Anak Muda Di Mata Najwa Shihab

1 dekade mata najwa

Di mata Najwa Shihab, peranan anak muda dalam membangun negeri ini menjadi sangat krusial dan harus dipupuk sejak dini.

Sepanjang karier saya selama 11 tahun, rasanya baru pertama kali saya merasa tegang pas mau wawancara seorang narasumber. Perempuan hebat ini bukan seorang makeup artist, CEO sebuah beauty brand, ataupun scientist yang biasa saya wawancara, tapi seorang jurnalis yang kerap kali melontarkan pertanyaan-pertanyaan kritis kepada narasumbernya. Siapa lagi kalau bukan Najwa Shihab, atau yang akrab dipanggil dengan Nana.

Kalau kalian sempat melihat acara Mata Najwa di Trans7 pada tanggal 19 Februari, mbak Nana merayakan 1 dekade hadirnya Mata Najwa, talkshow yang selalu membahas isu-isu menarik. Selain dibuka dengan keseruan para gubernur yang joget Tik Tok dan video WhatsApp kocak dari para menteri kekinian, di tahun ke-10 nya ini, mbak Nana yang juga merupakan Co Founder Narasi, ingin merayakannya dengan melakukan movement “Indonesia Butuh Anak Muda”. Movement yang nggak banyak basa-basi dan digerakkan oleh Narasi ini punya makna yang benar-benar dalam, di mana anak muda diajak bersama-sama #bergerakdari sekarang untuk melakukan perubahan demi Indonesia yang lebih baik ke depannya.

Beruntung, beberapa waktu lalu saya dan Imani punya kesempatan buat ngobrol dengan mbak Nana dan membahas soal hal ini. Jadi, bisa dibilang kami berdua nggak kalah sama para menteri ataupun politisi lainnya, karena kita juga sudah pernah ditatap oleh mata Najwa yang tajam itu!

Kenapa Indonesia Butuh Anak Muda?

1 dekade mata najwa

Sebagai generasi penerus bangsa, tentunya anak muda punya peranan sangat penting untuk mengarahkan masa depan Indonesia ini. Menurut data yang saya dapatkan dari Narasi, saat ini 1 dari 4 penduduk di Indonesia adalah anak muda, yaitu 63,82 juta jiwa (diambil dari BPS, 2019). Pada tahun 2030 menurut Bappenas, jumlah penduduk akan berada pada angka 296,4 juta jiwa. Kelompok usia produktif 25-39 akan berjumlah 65 juta di tahun itu, sedangkan kelompok usia 25-49 berjumlah 105 juta jiwa. Hal ini bukan hanya  menjadi “kabar baik”, tapi juga tantangan besar bagi anak muda di Indonesia.

“Saya sudah pernah bikin konten soal 10 alasan kenapa Indonesia butuh anak muda, dan kalau dilihat dari sejarahnya memang negeri ini tuh didirikan oleh anak muda. Bahkan banyak sekali peristiwa penting di negara ini di mana anak muda terlibat di dalamnya,” ujar Najwa. “Contohnya Sumpah Pemuda yang memang diinisiasi oleh anak-anak muda, yang bersumpah atas nama tanah airnya. Kemerdekaan kita pun terjadi karena ada campur tangan anak muda, lho. Pada saat itu ada peristiwa Rengasdengklok, di mana anak muda datang mendesak Bung Karno untuk memproklamirkan kemerdekaan lebih awal. Belum lagi reformasi 98 yang waktu itu menuntut supaya rezim berganti. Jadi memang berbagai peristiwa penting di negeri ini tuh diniisiasi oleh anak muda. Negeri ini adalah negeri anak muda.”

Menurut mbak Nana, anak muda itu masih punya banyak energi dan kemampuan untuk belajar. Mereka nggak akan ragu untuk mencoba, mengambil risiko, gagal dan mencoba lagi sampai berhasil. “Kita percaya bahwa memang negeri ini butuh dikelola dan diperjuangkan oleh anak-anak muda, yang masih punya banyak energi, nggak takut gagal dan terus berani mencoba. Dan ini juga merupakan salah satu sifat anak muda, selalu mau mencoba hal yang baru.”

Dunia yang berubah karena teknologi juga menjadi salah satu alasan kenapa Indonesia butuh anak muda. “Anak muda yang melek teknologi lah yang paham akan bagaimana bisa mengubah banyak hal di dunia yang bergerak begitu cepat ini. Jadi menurut saya, Indonesia butuh anak muda yang tidak hanya paham teknologi, tapi juga punya kemampuan untuk terus menerus mau belajar hal yang baru. Jadi bukan menguasai skill-nya, tapi anak muda yang terus menerus mau jadi life long learner. Sehingga ketika ada hal baru, dia mau belajar dan bisa menguasai. Learn, re-learn dan unlearn adalah hal yang penting untuk dimiliki anak muda,” tutur Najwa.

1 dekade mata najwa

Mbak Nana juga bercerita, kalau memang anak muda itu lah yang punya kemampuan untuk memilih dan memilah. Karena menurut mbak Nana, sekarang itu sudah semakin banyak informasi yang membingungkan kita, antara memilih mana yang benar dan mana yang salah. Berbeda dengan generasi tua yang tidak terbiasa dengan kecepatan, anak muda ini tidak akan tergagap-gagap saat menyerap berita yang datangnya cepat dan jauh lebih hati-hati menerimanya.

Sebenarnya banyak sekali alasan mengapa Indonesia butuh anak muda, tapi mbak Nana mengatakan bahwa, “Penting sekali digarisbawahi bahwa masih ada juga anak muda yang tidak memiliki sifat-sifat yang selayaknya anak muda miliki. Seperti misalnya, terbiasa dengan perbedaan. Jadi kalau masih ada anak muda yang masih menghakimi orang lain karena sebuah perbedaan, maka itu bukan anak muda, tapi orang yang kadaluarsa,” tegas Najwa.

3 Sifat yang Harus Dimiliki Anak Muda Indonesia

Sebagai generasi yang nantinya bakal menentukan masa depan Indonesia, mbak Nana bercerita kalau anak muda yang dia harapkan adalah orang yang punya sifat life long learner, bisa menggalang solidaritas dan mau berkolaborasi, serta memiliki GRIT atau ketahanan.

“Selain harus mau belajar karena banyak banget hal baru di dunia ini dan nggak takut sama kegagalan, anak muda juga kan sekarang sudah lebih mudah berteman dengan siapa saja, bahkan dari seluruh dunia. Jadi anak muda yang dengan mudah bisa berkolaborasi untuk mencapai tujuan dan menggalang solidaritas tentu jadi sifat yang harus dimiliki untuk membangun negeri ini. Kompetensi juga harus dibangun, dan kalau nggak berhasil kita harus gigih untuk mencoba kembali,” jelas Najwa.

Girls Support Girlsindonesia butuh anak muda

Mbak Nana mengatakan bahwa di tengah kompetensi yang makin sengit terjadi, seringkali perempuan menganggap rendah kemampuan kita sendiri. Oleh karena itu perempuan harus terus diberikan dorongan. “Karena itu sangat penting untuk perempuan salih support satu sama lain. Seringkali tanpa kita sadari, perempuan lah yang jadi perundung perempuan lainnya. Mungkin hal ini juga disebabkan karena sejak dulu kesempatan kita untuk berkembang atau mencari posisi tertentu sangatlah terbatas. Sehingga kita merasa harus saling sikut untuk mencapai sebuah posisi. Jadi secara tanpa sadar, kita kalau melihat perempuan lain yang sukses, bukannya bertepuk tangan untuk dia, malah justru khawatir akan kesempatan kita sendiri yang semakin kecil,” jelasnya. “Jadi hal yang penting banget untuk dilakukan sama perempuan adalah harus saling support, tidak melihat keberhasilan orang lain sebagai kegagalan kita, dan harus saling mendorong rasa percaya diri satu sama lain.”

Kalimat yang cukup nempel di kepala saya dari obrolan kami soal perempuan ini adalah, “Jadi perempuan harus berani bicara, harus berani nego gaji pertama, minta promosi, dan jangan takut menunjukkan kalau punya ambisi.”

Dunia Kecantikan Itu Cetek?

Stigma soal cantik itu bodoh, cantik itu cetek kadang masih digaungkan oleh orang-orang. Tapi ternyata mbak Nana nggak melihatnya seperti itu. “Saya nggak melihat dunia kecantikan itu cetek. Bahkan kalau saya lihat, anak-anak muda yang sekarang bergerak di dunia kecantikan itu nggak mengkampanyekan cantik fisik sih. Sekarang kita bicara cantik luar dalam, cantik bukan hanya tampil menarik tapi juga bagaimana kita bisa membuat orang lain tertarik pada apa yang ada di dalam diri kita. Sekarang saya lihat kampanye kecantikan juga nggak membahas hanya sebatas kecantikan dari luar saja sih, tapi sudah lebih luas lagi daripada itu, dan hal ini sangat penting untuk terus disuarakan. Menurut saya, nggak ada cukup banyak makeup yang bisa membuat kamu nyaman dengan diri kamu sendiri, kalau kamu sendiri nggak percaya sama diri sendiri.” 

Pentingnya Dukungan Beragam Paltform

1 dekade mata najwa

Movement Indonesia Butuh Anak Muda ini juga ternyata ditopang oleh empat pilar topik yang jadi fokus utama, yaitu Peduli Bumi, Bijak di Internet, Budaya Populer, dan Cerita Manusia. Sehingga pada acara 1 dekade Mata Najwa yang digelar di Ciputra Artpreneur, Jakarta beberapa hari lalu, Narasi mengemas movement ini dalam sebuah kombinasi antara conference, community talks dan exhibition. “Kita harapkan, orang yang datang nggak cuma dapat pemahaman tapi juga mendapatkan ide untuk bergerak membangun Indonesia dengan cara mereka masing-masing.” Di perayaan kemarin ini hadir juga banyak lembaga atau foundation yang memang selama ini sudah punya gerakan-gerakan di bidang tertentu, sehingga para anak muda yang datang bisa sign up dan terlibat dalam kegiatan dari foundations tersebut untuk bersama-sama membangun Indonesia yang lebih baik ke depannya. Mbak Nana juga bilang kalau WWF, Change.org, Hukum Online, ICW, Jouska, hingga Dompet Dhuafa merupakan beberapa foundation yang turut berpartisipasi dalam movement ini.

Pesan Najwa Untuk Para Calon Pemimpin

1 dekade mata najwa

Pada akhirnya tentu generasi muda lah yang akan menjadi para pemimpin dunia nantinya. Saya sempat bertanya, apakah seorang Najwa Shihab memiliki pesan yan ingin disampaikan kepada para calon pemimpin ini? “Menjadi seorang pemimpin itu harus bisa menggerakkan orang lain. Karena sekarang sudah bukan jamannya lagi tuh pemimpin yang nyuruh-nyuruh. Yang bisa didefinisikan sebagai seorang pemimpin adalah orang yang bisa menggalang solidaritas, menentukan agenda bersama, dan kemudian mengajak serta meyakinkan orang bahwa ini adalah agenda penting yang harus diwujudkan bersama,” jawabnya.

Mbak Nana juga cerita kalau menurutnya anak muda memang harus punya kualitas pemimpin yang seperti itu, bahkan harus dilatih sejak kecil. Caranya juga beragam, bisa dengan terlibat di berbagai macam organisasi, kegiatan saat menjadi mahasiswa, sehingga kita bisa melihat apa yang terjadi di luar tembok kampus. “Calon pemimpin juga harus aware dan peduli dengan isu-isu publik. Jangan berpikir kalau politik itu hanya isu yang harus diperhatikan oleh para pejabat negara, atau merupakan isu lima tahun sekali saja. Karena sebenarnya politik itu kebijakan publik sehari-hari yang harus kita perhatikan. Jadi, peduli, terlibat dan mau turun tangan menurut saya adalah cara kita latihan untuk menjadi pemimpin,” tutup Najwa di akhir obrolan kami beberapa waktu lalu.