Perkembangan Brand Skincare Lokal di Tahun 2018

Perkembangan makeup lokal sudah makin bagus, gimana kalau skincare lokal?  Berikut pandangan tim editorial Female Daily, mengenai brand skincare lokal.

Setuju dong, kalau saya bilang perkembangan brand lokal itu sudah jauh lebih membaik di tahun 2018 ini? Karena sekarang, brand lokal nggak lagi hanya fokus di liquid lipstick saja, tapi sudah mulai berkembang ke produk-produk complexion seperti bedak, foundation dan juga primer dengan formula yang bagus. Memang belum maksimal banget seperti di luar, tapi at least sudah menuju arah yang lebih baik.

Nah, di tahun 2018 ini yang mulai dicari itu nggak hanya produk makeup, tapi pembaca dan penonton Youtube Female Daily, mulai nyari produk skincare lokal yang bagus dan bisa menyaingi produk dari luar negeri. Kalau di tahun 2016 hingga 2017 masih susah mencari produk skincare dengan ingredients yang oke, tahun ini makin banyak brand skincare lokal yang bagus-bagus. Kalau ngomongin brand skincare lokal yang beneran fokusnya menghadirkan produk-produk perawatan wajah, yang muncul di kepala saya adalah Skin Dewi. Skin Dewi adalah sebuah brand yang fokus menghadirkan rangkaian skincare dengan bahan natural yang bisa dipakai untuk permasalahan kulit sensitif dan dermatitis atopik. Yang kedua, ada brand Elsheskin yang punya banyak rangkaian skincare untuk kulit berjerawat.

Menurut saya kedua brand ini lumayan menabrak tren beauty di Indonesia, karena pas lagi ramai-ramainya bermunculan brand lipstick lokal atau makeup lokal baru, mereka malah rilis rangkaian skincare. Jadi, saya memutuskan untuk interview kedua brand owner Elsheskin dan Skin Dewi:

Skincare Lokal-3

Kenapa memilih untuk rilis khusus produk skincare?

Cyntha, CEO Elsheskin

“Karena empat tahun yang lalu belum banyak skincare lokal yang mengeluarkan produk fokus untuk jerawat.”

Dewi Kauw, CEO Skin Dewi

“Skin Dewi itu di dirikan karena awalnya saya kesulitan cari produk yg cocok untuk anak saya yang baru lahir dan punya permasalahan atopic dermatitis. Di saat saya mulai belajar formulasi dan mulai eksperimen, saya baru tahu kalau orang kulitnya sensitif dan alergian, you can be sensitive or allergic to anything. Bahkan dengan bahan natural atau organik sekalipun. Karena itu, saya ngerasa mendapatkan panggilan untuk give back to society and share my knowledge. Makanya, saya mulai mengadakan workshop skincare DIY.
Kalau ditanya kenapa nggak bikin lipstick atau makeup? Karena memang kita bukan mengejar tren, tapi tujuan mau provide values untuk orang-orang yang sedang membutuhkannya. We want to be a tool for people who want to help themselves. — this is Skin Dewi’s mission. And that I learnt so much from the whole experience and because of this, I actually found my life purpose and passion and learn to give back.” 

Saat pertamakali launching apa sih yang ingin kamu bawa ke pasar yang kamu rasa kurang untuk Indonesia?

Cyntha, CEO Elsheskin
“Value! Banyak orang beli produk skincare tanpa konsul atau tanpa tahu itu sesuai apa nggak dengan kebutuhan kulitnya. Setelah beli produk, banyak yang kebingungan apakah sudah benar penggunaannya, apakah progressnya sesuai, atau kalau dicampur dengan produk lain apakah cocok atau tidak. Nggak jarang juga, consumer yang nggak paham mengenai ingredients. Jadi di Elsheskin, kalau mau beli produk harus melakukan konsul dan didampingi selama pemakaian. Kami juga memberikan edukasi tentang bahan-bahan dan cara merawat kulit yang tepat. Kami juga menawarkan produk yang kami bikin dengan serius dan berkualitas. Karena fokus kami adalah ketika pakai Elsheskin ada value yang didapat oleh costumer. Jadi bukan hanya jual produk saja.”

Dewi Kauw, CEO Skin Dewi

A local skin care that works (we can see the result) dan non medicated (seperti ke dokter gitu misalkan). Most of all customers itu diedukasi dengan baik, dengan seluruh konten skincare-nya itu are fully declared on the label. Second, mau ada produk lokal yang bisa menyaingi internasional dari segi kualitas dan branding. Sebenernya skincare di indonesia kan marketnya besar banget, yah dan growing banget, makanya banyak sekali merk dari luar mau launching dan jualan di indonesia. Tapi, sayangnya belum ada produk lokal yang menonjol dan bisa compete dengan produk-produk luar ini.
Selain dari itu, saya juga mau a clean and green product – which is still quite rare di indonesia.”

Sekarang setelah launching gimana tanggapannya dari consumer?

Cyntha, CEO Elsheskin
“Alhamdulillah responnya baik banget sih dari consumer. Nggak ketinggalan kami juga selalu mendengarkan kritikan dan saran buat Elsheskin agar kami bisa terus upgrade sehingga Elsheskin bisa lebih baik lagi.”

Dewi Kauw, CEO Skin Dewi

“Awalnya agak struggling utk diterima oleh pasar lokal karena, pertama nggak menggunakan parfum. Karena kami memilih untuk menggunakan all naturals essential oils dan beberap bahan natural yang memiliki wangi asli dari ektraknya seperti kunyit dan temulawak, jadi banyak sekali orang yang komentar baunya herbal sekali.
Faktor harga. Banyak sekali yang kaget dengan harga produk skincare kami yang menyayingi merk internasional. Banyak yang mikir “Lokal kenapa mahal?” Tapi thanks to many local media dan influencers support, sekarang konsumen lebih banyak yang bisa menerima terutama setelah liat banyak hasil yang baik oleh pioneer yang sudah mencoba produknya.
Customer banyak positive feedback, karena kami berusaha untuk edukasi dan bukan hanya sekedar jualan produk. Banyak juga yang mengikuti tip-tips kami merasakan improvement di kulitnya, jadi banyak yang responsnya sangat positif ke kami. But we believe that good skin comes from the inside, so we really encourage people to fix your inner first.”

What’s your background? Are you a cosmetic chemist?

Cyntha, CEO Elsheskin
“Kebetulan bukan, tapi saya  terobsesi dengan dunia skincare dan kosmetik. Namun untuk pengembangan produk Elsheskin sendiri kita punya tim R&D dan chemist sendiri.”

Which products are you most proud of?

Cyntha, CEO Elsheskin
“Boleh sebut semua gak? hehe. So far, yang paling bangga adalah Acne series, serum dan deep cleansing, lip treatment, dan matte lipstick.”

Dewi Kauw, CEO Skin Dewi
“Ahhh this is very hard! Hmm, menurut aku cleansing milk, karena banyak feedback bagus dari orang-orang yang pakai ini. Tapi i’m also very proud of my lip balm haha. Psstt, aku juga lagi develop shower balm, sabun mandi yang melembabkan banget, hopefully this can be my proudest product nantinya.”