Pernah Diperkosa, Tapi Tetap Bertahan

“Rape is the only crime in which the victim becomes the accused” – Freda Alder 

Ini terjadi pada teman dekat saya yang sudah saya kenal dari sejak kecil. Seorang yang saya kenal baik sebagai seseorang yang ceria dan ramah. Tapi siapa sangka, satu kali dirinya terkena suatu ‘musibah’ yang merubah hidupnya selamanya. Yes, she’s been raped. Tapi untuk membantu perempuan yang di luar sana yang pernah mengalami hal yang sama tapi nggak berani cerita, teman saya bersedia untuk sharing mengenai pengalaman yang dialami. So, here it goes:

sadhguru-isha-wisdom-article-image-what-is-the-reason-for-rape-youth-and-truth

Sumber Foto: isha.sadguru.org

Sebut saja namanya A. Kejadiannya terjadi 4 tahun lalu ketika A masih berumur 17 tahun. Kalau di benak kalian terbayang seorang gadis 17 tahun yang menggunakan pakaian terbuka, memiliki pergaulan yang bebas, serta punya banyak mantan sana-sini, tapi A jauh dari figur tersebut. A adalah seorang perempuan yang baik, berpakaian sopan, pacaran pun juga sewajarnya saja.

Baca juga: Mengerti Mental Health dan Cara Menghadapinya

Gimana kronologi kejadiannya?

“Mungkin akan ada banyak yang nggak percaya dengan cerita yang akan saya ceritakan, tapi ini yang benar-benar terjadi. Awalnya saya nggak pernah tahu kalau saya hamil. Saya bahkan nggak sadar kalau saya sudah diperkosa. Saya cuma tahu, saat itu di bulan Januari, pola datang bulan saya mulai aneh. Sekitar 3 bulan hingga bulan Maret saya nggak menstruasi sama sekali. Tapi karena nggak pernah merasa ‘tidur’ dengan orang lain, saya nggak kepikiran hamil. Akhirnya saya cek ke dokter umum aja untuk diperiksa. Di situ dokter cuma bilang kalau saya kelelahan dan terlalu stres. Berhubung saat itu memang lagi masa-masa UN, saya percaya. Akhirnya saya pulang dengan membawa obat pelancar haid. Memang sih, setelah minum obat itu, saya tetep nggak datang bulan. Tapi ada flek-flek darah yang mulai keluar, tapi saya nggak anggap itu sebagai sesuatu yang serius.”

Lho, memangnya perut kamu nggak kelihatan membesar?

” Kebetulan memang kehamilannya tergolong kehamilan yang kecil, jadi nggak bikin perut terlihat besar. Tapi di satu titik, mama saya memang sempat curiga karena kondisi perut saya aneh. Mama saya pun sama sekali nggak curiga kalau saya hamil. Toh, saat itu saya memang lagi nggak berpacaran atau berhubungan dengan siapapun. Tapi mungkin feeling seorang Ibu ya, dirinya tetap khawatir kalau di perut saya ada tumor atau miom, yang mengganggu kelancaran datang bulan saya. Nggak pakai lama saya langsung di bawa kerumah sakit untuk cek ke dokter. Nah, di sini baru saya di periksa secara detail, sampai ke USG.

Titik saat saya dan Mama saya ada di dokter, ini adalah momen di mana hidup saya berubah selamanya. Setengah nggak percaya waktu dokter bilang ada bayi di perut saya yang sudah berumur 7 bulan. Ya, 7 bulan. Jadi selama 7 bulan saya hamil, saya nggak pernah sadar kalau saya hamil. Memang sih, ada saatnya saya ngidam banget sama sesuatu, tapi nggak pernah kepikiran karena hamil. Ajaib ya? Waktu diberi tahu dokter saat itu saya nggak bisa nangis karena setengah nggak percaya. Sedangkan Mama saya, dia breakdown saat itu juga. Tapi saya bersyukur Mama saya nggak langsung menuduh saya yang aneh-aneh. Beliau percaya sama saya kalau saya benar-benar nggak pernah dengan sengaja ‘tidur’ dengan orang. Walaupun sempet breakdown, tapi sebagai seorang Ibu, saya tahu dirinya berusaha untuk tetap tegar di depan saya.”

perkosa

Sumber foto: dhakatribune.com

Jadi, siapa pelakunya?

“Pelakunya ternyata adalah mantan saya. Nggak langsung ketawan memang, ternyata waktu kejadian, saya dibius total sehingga nggak sadar. Modusnya mau balikin payung yang pernah dipinjam sekalian ajak ngobrol-ngobrol. Karena nggak curiga sama sekali dan berhubung saat itu masih sore, akhirnya saya makan bareng dan nggak sadar kalau makanan saya sudah diberikan obat tidur. Setelah makan, saya naik mobilnya dan langsung ketiduran. Kalau diingat-ingat, waktu turun dari mobil dan sampai di rumah, saya memang melihat ada bercak darah yang keluar. Tapi saya nggak nyangka kalau itu adalah selaput darah, saya kira itu tanda-tanda saya mau haid. Pelaku akhirnya mengaku setelah 7 bulan setelah kejadian, ketika didesak untuk mengaku.”

Baca juga: FD Babes Bahas Soal Mental Health? | FD Babes

Menurutmu, apa hal terberat yang harus kamu hadapi setelah mengetahui?

“Awalnya, hal yang paling berat adalah menerima kenyataan dan mencoba mengampuni. Setelah dapat berita kehamilan saya, sekitar 2 minggu saya merasa ada di awang-awang, nggak percaya dengan yang terjadi. Belum lagi cibiran dari orang-orang di sekitar yang nggak mengerti dengan kondisi saya. Beberapa nggak percaya dan bilang saya bohong. Saya juga sudah berada di ujung ambang depresi saat itu. Setiap malam saya cuma bisa menangis, merasa masa depan saya sudah hancur. Biasanya yang paling menghantui saya juga adalah perasaan bersalah yang mendalam. Saya merasa bersalah karena sudah merepotkan keluarga saya. Kami sekeluarga langsung pindah rumah waktu itu karena harus menjauh dari lingkungan sekitar. Waktu pindah pun, nggak sedikit yang ngomongin. Tapi untung banyak juga yang support dan membantu. Saya juga ada pernah dititik kalau saya nggak ada, mungkin keluarga saya akan lebih bahagia dan nggak direpotin karena saya. Berat juga karena saya nggak bisa menjalani kehidupan seperti teman-teman saya yang lain.”

Apa yang membuat kamu bertahan?

“4 tahun berlalu setelah saya mengalami kejadian tersebut. Saat itu yang buat saya bertahan adalah keluarga saya yang selalu support saya. Saya juga punya beberapa teman yang tahu tentang hal ini dan mereka masih dengan tulus mengasihi saya. Di waktu masa-masa terberat saya, setiap malam saya hanya berdoa dan menangis, didampingi dengan ibu saya yang juga ikut menangis dan turut mendoakan bayi saya. Hal ini yang membuat semua pikiran-pikiran negatif dalam benak saya hilang, karena ada Tuhan dan support system di sekitar saya. Sekarang anak saya sudah berumur 4 tahun. Setelah masa-masa berat itu lewat, sekarang kalau liat anak ini saya malah bersyukur dengan kehadirannya di bumi yang membawa sukacita bagi keluarga. Agak ajaib sebetulnya anak ini bisa lahir dalam kondisi sehat, padahal keberadaannya selama 7 bulan tidak disadari. Tapi sekarang saya percaya anak ini adalah berkat Tuhan.”

Pesan apa yang kamu ingin sampaikan buat para perempuan yang mengalami hal serupa?

“Buat kamu yang mungkin mengalami hal yang sama, ini ada beberapa tips yang bisa saya sampaikan. Pertama, berusahalah memaafkan diri sendiri. It’s not your fault, nggak ada yang bermasalah dengan diri kamu.  Semua sudah terjadi di masa lalu, sekarang saatnya kamu melangkah. Ingat kalau cobaan yang kamu hadapi, nggak akan pernah lebih dari kekuatanmu.

Kedua, nggak usah berekspektasi semua orang akan mengerti dengan masalah yang kamu alami. Akan selalu ada orang-orang yang berkomentar negatif, dan akan jadi hal terbodoh yang kita lakukan kalau kita berusaha membuat semua orang mengerti dan nggak ngomong hal buruk tentang kita. Kamu cukup memiliki 1 atau 2 orang saja yang kamu percaya untuk kamu cerita, dan jangan lupa berdoa sama Tuhan agar kamu diberi kekuatan.

Baca juga: Anxiety and other Mental Health Issues

Ketiga, kasihilah anak itu dengan segenap hati. Kamu nggak perlu berhubungan lagi dengan pihak pelaku, tapi setidaknya cobalah berdamai dengan dirimu sendiri . Kalau kamu belajar memahami kalau segala sesuatu terjadi demi mendatangkan kebaikan, kamu akan punya perspektif yang berbeda. Saya tahu memang butuh proses, tapi itu yang saya alami ketika saya akhirnya sangat bersyukur punya anak ini.”

spectrum_speakingout1

Sumber Foto: californianfamily.org

A dan anaknya sekarang menjalani kehidupan seperti biasa. Bahkan jujur, saya sendiri pun merasa amazed dan kagum dengan respon A dalam menghadapi apa yang telah menimpa dirinya. Sekarang A sudah lulus kuliah dan bekerja di salah satu bank ternama di Indonesia. Anaknya juga tumbuh sehat jadi anak yang ceria, dan dikasihi oleh keluarga dan orang-orang disekitarnya.

So girls, if you’re out there, dan kamu mungkin ngalamin hal yang sama, it’s not the end of your life. Masih ada harapan buat masa depan kamu! Perjalanannya nggak akan gampang, tapi nggak berarti mustahil untuk dilalui. Sekarang pun, saya sama sekali nggak melihat A sebagai ‘korban’ pemerkosaan, I see her as a survivor. 

Terimakasih banyak A karena sudah berbagi cerita kehidupannya!