data ini, dapat disimpulkan bahwa telah terjadi ledakan tren perawatan diri laki-laki alias the male groom boom.

Namun, kenapa laki-laki yang rutin menggunakan skincare kerap dicibir?

Sejak usia dini, laki-laki dan perempuan dididik dan dituntut untuk memenuhi standar tertentu. Sebagaimana perempuan dituntut untuk memiliki karakter yang feminin, laki-laki pun dituntut untuk memiliki karakter yang maskulin. Tuntutan peran berbasis gender tersebut juga tercermin dalam berbagai medium, mulai dari mainan, sampai ke iklan. Mereka yang tidak memenuhi standar tersebut kerap menerima cibiran, hinaan, atau bahkan hukuman. Remember the time when there was a local TV show called “Be A Man”?

Padahal, feminitas dan maskulinitas ada dalam diri setiap orang. Hal ini telah dibuktikan oleh psikolog Sandra Lipsitz Bem yang mencetuskan “Bem Sex-Role Inventory”. Nyatanya, maskulinitas yang kerap diidentikkan dengan rasionalitas dan keberanian serta feminitas yang kerap diidentikkan dengan kasih sayang dan kelemahlembutan merupakan sekumpulan trait positif yang mampu membentuk pribadi kita sebagai manusia yang utuh.

Baca juga: Skincare untuk Cowok, Apa Saja Sih?

So, where did we go wrong?

Sebelum era 1960-an, kebanyakan dari studi psikologi yang diterbitkan adalah studi psikologi tentang laki-laki, khususnya laki-laki kulit putih. Kasarnya, laki-laki kulit putih dianggap dapat merepresentasikan semua orang. Dari hasil berbagai studi tersebut, disimpulkan bahwa maskulinitas dan feminitas adalah dua spektrum yang saling berlawanan dan jenis kelamin biologis seseorang merupakan faktor penentu peran yang berbasis gender. Untungnya, gelombang feminisme kedua berhasil mengubah perspektif ini.

Ronald F. Levant, profesor emeritus dalam bidang psikologi dari University of Akron, Amerika Serikat, sekaligus co-editor jurnal “The Psychology of Men and Masculinities” yang diterbitkan oleh American Psychological Association (APA), mengatakan bahwa sesungguhnya budaya patriarki itu bagaikan pedang bermata dua bagi laki-laki; mereka tidak hanya diuntungkan olehnya, tetapi juga menerima dampak negatif yang ditimbulkannya.

Patriarki melahirkan maskulinitas tradisional yang telah terbukti merugikan laki-laki, tidak hanya secara psikis, tetapi juga secara fisik. Mengonsumsi alkohol dan rokok secara berlebihan contohnya. Kebiasaan ini mungkin terlihat maskulin bagi banyak laki-laki, sehingga mereka melakukannya terus-terusan demi standar maskulinitas tanpa memikirkan dampak negatifnya pada kesehatan.  

Sementara itu, merawat diri dengan skincare routine setiap pagi dan malam yang jelas tidak berdampak negatif, malah dianggap sebagai sesuatu yang feminin dan identik dengan perempuan, bukannya dianggap sebagai sesuatu yang netral atau biasa saja.

Baca juga: 5 Produk Moisturizer untuk Cowok Pemilik Kulit Berminyak!

Mari kita pahami sedikit tentang toxic masculinity

Dalam bukunya yang bertajuk “The Man They Wanted Me To Be”, Jared Yates Sexton, profesor muda dalam bidang sastra dari Georgia Southern University, Amerika Serikat, mendefinisikan toxic masculinity atau maskulinitas beracun sebagai sebuah konstruksi artifisial dengan beragam ekspektasi yang tidak mungkin dapat dicapai. Ia sendiri sering menerima hukuman fisik dari ayahnya semasa kecil semata-mata karena ia mengeluhkan atau menangisi sesuatu. Dari pengalamannya yang menyakitkan inilah, ia berargumen betapa artifisialnya konsep maskulinitas dan tidak seharusnya manusia dituntut untuk meredam emosinya demi terlihat tangguh. 

Baca juga: Cowok Juga Butuh Skincare! Ini 5 Rekomendasi Skincare Lokal untuk Cowok!

Pantangan untuk mengekspresikan emosi secara terbuka hanyalah satu dari beragam perwujudan toxic masculinity. Kini, toxic masculinity juga mewujud dalam bentuk sentimen negatif terhadap laki-laki yang rutin menggunakan skincare. Buktinya, 15% dari responden riset kecil-kecilan Female Daily mengenai laki-laki dan skincare mengakui bahwa mereka pernah dicibir hanya karena menggunakan skincare. Namun, hampir seluruhnya memilih untuk tidak memedulikan cibiran tersebut. Alasannya sederhana, karena orang yang mencibir tidak membiayai kebutuhan skincare mereka.

 Baca juga: Perjuangan Mewujudkan Kesetaraan Gender: Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Para responden juga mengakui bahwa toxic masculinity telah mendarah daging dalam masyarakat Indonesia yang patriarkal, bahkan salah satu responden mengatakan bahwa ia merasa berada di titik yang mengharuskannya untuk hidup berdampingan dengan toxic masculinity. Responden lain mengatakan bahwa sebagai laki-laki, ia merasa toxic masculinity membatasi kebebasan berekspresinya dan, sayangnya, ia merasa tidak berdaya untuk mengubahnya karena akar toxic masculinity yang terlalu kuat.

Banyak pakar psikologi yang telah angkat bicara mengenai bahaya toxic masculinity. Menurut Yayasan Pulih, lembaga non-profit yang menyediakan layanan psikologis, toxic masculinity berisiko menimbulkan krisis identitas bagi laki-laki yang mencoba mencapai maskulinitas ideal yang kemudian memberikan dampak negatif pada kesehatan mental mereka. Dalam konteks ini, dampak negatif pada kesehatan mental bukan semata-mata gangguan psikologis dan/atau penyakit mental, tetapi juga ketidakmampuan untuk berempati, ketidakmampuan untuk mengelola dan mengekspresikan emosi secara sehat, kecenderungan untuk berperilaku kasar dan agresif, serta kecenderungan untuk bersikap misoginis. 

Sounds a lot like Donald Trump? Well, that is because he is the personification of toxic masculinity at best.

 Baca juga: 6 Aktor Korea Hits dan Produk Beauty Kesayangan Mereka!

Akhir kata…

Kita mungkin tumbuh dengan persepsi bahwa laki-laki tidak membutuhkan skincare, tetapi kini dengan banyaknya beauty influencer laki-laki, sudah sepatutnya kita menormalisasi penggunaan skincare di kalangan laki-laki. Beauty brand juga idealnya dapat memanfaatkan the male groom boom untuk memberikan edukasi mengenai pentingnya skincare, sehingga stigma-stigma yang lahir dari toxic masculinity akan bergeser atau hilang. Perawatan kulit adalah suatu hal yang universal. After all, skin is the largest organ that we have, therefore it is only natural that we take a really good care of it.

 

Image: Freepik, dok. brand

Slow Down

Please wait a moment to post another comment