beauty school

Beautypedia: Ini Dia Perbedaan Squalene dan Squalane!

seo-img-article

 

Skincare dengan kandungan squalane memang sangat menarik, sebab squalane adalah salah satu solusi ampuh untuk masalah kulit kering, jerawat dan tanda-tanda penuaan. Selain squalane, ada pula squalene. Jangan sampai ketukar ya. Yuk, cari tahu perbedaannya!

 

Kamu nggak salah baca, kok. Sekilas, squalane dan squalene memang terdengar mirip. Padahal, keduanya sangat berbeda, lho. Namun, baik squalane maupun squalene, keduanya sama-sama penting dan dibutuhkan oleh kulitmu. Yuk kenalan lebih dalam dengan si kembar squalane dan squalene, biar kamu nggak salah mengenali kedua kandungan ini!

Apa itu squalene?

Dinamakan “squalene”, sebab molekul ini paling banyak ditemukan pada ikan hiu (nama Latin: Squalus), tepatnya dari shark liver oil. Tapi, squalene juga bisa ditemukan pada beberapa tumbuhan, misalnya zaitun, beras, bibit gandum, biji anggur, kacang, tebu, dan kedelai. Sebenarnya, squalene secara alami sudah diproduksi oleh sel kulit kita. Namun, jumlah squalene yang diproduksi oleh tubuh akan berkurang seiring bertambahnya usia.

Squalene berperan sebagai antioksidan yang membantu tubuh untuk melawan radikal bebas yang menyebabkan stres oksidatif. Pada kulit, squalene bermanfaat untuk melindungi organ terluar ini dari polusi dan sinar UV dari matahari yang menyebabkan penuaan dini.

Nggak cuma itu, squalene diyakini dapat meningkatkan daya tahan tubuh, menurunkan kadar kolesterol, mencegah risiko tekanan darah tinggi dan stroke. Selain itu, squalene memiliki manfaat antitumor, serta antikanker. Manfaat squalene ini dapat diperoleh dengan cara mengonsumsinya secara oral, atau dalam kata lain melalui konsumsi suplemen minyak ikan. Namun, sebelum mengonsumsi suplemen squalene, ada baiknya untuk melakukan konsultasi dengan dokter.

Kontroversi penggunaan squalene

Squalene bahkan sempat diperhitungkan sebagai bahan pembuatan untuk vaksin COVID-19, lho! Namun, hal ini ditentang karena squalene paling banyak diekstrak dari liver ikan hiu, dan untuk memproduksi 1 ton squalene, 3000 ekor hiu harus jadi korbanMengutip dari New York Times, sayangnya, squalane yang diambil dari ikan hiu sendiri hingga saat ini masih banyak disalurkan untuk pembuatan kosmetik, yang bahkan nggak lebih penting daripada vaksin.

Baca juga: CT Corp Memberikan Vaksin Covid Gratis untuk Kamu!

Apa itu squalane?

Sebelum digunakan dalam produk skincare, squalene harus melalui proses hidrogenasi, menghasilkan “squalane”. Proses hidrogenasi ini mengonversi squalene dari minyak tak jenuh menjadi minyak jenuh, sehingga lebih aman di kulit dan umur simpannya lebih lama. 

Squalane tidak berwarna, tidak berbau, ringan, bersifat non comedogenic dan lebih stabil dibanding squalene. Squalane juga cocok digunakan untuk semua jenis kulit, termasuk kulit berminyak dan kulit sensitif sekalipun. 

Squalane termasuk kategori dry oil. jadi, jangan cemas, squalane nggak bakal bikin kulit jadi greasy dan menyumbat pori. Fungsi dari squalane ini nggak lain adalah sebagai emollient yang melembabkan kulit, mencegah terjadinya Transepidermal Water Loss (TeWL) dan melindungi skin barrier. 

Squalane punya manfaat antioksidan dan anti-inflamasi yang sama dengan squalene, karenanya, squalane oil juga dapat digunakan untuk mencegah timbulnya tanda-tanda penuaan, serta membantu mengatasi masalah jerawat, psoriasis, hingga dermatitis seboroik.

Baca juga: Punya Kulit Berjerawat? Ini 3 Rekomendasi Face Oil Lokal untuk Kamu!

Apakah squalane sustainable?

Pada dasarnya, squalane berasal dari squalene yang telah melalui proses hidrogenasi, karenanya, squalane dan squalene berasal dari sumber yang sama. Beberapa produk memang masih menggunakan squalene yang bersumber dari shark liver oil. Namun, belakangan ini, sudah banyak pilihan produk yang menggunakan sumber yang lebih sustainable, alias vegan squalene, atau berasal dari tumbuhan. Cek artikel berikut ini kalau kamu butuh rekomendasi produk dengan kandungan Squalane Oil yang sustainable.

Nah, sekarang sudah nggak bingung lagi kan, perbedaan squalene dan squalane? Jangan sampai tertukar lagi, ya!

 

 

 

 

Image: Pexels

Referensi:

Micera, M., Botto, A., Geddo, F., Antoniotti, S., Bertea, C. M., Levi, R., Gallo, M. P., & Querio, G. (2020). Squalene: More than a Step toward Sterols. Antioxidants (Basel, Switzerland), 9(8), 688. https://doi.org/10.3390/antiox9080688

Final Report on the Safety Assessment of Squalane and Squalene. (1990). Journal of the American College of Toxicology, 1(2), 37–56. https://doi.org/10.3109/10915818209013146

Sethi, A., Kaur, T., Malhotra, S. K., & Gambhir, M. L. (2016). Moisturizers: The Slippery Road. Indian journal of dermatology, 61(3), 279–287. https://doi.org/10.4103/0019-5154.182427

saraccil

saraccil

-

Slow Down

Please wait a moment to post another comment