
Kulit kepala mengelupas belum tentu ketombe. Kenali penyebab kulit kepala kering, pemicunya, serta cara mengatasinya dengan tepat.
Sebagai pengguna hijab, salah satu masalah rambut yang sering dibahas adalah kulit kepala lembap dan gampang berminyak. Nah, in my case justru kebalikannya. Kulit kepalaku sering terasa sangat kering dan tight, bahkan sampai ada “bongkahan” kulit kepala yang mengelupas. Kamu pernah mengalami juga?
Banyak orang langsung menyimpulkan bahwa itu adalah ketombe, lalu memakai sampo anti ketombe tanpa tahu penyebab sebenarnya. Padahal, kulit kepala mengelupas bisa disebabkan oleh beberapa kondisi berbeda. Ada yang hanya karena kulit kepala terlalu kering, ada yang karena ketombe, dan ada pula yang merupakan dermatitis seboroik. Masing-masing memerlukan penanganan yang sedikit berbeda. Mari kita bahas satu per satu.
Baca juga: Ketombe Sulit Hilang? Coba Beralih ke 5 Sampo Anti Ketombe Ini!
Kulit kepala, seperti kulit di bagian tubuh lain, terus memperbarui diri atau beregenerasi. Sel kulit mati lepas secara alami dan biasanya nggak terlihat. Pengelupasan baru tampak jelas ketika proses ini terganggu, misalnya saat kulit kehilangan terlalu banyak kelembapan atau mengalami peradangan, sehingga sel-sel mati lepas dalam gumpalan yang lebih besar dan terlihat sebagai serpihan.
Kondisi ini diperburuk oleh cuaca kering, paparan AC terus-menerus, keramas dengan air panas, sampo yang terlalu keras, kurang minum air, serta bertambahnya usia. Selain itu, kondisi kulit seperti psoriasis, eksim, atau infeksi jamur kulit kepala (tinea kapitis) juga bisa jadi penyebabnya.
Jawabannya, tidak. Kulit kepala mengelupas adalah gejala, bukan diagnosis, dan ketombe hanyalah salah satu kemungkinan penyebabnya. Pada kulit kepala kering, serpihannya kecil, putih, dan kering, kulit terasa kencang, serta gatalnya ringan. Pada ketombe, serpihan tampak putih hingga kekuningan, dan kulit kepala cenderung berminyak tanpa kemerahan yang jelas.
Ketombe berkaitan dengan jamur Malassezia, yang secara alami hidup di kulit kepala namun pada sebagian orang memicu iritasi dan pergantian sel kulit yang lebih cepat. Karena gejalanya sering tumpang tindih, diagnosis yang pasti sebaiknya didapatkan dari dokter bila keluhannya nggak kunjung membaik.

Dermatitis seboroik adalah peradangan kulit kronis yang umum, terutama di area yang kaya kelenjar minyak, dan kulit kepala adalah area yang paling sering terkena. Yang membuat berbeda dengan ketombe, dermatitis seboroik menimbulkan kulit kemerahan, sisik berminyak berwarna putih atau kekuningan yang kadang membentuk kerak, serta gatal atau rasa panas. Kondisi ini juga bisa muncul di alis, kelopak mata, sisi hidung, belakang telinga, dan dada. Dermatitis seboroik nggak menular dan bukan tanda kebersihan yang buruk.
Penyebab pastinya belum sepenuhnya dipahami. Faktor yang dianggap berperan adalah reaksi berlebihan tubuh terhadap jamur Malassezia yang memakan minyak kulit, respons imun yang memicu peradangan, serta faktor genetik dan hormon. Kondisi ini cenderung hilang timbul. Pemicu kekambuhan yang sering dikaitkan antara lain stres, kurang tidur, udara dingin dan kering, keramas yang terlalu jarang, produk beralkohol atau yang mengiritasi, bahkan kelelahan.
Untuk kulit kepala kering, gunakan sampo yang lembut tanpa pewangi kuat atau sulfat yang harsh, keramas dengan air suam-suam kuku, dan atur frekuensi keramas agar kulit kepala nggak terlalu kering maupun terlalu kotor. Pilih juga hydrating conditioner atau hair mask yang bisa digunakan di kulit kepala. Sampo anti-dandruff bisa kamu gunakan dengan intensitas yang nggak terlalu sering agar kelembapan kulit kepala tetap seimbang.
Selain itu, karena faktor-faktornya juga nggak selalu dari eksternal, lifestyle adjustment juga bisa dilakukan untuk membantu meredakan kondisi ini. Misalnya dengan mengurangi konsumsi gula, tidur dan minum air yang cukup, serta mengatur level stres.
Baca juga: Sandwich Hair Method, Trik Keramas yang Bikin Rambut Lembut dan Sehat
So, nope, kulit kepala mengelupas nggak selalu berarti ketombe. Kalau kondisinya mulai terasa mengganggu dan butuh penanganan khusus, jangan ragu untuk konsultasikan ke dokter spesialis kulit, ya.
Images: iStock