banner-detik

backstage beauty

Beauty Industry Mulai Merambah Ke Metaverse, Apa Saja Dampaknya?

seo-img-article

 

Bicara metaverse tidak hanya bicara soal gaming atau virtual reality. Masuknya industri kecantikan ke metaverse ternyata tidak semenyenangkan yang kita kira.

Rasanya hampir semua dari kita pengguna media sosial pernah menggunakan beauty filter di beberapa media sosial seperti Instagram, TikTok, maupun Snapchat. Saya termasuk salah satunya. Pernah suatu waktu, dari sesi foto-foto iseng pakai beauty filter, saya sampai tergerak untuk memotong poni samping saya jadi poni rata, sesuatu yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya. Ternyata, bagaimana kita melihat diri kita di dunia virtual bisa memengaruhi keputusan kita untuk mengubah penampilan di dunia nyata.

Baca juga: Tidak Hanya Ghozali, Brand Beauty Ini Juga Meluncurkan NFT

But first, apa itu metaverse?


Menurut pencetus istilah metaverse Neal Stephenson yang merupakan penulis fiksi sains, metaverse memiliki arti “konsep dunia virtual yang imersif dimana orang-orang bisa berkumpul untuk bersosialisasi, bermain, dan bekerja.”

Di ruang-ruang digital tersebut, kita bisa mendandani avatar kita sesuai yang kita mau, baik itu sesuai dengan penampilan kita di dunia nyata, atau berbeda sama sekali. Ke depan, metaverse dapat mereplikasi dunia nyata beserta kegiatan-kegiatan di dalamnya, misalnya shopping, belajar di sekolah, atau bahkan meeting dengan rekan kerja secara real time. Selain virtual reality, juga ada augmented reality yang merupakan penggabungan antara apa yang terjadi di dunia nyata dengan benda maya baik dua atau tiga dimensi. Yup, persis seperti Pokemon Go!

Gimana industri kecantikan mulai tap in ke metaverse?

metaverse
Melihat definisi di atas, mungkin kita berpikir bahwa masuknya industri kecantikan ke metaverse masih jauh perjalanannya. Padahal, kalau kita liat di industri lokal saja, sudah mulai ada brand-brand yang memanfaatkan fitur virtual try-on, dimana calon konsumen dapat mencoba produk tanpa harus mendatangi toko fisik brand tersebut atau memegang produk yang mereka ingin coba di genggaman mereka. Pergerakan industri ini bisa jadi bukti bahwa cepat atau lambat, beauty brands akan mulai masuk ke metaverse, baik skala sederhana maupun kompleks.

 

 

View this post on Instagram

 

A post shared by ZEPETO (@zepeto.official)

Beauty brands global sudah lebih jauh lagi merambah ke metaverse. Nars Cosmetics, misalnya, bekerjasama dengan metaverse asal Korea Selatan, Zepeto. Nars membuat beberapa makeup look yang bisa pengguna Zepeto gunakan saat mereka memilih avatar yang ingin mereka pakai. Oktober 2021 lalu, Clinique juga sempat mengadakan giveaway di media sosial dengan iming-iming hadiah lipstick Black Honey lipstick dan moisturizer Moisture Surge, tapi dalam bentuk produk virtual. Elf Cosmetics juga mulai membuat produk-produk kosmetik dalam bentuk NFT. Estée Lauder juga membuat microsite bernama Anrcade, dimana konsumen bisa bermain mini games dan mendapatkan informasi lebih dalam mengenai serum Advanced Night Repair mereka.

Apa dampaknya bagi industri kecantikan?


Metaverse memungkinkan brand untuk memperkenalkan produk atau brand mereka lewat cara yang tidak biasa, dengan harapan akan membangun engagement yang baik dengan konsumen maupun calon konsumen. Dalam konteks industri lokal yang banyak menggunakan fitur virtual try-on, brand dapat menjaga keberlangsungan transaksi bahkan di momen-momen seperti pandemi dimana orang-orang tidak bisa bepergian.

Bagi beauty users, keuntungan yang sama juga dapat dirasakan, yaitu dapat mencoba produk tanpa harus menempuh jarak jauh, juga tanpa harus keluar rumah dan turun dari tempat tidur. Meski tidak dapat merepresentasikan hasil akhir yang benar-benar serupa jika dibandingkan dengan mencoba langsung di tempat, hal ini dapat menjadi pilihan bagi mereka yang berlokasi cukup jauh dari outlet brand tertentu.

Di sisi lain, terlalu terpaku dengan tampilan di dunia virtual juga dapat membawa pengaruh buruk, khususnya bagi beauty users. Penggunaan filter di media sosial yang mengganti bentuk hidung, atau membuat pipi lebih tirus misalnya, bisa memupuk ambisi untuk terlihat lebih tirus, punya hidung yang lebih mancung, bibir yang lebih tebal di antara perubahan-perubahan fitur wajah lainnya. Mengutip dari Dr. Helen Egger kepada Forbes, “It becomes the fixation, an obsessive worry that often leads to anxiety, social isolation, and seeking out cosmetic surgery.” Tidak main-main, di Amerika Serikat, satu dari antara 50 orang mengalami body dysmorphic disorder (BDD) atau kondisi kesehatan mental yang memiliki kekhawatiran berlebihan dengan penampilan mereka, yang salah satu pemicunya adalah penggunaan filter di media sosial.

This is the part of beauty industry in the future beserta dengan segala baik dan buruknya. Dalam menyambut kedatangan inovasi-inovasi dari beauty industry dan metaverse di masa yang akan datang, apapun itu bentuknya, let us all be vigilant and aware, but most importantly, be kind to ourselves and how we look like.

 

Image: Freepik, Mateus Campos Felippe for Unsplash

Slow Down

Please wait a moment to post another comment