skincare
in 5 hours
Dari Winter ke Panas Ekstrem, Pengalaman Menghadapi Dry Skin karena Perubahan Iklim
Kulit tiba-tiba kering, mengelupas, dan perih. Aku langsung reset skincare routine dan fokus ke hidrasi, ini pengalaman lengkap atasi dry skin efek perubahan cuaca ekstrem yang bisa kamu coba!
Pada awal Februari, aku melakukan perjalanan ke Turki yang saat itu sedang memasuki musim dingin, dengan suhu sekitar 8 derajat celsius. Bahkan, di beberapa kota yang aku kunjungi, suhunya bisa turun hingga 3 derajat celsius. Selama satu minggu perjalanan, aku juga sempat singgah ke Gunung Erciyes. Saat itu, udara terasa jauh lebih dingin karena aku datang tepat ketika badai salju sedang berlangsung. Menariknya, selama di Turki, aku nggak merasakan perubahan signifikan pada kulit wajah. Justru, kulitku terasa lebih plump dan glowing. Hanya saja, kulit tangan memang jadi sedikit lebih kering dari biasanya.
Baca juga: Cobain Serum Canggih dari Brand Lokal yang Bikin Kulit Cerah
Memasuki minggu kedua perjalanan, aku melanjutkan umroh dengan perhentian pertama di Jeddah. Jujur, aku cukup shock karena saat pertama kali sampai, udara sudah terasa humid, tapi anginnya masih cukup dingin. Ketika tiba di Madinah, aku mulai merasakan perubahan pada kulit wajah yang lebih signifikan. Udara terasa jauh lebih panas, meski di pagi hari masih ada angin sejuk. Namun, dari siang hingga sore, suhunya benar-benar terik. Pada fase ini, kulitku masih cukup bersahabat, hanya saja terdapat dry skin di beberapa area.

Sampai akhirnya aku menuju destinasi terakhir yaitu Makkah, di sinilah kondisi kulitku berubah drastis. Tiba-tiba, kulit terasa sangat kering, mulai mengelupas di banyak bagian wajah, bahkan bibir pun ikut pecah-pecah. Sensasi perih juga muncul, terutama setiap kali mencuci muka. Jujur, ini pertama kalinya aku mengalami perubahan kulit se-ekstrem itu dalam waktu singkat.
Kenapa perubahan iklim bisa bikin kulit kering parah?

Sebagai orang Indonesia yang terbiasa dengan udara humid, aku sempat bertanya-tanya, “Kok bisa ya kulitku malah jadi kering banget pas masuk ke udara yang panas?” Selama ini, yang ada di pikiranku, dry skin itu identik dengan cuaca dingin, bukan terik matahari. Sampai akhirnya, di tengah kepanikan karena wajah sudah super merah dan terasa gatal, aku membaca salah satu artikel di Healthline yang membahas soal pengaruh suhu ekstrem terhadap kondisi kulit.
Di artikel tersebut dijelaskan bahwa suhu yang sangat panas maupun sangat dingin sama-sama bisa memengaruhi kondisi kulit, terutama jika skin barrier sedang sensitif. Temperatur panas dapat memperparah iritasi karena panas memicu sensasi gatal dan prickly feeling. Selain itu, keringat yang muncul juga bisa mengundang bakteri dan zat lain menempel di kulit, sehingga memperparah kondisi. Sementara itu, saat musim dingin, kelembapan udara menurun drastis. Udara yang kering bikin kulit lebih mudah kehilangan moisture, sehingga terasa lebih kering dan rentan iritasi.

Intinya, baik panas ekstrem maupun dingin ekstrem, sama-sama bisa menjadi pemicu masalah kulit. Bukan berarti kita nggak bisa menikmati keduanya, tapi kulit memang perlu strategi perawatan yang tepat agar gejala seperti kering, gatal, atau kemerahan bisa diminimalkan. Di situ aku mulai sadar, kulitku bukan sekadar kering biasa, tapi sedang berusaha beradaptasi dengan perubahan suhu yang ekstrem.
Baca juga: Belanja Cuan Sebelum Lebaran, Female Daily Warehouse Sale Hadirkan Diskon up to 80%!
Caraku mengatasi dry and prickly skin dengan moisturizer dan sunscreen

Nah, setelah membaca artikel di Healthline, aku cek lagi produk skincare yang dibawa selama perjalanan. Ternyata, moisturizer yang kubawa hanya satu yaitu LABORE Sensitive Skin Care BiomeRepair™ Barrier Revive Cream. Untuk sunscreen, aku membawa tiga pilihan, mulai dari Heimish Bulgarian Rose Tone-up Sunscreen SPF 50+ PA+++, KAHI Airy Fit Sun Stick SPF50+ PA++++, hingga Wardah UV Shield Physical Sunscreen Serum SPF50+ PA++++.
Selama di Turki, aku lebih sering memakai sunscreen dari Heimish karena efek tone-up-nya bikin wajah terlihat lebih cerah tanpa makeup. Lalu, saat tiba di Madinah, aku beralih ke sun stick dari KAHI karena praktis untuk re-apply. Tanpa aku sadari, dua sunscreen yang paling sering kupakai ini sama-sama memiliki finish matte. Awalnya memang bikin wajah terlihat lebih smooth dan nggak terlalu greasy, tapi di kondisi kulit yang sedang beradaptasi dengan cuaca panas ekstrem, finish matte justru membuat kulit terasa makin kering dan ketarik. Jadi, bukannya salah produknya, aku hanya kurang menyesuaikan dengan kebutuhan kulit saat itu yang sebenarnya lebih membutuhkan sunscreen dengan finish hydrating.

Setelah menyadari kesalahan tersebut, di sisa perjalanan, aku langsung fokus memperbaiki kondisi kulit. Aku mulai rutin menggunakan sunscreen dari Wardah yang terasa lebih melembapkan, serta selalu re-apply moisturizer setelah wudhu. Untuk menjaga kelembapan dan mengurangi rasa perih, aku bahkan menggunakan tiga layer moisturizer dan dua layer sunscreen.
Untungnya, aku juga membawa Wardah Nature Daily Calm & Soothe Micellar Water yang cukup gentle untuk kulit kering, serta Erha Skinsitive Ultracalm Face Wash yang membantu membersihkan tanpa bikin kulit terasa semakin kering. Cara layering moisturizer dan memilih sunscreen yang lebih hydrating ternyata cukup menolong sampai hari terakhir perjalanan. Walaupun masih ada sedikit dry patches dan rasa perih, kondisi kulit sudah jauh membaik, nggak merah dan gatal lagi seperti hari pertama di Makkah.
Baca juga: Bye Kulit Kering Saat Ramadan! Ini Tips Hidrasi yang Wajib Kamu Coba
Dari pengalaman ini, tips dariku untuk kamu yang ingin traveling ke negara dengan cuaca yang berbeda dari Indonesia, jangan pernah lupa membawa moisturizer untuk kulit sensitif, sunscreen yang melembapkan, serta rangkaian skincare yang bisa membantu mengunci kelembapan kulit. Percaya deh, ini akan sangat membantu agar kamu nggak panik atau kebingungan mencari drugstore saat kulit tiba-tiba bermasalah, terutama kalau tempat menginap jauh dari pusat perbelanjaan.
Images: Dok. iStock, Dok. Female Daily/armeliafarah, Dok. Brand



