entertainment

Drakor Twenty Five Twenty One Tamat, Ini 7 Pesan Penting yang Harus Kamu Tahu!

seo-img-article

Minggu tanggal 3 April, drama Korea Twenty Five Twenty One yang tayang di Netflix resmi berakhir. Para fans ricuh di berbagai media sosial, mengungkapkan perasaaan mereka tentang ujung cerita sang drama yang tidak berakhir sesuai ekspektasi.

 

Apakah belakangan ini, kamu jadi salah satu yang jadi bersemangat setiap hari Senin, karena Sabtu dan Minggunya selalu menyaksikan drakor Twenty Five Twenty One? Kalau iya, pasti Senin kali ini terasa berbeda. Ada  kehilangan mendalam atau mungkin rasa penat, akibat drama Korea satu ini sudah tamat.

Nggak mengherankan memang, karena sejak tayang perdana, Twenty Five Twenty One memang terus jadi spotlight. Fans-nya di mana-mana, sebab drama satu ini menceritakan keseharian para remaja yang hidup di tahun 1998 dengan sangat natural. Dibintangi oleh Nam Joo Hyuk dan Kim Tae Ri yang berakting ciamik, lengkap dengan chemistry yang cemerlang, style khas 90-an, tema olahraga anggar yang unik, dan kisah sekumpulan anak SMA yang lucu dan seru, Twenty Five Twenty One sukses mencuri hati para penontonnya.

Namun, perlu diingat bahwa sejak episode awal, drama ini memang bukan sekadar cerita yang ringan dan bikin tertawa, tapi ada banyak hal-hal penting tentang kehidupan yang bikin kita belajar. Ujung ceritanya yang mungkin bikin kamu sedih, bukan berarti membuat drama ini jadi buruk, lho. Justru ada banyak makna yang tersimpan di dalamnya. Daripada kecewa terlalu lama, lebih baik kamu simak beberapa pesan apik tentang menjadi dewasa yang disampaikan oleh drama satu ini.

Usaha dan kegigihan bisa membuahkan hasil

 

Dari sekadar mengagumi Ko Yu Rim yang seorang atlet anggar ternama, Na Hee Do bisa menjadi lawan Ko Yu Rim, bahkan menjadi juara. Kegigihan Na Hee Do dalam berlatih anggar, membuatnya dia bisa mewujudkan apa yang diyakininya: menjadi atlet anggar nasional, mengharumkan nama Korea Selatan. Na Hee Do membuktikan bahwa usaha yang baik memberikan hasil yang baik pula, meskipun sekitarnya sempat meragukan dirinya. Sosok Na Hee Do yang aktif dan pantang menyerah bisa menularkan semanhat ke kita semua, terutama untuk penonton usia belasan dan awal 20-an!

Poin ini juga berlaku untuk Moon Ji Woong dan Ko Yu Rim, lho. Kegigihan dan kepercayaan diri Ji Woong bikin Yu Rim juga akhirnya menyukainya, bahkan ketika mereka terpisah beda benua, Ji Woong berusaha tetap menjaga LDR dengan baik, mengunjungi Yu Rim dengan uang tabungannya yang berusaha keras ia kumpulkan dari beberapa pekerjaan sampingan.

Bersabar menunggu waktu yang tepat

Sejak awal drama Twenty Five Twenty One, kamu sudah disuguhkan dengan pemandangan manis dan lucu dari Na Hee Do dan Baek Yi Jin. Baek Yi Jin yang selalu ada buat Na Hee Do, menatapnya penuh kasih sayang, membantunya saat kesulitan, dan sebaliknya, Na Hee Do yang selalu mendukung Baek Yi Jin, membuat mereka berdua layaknya pasangan muda yang bikin iri semua yang melihat. Tapi, selisih usia 4 tahun, membuat Yi Jin dan Hee Do nggak langsung mengungkapkan perasaan dan pacaran. Yi Jin bersedia menunggu sampai Hee Do lebih dewasa, yaitu 20 tahun, usia legal di Korea.

Baca juga: Fakta Menarik Kim Tae Ri, Bintang Drama Twnty Five Twenty One yang Berwajah Imut!

Menikmati momen itu penting

Siapa sih yang nggak jadi kangen sahabat dan masa-masa sekolah yang seru ketika nonton Twenty Five Twenty One? Keakraban Na Hee Do dengan teman-teman sekolahnya, latihan anggar bareng, aktivitas di ruang kelas, karyawisata ke pantai, dan keseruan anak muda lainnya ditampilkan dengan baik oleh drama satu ini, seolah penonton diingatkan untuk live in the moment dan merayakan hal-hal kecil. Sebab, pertambahan usia nggak bisa dilawan, dan hidup akan terus bergerak dari fase satu ke fase lainnya, jadi kita harus menikmati sebaik-baiknya momen saat ini, karena kita pasti akan kangen dengan masa-masa sekolah, atau 5 tahun lalu, bahkan 10-20 tahun lalu.

Trauma masa kecil bisa bertahan hingga besar

Na Hee Do diceritakan sebagai seorang anak yang ditinggal meninggal ayah tercintanya saat ia kecil. Sementara ibunya adalah seorang news anchor (pembawa berita) sukses di stasiun TV UBS. Di hari pemakaman ayahnya, bahkan sang ibu terlambat hadir karena harus bekerja menyiarkan berita di TV. Hal itu membuat jarak antara Hee Do dan ibunya, apalagi sejak kecil Hee Do memang lebih dekat dengan ayahnya. Ketika tumbuh dewasa, Hee Do menyadari ia tidak ingin punya pasangan yang seperti ibunya – yang meninggalkannya sendiri saat momen-momen penting, terlalu sibuk hingga selalu membatalkan janji, dan sebagainya. Meskipun Na Hee Do tampak selalu ceria dan humoris, namun trauma masa kecilnya masih bersisa hingga ia besar. Jadi, ‘don’t judge a book by it’s cover’ itu benar banget! Kalau kamu salah satu yang keseulitan berdamai dengan trauma masa lalu, jangan ragu untuk terapi atau hubungi bantuan profesional ya.

Baca juga: 5 Alasan Kamu Harus Nonton Drama Forecasting Love and Weather di Netflix!

Hidup itu sangat dinamis

Baek Yi Jin datang dari keluarga kaya raya, namun saat krisis moneter tahun 1998, bisnis keluarganya bangkrut dan tidak bisa diselamatkan. Keluarganya terlilit utang besar, hidup mereka berubah drastis dan Yi Jin juga tidak bisa melanjutkan kuliahnya. Ko Yu Rim juga merupakan sosok yang pendiam, ketus, dan tidak punya teman, tapi semenjak akrab dengan Na Hee Do, Moon Ji Woong, Baek Yi Jin, dan Seung Wan, hidupnya jadi lebih berwarna. Pada episode-episode awal, hubungan Na Hee Do dan Ko Yu Rim juga sangat tidak baik, namun pada episode-episode akhir justru persahabatan mereka yang bikin kita menitikkan air mata.

Life is a series of changes and choices. Faktanya, akan selalu ada perubahan dari waktu ke waktu, bahkan hal-hal yang tidak kita duga. Jadi, kita harus mempersiapkan diri, belajar untuk tidak berekspektasi terlalu tinggi, dan selalu mau beradaptasi dengan hal-hal yang ada di depan mata, termasuk perpisahan. Nothing last forever, termasuk keceriaan kita di masa muda, hubungan dengan cinta pertama, dan sebagainya. Kesedihan juga sama, nggak akan selamanya, karena akan berganti lagi dengan sederet emosi dan momen lainnya.

Jalur yang ditempuh tiap orang pasti berbeda

Setiap orang punya path yang berbeda-beda, dan itu juga diceritakan rinci di Twenty Five Twenty One. Na Hee Do tidak bermasalah secara finansial, tapi tidak akrab dengan ibunya dan ditinggal ayahnya sejak kecil. Ko Yu Rim berasal dari keluarga kekurangan, tapi orangtuanya begitu manis dan perhatian. Ada Moon Ji Woong yang orang tuanya bercerai, Baek Yi Jin yang sekeluarga terpisah karena utang, dan Seung Wan yang juara kelas namun merasa hidupnya membosankan. Mereka kemudian bertumbuh sesuai dengan latar belakang dan purpose masing-masing. Na Hee Do jadi atlet hebat, Ko Yu Rim pindah kewarganegaraan demi menyelamatkan keuangan keluarga, Baek Yi Jin serius sebagai jurnalis, Seung Wan sukses berkuliah dan kemudian jadi produser acara variety show, Ji Woong sukses berbisnis fashion. 

Kamu tidak harus sama dengan temanmu dan sebaliknya. Tiap orang punya jalannya masing-masing, keajaiban masing-masing. Timeline-nya pun berbeda-beda, tidak bisa diseragamkan.

Kenangan baik selalu di hati

Pada akhirnya, kenangan yang manis dan baik akan tinggal di hati lebih lama. Apalagi seiring bertambah usia, proses menjadi dewasa tidaklah mudah, sehingga orang dewasa cenderung lebih mengingat dan menyimpan momen-momen baik yang dialami, karena sudah tidak banyak lagi ruang dan energi untuk hal-hal yang menguras emosi. So, embrace the moment, ciptakan kenangan bagus sebanyak-banyaknya, dan maafkan dirimu (atau orang sekitarmu) atas pengalaman atau kenangan tidak menyenangkan (atau memalukan) di masa lalu, walau mungkin tidak mudah. Karena di balik setiap journey atau pilihanmu, pasti ada alasannya. Kelak ketika sudah nggak muda lagi, semoga ada lebih banyak hal baik yang bisa kamu ingat dan bikin kamu tersenyum!

 

Itulah beberapa pesan penting tentang bertumbuh menjadi dewasa yang disampaikan oleh drama Twenty Five Twenty One. Ending kedua tokoh utamanya memang tidak seperti yang kamu bayangkan, namun selayaknya kehidupan yang tidak terduga, tidak semua hal yang kita mau bisa kita dapatkan. Itu adalah hal yang tidak bisa dipungkiri.

Drama ini justru memotret dengan baik momen-momen seru dan perubahan-perubahan yang terjadi pada Na Hee Do, Baek Yi Jin, Seung Wan, Moon Ji Woong, serta Ko Yu Rim, dan mengungkapkan bahwa perjalanan setiap orang memang berbeda-beda. Gimana menurut kamu? Apalagi yang kamu “dapatkan” dari drama Korea yang punya rating tinggi satu ini?

 

Image: Hancinema, Allkpop, Mydramalist, Kpoppost, Cafehallyu, Soompi, TVN.

 

Slow Down

Please wait a moment to post another comment