banner-detik

backstage beauty

Semakin Banyak Beauty Brands Fokus Melayani Gen Z, Apa Kabar Generasi Pendahulunya?

seo-img-article

Semakin banyaknya brand baru bermunculan ternyata tidak menjadikan pilihan produk kecantikan makin beragam, terutama jika dilihat dari segi rentang usia.

Dengan masuknya generasi Z ke dunia kerja, generasi ini tentu jadi semakin punya daya beli, termasuk untuk urusan skincare, makeup, dan produk-produk self-care lainnya. Sekilas mungkin kita akan berpikir bahwa purchasing power Gen Z pasti akan tetap lebih rendah dibandingkan dengan generasi-generasi sebelumnya yang sudah terjun duluan ke dunia profesional. Padahal, sebuah survei yang diadakan Klarna tahun 2021 mencatat bahwa Gen Z jadi kelompok usia pembeli skincare terbanyak di Amerika Serikat.

Baca juga: Lagi Cari Eye Cream untuk Usia 50-an? Perhatikan Hal Berikut

gen Z

Alasannya bisa beragam, termasuk dengan kehadiran media sosial berbasis visual seperti Instagram dan TikTok yang memang banyak dipakai Gen Z. Sebagai generasi yang lahir saat peran internet sudah semakin jadi andalan, bisa dibilang bahwa Gen Z adalah generasi yang paling terekspos dengan banyaknya pilihan produk, tips pemakaian, serta informasi seputar industri kecantikan lainnya.

Karena alasan ini, nggak heran kalau banyak brand yang menjadikan Gen Z sebagai target market mereka. Bukan cuma dari segi branding, elemen visual, serta gaya komunikasi aja, tapi produk-produknya pun dibuat menyesuaikan dengan concern umum Gen Z seperti acne-prone, basic hydration, dan lain sebagainya.

On the other side


Setiap brand tentu bebas menentukan target konsumen mereka, namun ada permasalahan yang muncul ketika industri kecantikan secara serentak menggeser fokus mereka ke generasi yang lebih muda ini: Generasi yang lebih dewasa dapat merasa tidak terwakili dengan pilihan produk yang tersedia di pasaran.

Ketika beauty brands memformulasikan produk, apakah kira-kira mereka mencoba menjawab kebutuhan dari orang-orang seusiamu? Mengutip dari AARP, Survey of Women’s Reflections of Beauty, Image, and Media di Amerika Serikat, 53% Generasi Baby Boomer (lahir 1946-1964) merasa tidak demikian, begitu juga dengan 40% dari Generasi X (lahir 1965-1980).

Di Indonesia sendiri, menurut laporan Badan Pusat Statistik, kurang lebih ada 30,3 juta perempuan yang hidup dalam usia menopause pada tahun 2020. Mungkin tidak semua orang di rentang usia tersebut merupakan skincare and makeup user, tapi nyatanya kelompok usia yang lebih dewasa punya pilihan produk yang lebih sedikit, suatu untapped market di industri kecantikan Indonesia bahkan dunia.

Bagaimana pendapat FD Community?

gen z
Mengenai topik ini, FD sempat menggelar survei kecil-kecilan lewat Instagram Story. 333 orang dari 390 partisipan menganggap target market suatu brand kecantikan sebuah hal yang penting, dan 83% di antaranya membeli produk dengan mempertimbangkan branding dan target market terlebih dahulu sebelumnya.

Beberapa menyampaikan alasannya. Pertama, target market bisa jadi acuan di balik pembuatan produk supaya bisa menjawab kebutuhan dan juga keinginan konsumen yang ingin diincar. Jika suatu brand menargetkan Generasi Baby Boomer atau X misalnya, besar kemungkinan mereka memang menjadikan kondisi kulit pada rentang usia tersebut.

Selain itu, target market yang seringkali terefleksi di branding juga jadi faktor pertama yang paling terlihat, sebelum akhirnya konsumen tertarik untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai produk hingga akhirnya memutuskan membeli. Hal ini memudahkan konsumen juga untuk membedakan produk mana yang memang dibuat untuk usia mereka secara cepat tanpa harus mencari tahu satu persatu di tengah banjirnya pilihan produk saat ini.

Melihat kecenderungan beauty users yang seperti ini, semoga semakin banyak beauty brands baik lokal atau internasional yang menciptakan produk untuk usia-usia lebih mature. Because everyone deserves to feel good in their own skin regardless of how old they are, dan penggunaan beauty products yang tepat sasaran bisa jadi salah satu caranya.

 

 

Image: Freepik, Jakob Owens for Unsplash, Emily Morter for Unsplash.

 

 

Slow Down

Please wait a moment to post another comment