Banyak yang Nggak Suka Clubhouse Karena Bikin Burnout?

Banyak yang Nggak Suka Clubhouse Karena Bikin Burnout?

Baru 2 hari menggunakan Clubhouse, saya akhirnya memutuskan untuk nggak menggunakan aplikasi ini sering-sering. Apa alasannya?

Hingga saat ini, demam Clubhouse masih terjadi di mana-mana, malah jadi aplikasi yang semakin hits setiap harinya. Menurut saya, nggak cuma di Indonesia saja, tapi di seluruh dunia! Bahkan, akhir-akhir ini Instagram Ads saya beberapa kali menampilkan iklan dari @bloombergbusiness yang menyatakan kalau Clubhouse akan menggeser TikTok sebagai aplikasi yang diminati. Well, apakah hal ini betul akan terjadi?

Ternyata di balik hits-nya aplikasi ini, banyak juga dari mereka yang nggak suka menggunakan Clubhouse. Termasuk saya! Don’t get me wrong, aplikasi ini adalah aplikasi yang bagus banget dan super insightful. Tapi layaknya sosial media lainnya, kamu harus tahu batasan waktu dalam menggunakan aplikasi ini, serta mampu memilah Room mana yang kamu masuki.  Bahkan, saya sempat iseng membuat poll di Instagram mengenai penggunaan Clubhouse, ternyata banyak yang merasa nggak nyaman menggunakan Clubhouse karena beberapa alasan di luar fungsinya yang hanya menampilkan audio. Beberapa alasan tersebut bahkan menyangkut kesehatan mental mereka. Jadi, di artikel ini saya akan merangkum beberapa alasan kenapa orang-orang nggak suka menggunakan Clubhouse.

210208-clubhouse-hero-3000x1781

Baca juga: Viral Media Sosial Baru Clubhouse, Gimana Cara Kerja dan Penggunaannya?

Bikin Kamu Feel Less of Yourself

” Entah kenapa, semenjak masuk ke Clubhouse saya merasa semua orang mendadak jadi CEO dan expert. Saya merasa people are trying so hard to prove who they are supaya mereka diakui dan dianggap sebagai ‘speaker’. Sometimes in the wrong Room, saya jadi berpikir berkali-kali tentang pencapaian saya dan kenapa saya nggak bisa jadi speaker juga. Padahal, nggak adil buat menilai value diri kita dengan orang lain yang journey-nya juga berbeda-beda. Toh sebetulnya, yang jadi speaker di Clubhouse juga belum tentu lebih tinggi atau lebih hebat dari kita karena anyone can speak up di Clubhouse. Kalau saya udah merasa seperti ini, saya tahu ini saatnya untuk melakukan time-out dan saya akan break terlebih dahulu dari Clubhouse” – JD

Merasa Excluded & Left Out

” Lucu ya, aplikasi ini menjual perasaan ‘exclusive’ karena kita bisa secara nggak langsung ‘bicara’ barengan sama orang-orang terkenal dan orang penting, tapi di satu sisi aplikasi ini sifatnya ekslusif banget. Pengguna Android sampai saat ini belum bisa menggunakan app ini, kamu juga nggak bisa masuk kalau belum mendapatkan ‘invite’ dari sesama pengguna Clubhouse. Selain itu, buat beberapa orang yang nggak dikasih kesempatan untuk ngomong bisa merasa excluded dan left out. Apalagi kalau berada di Room yang salah, kamu bisa berasa lagi ‘nguping’ omongan geng lain atau omongan tetangga dan kamu merasa nggak diinginkan berada di situ. Nggak enak banget kan perasaannya? ” – IL

Buang Waktu & Terasa Drained

” Momen yang paling saya nggak suka adalah saya merasa waktu berlalu sangat cepat ketika saya main Clubhouse. Rasanya baru buka app, nggak kerasa udah subuh dan udah sangat melewati jam tidur saya. Menggunakan app ini bikin saya merasa saya punya ‘jam kerja baru’, karena saya tipe orang yang gampang overwhelmed, tapi di satu sisi saya juga nggak mau ketinggalan informasi-informasi yang penting. Ada saatnya saya 2 hari berturut-turut mendengarkan aplikasi ini seharian full, tiba-tiba saya merasa drained dan ujung-ujungnya nggak merasa mendapatkan pelajaran apapun. Pokoknya, harus pintar bagi waktu kalau mau menggunakan aplikasi ini.” – CM

Clubhouse-App

Baca juga: Jangan Cuma Scrolling, Bikin Social Media Lebih Berfaedah dengan Cara Ini!

Bahaya Slip of Tongue

” Tahu nggak sih, yang paling makin banyak kerjaan gara-gara aplikasi CH ini adalah PR setiap brand yang takut CEO-CEO nya sembarangan ngomong tanpa di-filter terlebih dahulu. Sampai saat ini, udah banyak orang yang tanpa pikir panjang spill ini-itu di Clubhouse, nggak sadar kalau ada banyak pendengar lain dari berbagai pihak yang bisa mendengar. Itu sebabnya, perlu hati-hati banget dalam menggunakan aplikasi ini!” – Anonymous on Twitter

Kalau menurut saya pribadi sih, nggak ada yang namanya aplikasi jahat atau yang buruk, semua tergantung dengan bagaimana kita belajar manage penggunaannya. Dampaknya juga berbeda bagi setiap orang, karena banyak juga yang merasa Clubhouse ini aplikasi yang sangat berguna, super insightful dan di saat yang bersamaan aplikasi ini bikin orang feel like they belong, bahkan jadi nggak ngerasa kesepian lagi. You just have to know the limitations for each of you. Kalau kamu udah mulai merasakan dampak-dampak negatifnya, then stop. Seperti saya, berhubung saya tahu aplikasi ini malah terkadang membuat saya cemas dan merasa lelah, saya membatasi penggunaannya hanya seminggu sekali, di saat ada conversation yang menurut saya penting banget. Sisanya, kadang it’s OK juga kok to miss out.

Nah, gimana menurut kamu? Apakah kamu tim pecinta Clubhouse, atau sampai saat ini kamu lebih prefer mending dengar podcast aja secara langsung? Jangan lupa share di komen ya!