
Melalui Hairducation dan Beauty for a Better Life, L’Oréal Indonesia mendukung pengembangan talenta kecantikan lewat pelatihan guru vokasi. Serta pendampingan perempuan dari kelompok rentan sosioekonomi.
Industri kecantikan membutuhkan tenaga profesional yang tidak hanya terampil, tetapi juga memahami perkembangan teknik, produk, dan standar pelayanan. Untuk mempersiapkan talenta yang kompeten, peran pendidik menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Guru dan trainer tidak sekadar membagikan keterampilan teknis! Tetapi juga membantu peserta membangun kepercayaan diri dan mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja.
Dalam rangka memperingati World Teachers’ Day atau Hari Guru Sedunia, L’Oréal Indonesia menyoroti kontribusi para beauty educators melalui dua program, yaitu Hairducation dan Beauty for a Better Life (BFBL). Keduanya menyasar kelompok berbeda, mulai dari guru sekolah menengah kejuruan (SMK) hingga perempuan dari kelompok rentan sosioekonomi. Melalui program ini, L’Oréal Indonesia berupaya memperluas akses terhadap pelatihan kecantikan sekaligus mendukung pengembangan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri.
Baca juga: Tasya Farasya dengan Makeup ala Victoria’s Secret Angels, Perpaduan Soft Glam dan High Glam

Diluncurkan pada 2017 melalui kerja sama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Hairducation berfokus pada pengembangan kompetensi guru SMK tata kecantikan. Program ini memberikan pelatihan mengenai teknik terkini, inovasi produk, standar keselamatan, hingga pelayanan konsumen agar materi pembelajaran semakin relevan dengan perkembangan industri.
Hairducation tersebut telah melatih 88 guru dari 46 SMK negeri di berbagai daerah di Indonesia. Para guru tersebut turut mempersiapkan lebih dari 4.200 lulusan untuk memasuki industri tata rambut profesional. Salah satu pendidik yang mengikuti pengembangan kompetensi tersebut adalah Ibu Made Sumiati, guru tata kecantikan di SMKN 3 Bogor. Ia telah mengajar tata rambut selama puluhan tahun dan mendapatkan kesempatan memperdalam pemahaman tentang hair science, termasuk anatomi rambut dan proses pewarnaan.
Pengetahuan tersebut membantunya menjelaskan bukan hanya cara melakukan teknik tertentu, tetapi juga alasan di balik setiap tahapan. Dengan begitu, murid dapat memahami proses kerja secara lebih menyeluruh dan tidak sekadar menghafal prosedur.
Ibu Made juga mengembangkan materi pembelajaran berupa presentasi dan video saat pandemi, menulis buku Pemangkasan dan Pewarnaan Rambut untuk Kelas XI yang telah memiliki ISBN, serta menghadirkan pengalaman belajar yang lebih dekat dengan industri melalui kunjungan ke L’Oréal Professionnel Academy dan kelas bersama guru tamu.
Baca juga: 6 Buah yang Bagus untuk Kulit agar Tampak Cerah dan Glowing Alami

Selain pendidikan vokasi formal, L’Oréal Indonesia menjalankan Beauty for a Better Life sejak 2014. Program ini ditujukan bagi perempuan dari kelompok rentan sosioekonomi melalui pelatihan tata rambut dan rias, disertai modul bimbingan sosial berbasis empati.
BFBL memiliki 12 pusat pelatihan dan melibatkan 12 trainer yang bekerja sama dengan lembaga sosial nirlaba. Dengan kurikulum tata rambut dan rias berstandar internasional, program ini telah menjangkau lebih dari 7.200 peserta.
Salah satu trainer yang terlibat adalah Ibu Achadiningtyas atau Ibu Aca di BFBL Training Center Cianjur. Dengan pengalaman sekitar 45 tahun di industri kecantikan, ia telah menjadi trainer BFBL sejak 2015 dan membantu melatih serta meluluskan sekitar 4.800 peserta.
Dalam mendampingi peserta, Ibu Aca menghadapi beragam latar belakang dan tantangan. Karena itu, ia menyesuaikan cara mengajar dengan kebutuhan peserta, menyederhanakan materi jika diperlukan, serta membantu mereka membangun kepercayaan diri untuk memanfaatkan keterampilan yang dipelajari.
Pendampingannya juga dapat berlanjut setelah pelatihan berakhir. Pemilik salon, termasuk alumni BFBL yang telah membuka usaha, terkadang menghubunginya untuk meminta rekomendasi lulusan yang siap bekerja. Hal ini memperlihatkan bagaimana pengalaman dan jaringan trainer dapat membantu peserta menjajaki peluang kerja.

Kisah Ibu Made dan Ibu Aca turut menunjukkan dua pendekatan dalam pengembangan talenta kecantikan. Melalui pendidikan vokasi, guru membantu murid memahami teknik dan standar industri. Sementara itu, melalui pelatihan berbasis komunitas, trainer mendampingi peserta mengembangkan keterampilan yang dapat menjadi bekal untuk mencari pekerjaan atau membangun usaha.
Hairducation dan BFBL memiliki sasaran yang berbeda, tetapi sama-sama menempatkan pendidik sebagai bagian penting dalam proses pengembangan keterampilan. Dukungan terhadap guru dan trainer juga membantu memastikan bahwa pembelajaran tidak berhenti pada penguasaan teknik. Tetapi turut memperhatikan kesiapan peserta untuk menerapkannya.
Melalui kedua program tersebut, L’Oréal Indonesia terus mendukung pengembangan talenta kecantikan di Indonesia. Dalam momentum World Teachers’ Day, kontribusi para beauty educators menjadi pengingat bahwa akses terhadap pendidikan dan pendampingan dapat membuka kesempatan bagi lebih banyak orang untuk mengembangkan potensi mereka.
Image: dok. Brand