backstage beauty

Inilah 4 Inovasi Internet of Things dalam Beauty Industry!

seo-img-article

Berbagai perusahaan dari berbagai industri semakin berlomba-lomba menjadi yang terdepan dalam memanfaatkan Internet of Things. Bagaimana dengan beauty industry?

 

Internet of Things (biasa juga disingkat menjadi IoT) dapat diterjemahkan secara harfiah menjadi internet untuk segalanya. Konsep dan istilah ini pertama kali dikemukakan oleh Peter T. Lewis saat berpidato dalam Congressional Black Caucus Foundation 15th Annual Legislative Weekend pada tahun 1985. Beliau mendefinisikan IoT sebagai integrasi antar manusia, proses, dan teknologi dengan berbagai perangkat terkoneksi dan sensor yang memungkinkan pengendalian perangkat jarak jauh. 

Elemen utama IoT adalah konektivitas internet yang tersambung terus menerus sehingga memungkinkan transmisi data, contoh sederhananya adalah QR (Quick Responses) code dan RFID (Radio Frequency Identification). Selain konektivitas internet, IoT juga memiliki beberapa elemen lainnya, seperti sensor, perangkat berukuran kecil dengan efektivitas dan stabilitas tinggi, active engagement (keterlibatan aktif) antara perangkat dengan teknologinya, serta AI (Artificial Intelligence) atau kecerdasan buatan yang memungkinkan mesin untuk berpikir dan melakukan analisis selayaknya manusia. 

IoT dapat dimanfaatkan secara ekstensif oleh berbagai industri, mulai dari kesehatan hingga maritim. Saking ekstensifnya, pemanfaatan IoT dapat dibagi menjadi empat kelompok besar: untuk konsumen umum; untuk perusahaan komersial; untuk perusahaan industrial; dan perusahaan infrastruktur. Smartwatch yang kamu gunakan, misalnya, merupakan contoh pemanfaatan IoT untuk konsumen umum.

Menurut Rama Raditya, pendiri dan CEO Qlue, sebuah perusahaan teknologi yang menyediakan ekosistem smart city melalui pemanfaatan IoT dan AI, beauty industry merupakan salah satu industri yang sangat cocok memanfaatkan IoT, karena IoT dapat meningkatkan kecepatan proses transaksi sehingga pengalaman berbelanja konsumen pun menjadi lebih optimal dan menyenangkan, baik melalui kanal offline maupun online. “Saya pikir kalau ada sebuah device berbasis computer-vision yang dapat mendeteksi skin tone demi rekomendasi foundation shade yang tepat dan akurat, pengalaman berbelanja konsumen akan terasa convenient sekali,” demikian Rama mencontohkan.

Internet of Things di industri kecantikan

Guess what, ternyata sudah ada lho sebuah global beauty brand yang berinovasi dan menghadirkan device serupa dengan yang Rama telah contohkan. Ini dia beberapa contoh pemanfaatan IoT yang telah dilakukan oleh beberapa global beauty brand:

 

  • Lancôme – Le Teint Particulier

Pada tahun 2016, Lancôme meluncurkan Le Teint Particulier, sebuah alat yang mampu menganalisis kondisi kulit dan skintone seseorang untuk kemudian dibuatkan customized foundation dengan shade, coverage, dan hydration yang sesuai dengan orang tersebut. Kini, Lancôme menyebarluaskan sekaligus mentransformasi Le Teint Particulier menjadi E-Shade Finder yang menggunakan algoritma berbasis AI dengan 22.000 skintone dalam database-nya.

 

  • La Roche Posay – My UV Patch

Beauty brand yang berdiri sejak 1975 ini meluncurkan sebuah alat sensor UV bernama My UV Patch. Sesuai namanya, bentuknya menyerupai plester yang dapat dilekatkan pada kulit dan bahkan tetap dapat digunakan saat mandi atau berenang. Dengan warna biru khas La Roche Posay dan bentuk hati yang menggemaskan, alat ini dapat mendeteksi paparan tingkat UV dalam sehari sekaligus mengingatkan kita untuk reapply sunscreen. Cocok banget nih untuk orang-orang yang masih malas reapply sunscreen!

 

  • L’Oreal Paris – Makeup Genius

Digadang-gadang sebagai aplikasi virtual mirror pertama, Makeup Genius yang diluncurkan oleh L’Oreal Paris ini mengadopsi teknologi AR (Augmented Reality) yang memungkinkan seseorang untuk mencoba berbagai produk makeup secara virtual. Makeup Genius juga mampu mendeteksi facial feature penggunanya sehingga makeup yang diaplikasikan secara virtual akan terlihat flawless. Ini tentunya sangat membantu untuk menentukan cocok atau tidaknya suatu produk pada skintone yang berbeda-beda.

 

  • YSL Beauty – Rouge sur Mesure

Dengan berbasis Perso Smart Skincare System, luxury beauty brand yang satu ini meluncurkan alat yang mampu menciptakan personalized lipstick shade secara on-demand. Sebagaimana printer yang memiliki cartridge untuk mewadahi tintanya, alat ini juga memiliki cartridge berisi lipstick shade berwarna merah, merah muda, nude, dan orange khas YSL Beauty. Algoritma berbasis AI-nya dapat memberikan tiga personalized shade yang nantinya bisa dicetak dengan brush aplikator. Isn’t it amazing?

Baca juga: 8 Beauty Gadget Canggih yang Layak Dimiliki!

Dari berbagai contoh inovasi di atas, kita bisa melihat bahwa beauty brand berani berinvestasi besar dalam teknologi terkini demi menghasilkan produk yang terpersonalisasi. Memberikan layanan atau produk yang terpersonalisasi memang membutuhkan usaha yang besar dan jumlah data yang sangat banyak, tetapi layanan atau produk yang terpersonalisasi terbukti efektif dalam meningkatkan repeat engagement dan customer loyalty.

Dalam laporannya yang berjudul Next in Personalization, biro konsultasi manajemen global McKinsey mengatakan bahwa personalisasi juga dapat menjadi revenue accelerator, karena perusahaan-perusahaan yang memprioritaskan personalisasi dalam layanan atau produknya terbukti memiliki revenue 40% lebih besar. 

Di sisi lain, pemanfaatan Internet of Things, khususnya di Indonesia, masih memiliki tantangan-tantangan yang cukup krusial. Rama pun mengakui ini. Menurutnya, tiga tantangan terbesar dalam pemanfaatan IoT di Indonesia adalah regulasi, infrastruktur, dan pengadaan bahan mentah. “Regulasi menjadi tantangan, karena peraturan mengenai perlindungan data pribadi belum jelas, sedangkan, bagaimanapun juga, IoT ada kaitannya dengan data pribadi. We also need a good infrastructure for connectivity, but I believe it will eventually come with time.. Sebetulnya pengadaan bahan mentah ini yang paling menantang. Logistically challenging, tepatnya, karena sebagian besar harus diimpor,” paparnya.

Terlepas dari tantangan-tantangan di atas, Rama meyakini bahwa pemanfaatan IoT tetap harus digalakkan demi pertumbuhan bisnis. In fact, it is encouraged for beauty brands to invest in IoT. “Idealnya, sebelum berinvestasi dan berinovasi dalam pemanfaatan IoT, pastikan audiens yang ditargetkan sudah cukup teredukasi mengenai IoT. Suatu teknologi baru bisa saja dipandang berbeda oleh berbagai segmen audiens. Mungkin ada yang memandangnya sebagai sebuah solusi, tetapi ada juga yang memandangnya sebagai intrusi privasi. That’s why, market education is number one,” pungkasnya.

 

Images: Brands, Freepik.

Slow Down

Please wait a moment to post another comment