Cara Cerdas Menangkis Hoax Kecantikan di Era Digital

Di era informasi seperti sekarang ini, kayanya apapun pasti tersedia. Apa lagi dengan perkembangan teknologi digital. All hail the founder of internet. Internet bikin kita merasa tahu semuanya. Namun nggak semua informasi yang beredar adalah fakta, bahkan banyak yang menyesatkan. Tak terkecuali info-info terkait kesehatan dan juga kecantikan.

It seems like we can find anything on media. Mulai dari tutorial makeup, demo masak, bahkan cara reparasi hp sendiri. Bahkan, cara mengobati penyakit atau masalah kesehatan pun ada. Nggak hanya di media digital, lho. Banjir informasi juga terjadi di media-media arus utama, seperti televisi, koran dan majalah. Tapi apakah semua informasi yang kita peroleh dari berbagai media tersebut sudah pasti benar?

Smiling woman texting on her phone

Hoax dan perempuan

Nyatanya, tanpa kita sadari, setiap hari bahkan tanpa terasa, kita telah terpapar oleh berita-berita bohong, atau yang lebih akrab disebut sebagai HOAX. Sebuah survey pada tahun 2017 bahkan mengungkapkan, dari 1.146 responden, sebanyak 44,3% nya terpapar oleh hoax setiap hari. Bahkan nggak cuma sekali, 17,2% nya menerima hoax lebih dari sekali dalam sehari. Wah, sudah seperti minum obat, ya. 

Survey yang sama juga mengungkapkan jika penyebaran hoax terbanyak memang melalui media sosial dan aplikasi chat, sebut saja Instagram dan WhatsApp sebagai juaranya. Tapi ternyata, media arus utama yang seharusnya menjadi media andalan dan dapat dipercaya pun terkadang berkontribusi dalam penyebaran hoax.

Baca juga: Waspada dan Stop Edarkan Berita Hoax!

Mirisnya, perempuan sangatlah rentan akan dampak dan penyebaran hoax. Ini bukan bias gender, lho. Sebuah studi pada tahun 2018 berjudul Women and Hoax News Processing on WhatsApp, menyebutkan kalau perempuan di Indonesia, rentan akan hoax karena kecenderungan untuk mengutamakan aspek emosional saat memproses informasi yang dibaca atau ditonton. Selain itu, perempuan di Indonesia masih sangat minim literasi media.

Perempuan memang lebih emosional terhadap topik-topik tertentu yang dekat dengan perempuan. Misalnya saja topik kesehatan, yang termasuk di dalamnya tentang kecantikan. Nggak diragukan lagi, perempuan memang jadi target sasaran hoax-hoax kecantikan yang beredar di media. Faktanya, hoax kesehatan menempati urutan ke-3 hoax terbanyak di Indonesia setelah hoax sosial politik dan SARA.

 

MENANGKIS HOAX 3

Apa saja jenis dan ciri-ciri hoax?

Sederhananya, hoax terdiri dari tiga jenis. Pertama, misinformasi, yaitu informasi palsu yang tidak dibuat secara sengaja untuk merugikan orang lain. Contohnya ketika seorang beauty influencer berbagi tentang success story-nya menghilangkan bekas jerawat dengan cuka apel, yang notabene-nya nggak baik untuk kulit. Informasi ini dibuat hanya sebatas untuk sharing tanpa ada niatan jahat. Masih ingat kasus beberapa seleb yang sempat mempromosikan kosmetik oplosan di media sosial? Ini juga merupakan contoh dari misinformasi.

Kedua, disinformasi, yakni informasi palsu yang sengaja dibuat untuk merugikan orang lain. Misalnya, cara-cara yang digunakan penjual kosmetik “nakal” yang memasarkan produk skincare pemutih berbahaya dengan testimoni-testimoni palsu untuk menarik pelanggan. 

Ketiga, malinformasi, yaitu informasi fakta, tapi digunakan untuk merugikan pihak lain. Contohnya saja info tentang dampak kesehatan dari sunscreen yang dilebih-lebihkan guna menakut-nakuti orang lain untuk menggunakan sunscreen.

Saking banyaknya hoax yang beredar, sulit untuk membedakan mana hoax dan yang fakta. Namun umumnya hoax punya ciri-ciri tertentu. Hoax biasanya bersifat “pesan berantai” yang mengandung kalimat ajakan untuk menyebarkan atau mem-forward pesan pada orang lain, bahkan bersifat mengancam jika pesan tidak disebarkan. Hoax biasanya tidak terdapat informasi yang konkret tentang waktu kejadian, dan sumber yang bisa diverifikasi. 

Beberapa contoh hoax kecantikan yang paling populer di Indonesia diantaranya seperti: tips mengobati jerawat dengan bawang putih dan pasta gigi; memutihkan kulit dengan lemon dan jeruk nipis; menghilangkan kutil dan tahi lalat dengan sabun colek plus kapur sirih; menghilangkan bekas jerawat dengan cuka apel. ‘Till the most disgusting above them all: menggunakan darah menstruasi dan sperma untuk mendapatkan wajah mulus

Baca juga: Ritual Kecantikan Aneh, Mau Coba?

 

MENANGKIS HOAX 1

Bagaimana harusnya menyikapi hoax kecantikan?

Selama ini, upaya pemberantasan hoax masih terfokus pada isu-isu politik, padahal banyak hoax-hoax tentang kecantikan membayangi masyarakat dan dampaknya bisa sangat berbahaya karena nggak dipungkiri lagi, topik kecantikan pun berhubungan erat dengan kesehatan.

Secara ilmiah, hoax mudah dipercaya karena kontennya yang sangat mudah, murah, menggugah secara emosional serta kebanyakan berupa video atau gambar dan sangat sedikit teks. Bayangin deh, saat lagi desperate dengan masalah jerawat menahun, informasi tentang cara mengobati jerawat yang gampang bin murah pakai bawang dan pasta gigi jadi sangat menggiurkan bukan? Apalagi jika didukung dari testimoni orang-orang yang “mengaku” berhasil dengan cara tersebut. 

Sebagai seorang netizen yang budiman, tiap individu bertanggung jawab dalam menyikapi hoax. Ada beberapa tips yang perlu diingat:

Kenali ciri-ciri hoax

Seperti yang sudah dipaparkan di atas, jika menemukan informasi dengan ciri-ciri tersebut, pastikan kita nggak percaya begitu saja. Apalagi kalau sumber informasinya nggak jelas.

Biasakan beretika dalam bermedia (netiquette)

Jangan asal tulis info. Hanya karena kamu iseng-iseng bereksperimen bikin masker dari bahan-bahan dapur dan nggak ada efek samping di kulitmu, bukan berarti kamu bisa seenaknya membagikan tips yang tidak didukung secara ilmiah dari segi efektivitas dan safety-nya, karena bisa membahayakan orang lain. Terpenting, jangan asal forward! Ketika menemukan informasi tertentu, jangan langsung forward pada orang lain tanpa di cek dulu kebenarannya.

Jangan malas verifikasi

Sebaiknya cek kebenaran info yang diterima. Pengecekan paling gampang bisa dengan cara Googling dan baca artikel-artikel dari situs atau media yang kredibel. Pengecekan juga bisa dilakukan dengan bertanya pada expert atau ahli, misalnya saja dokter SpKK. Tenang aja, konsultasi dengan dokter zaman sekarang tuh gampang banget! Bahkan bisa ngobrol dengan dokter lewat aplikasi buat nanyain info yang dirasa belum jelas. Intinya, jangan malas!

Semoga ke depannya kita makin melek informasi dan semakin bijak dalam menanggapi informasi-informasi kecantikan yang didapat dari berbagai media, ya!