ic-fd

Efek Kortisol Tinggi di Badan yang Perlu Kamu Waspadai, Bukan Cuma Soal Stres

health wellness
author

sarahpatricias・in 5 hours

detail-thumb

Kortisol tinggi nggak selalu berarti kamu sedang banyak pikiran. Hormon ini juga bisa meningkat ketika tubuh menghadapi berbagai jenis tekanan, termasuk kurang tidur, aktivitas fisik berat, atau kondisi tertentu.

Kortisol dikenal sebagai hormon stres karena membantu tubuh menghadapi situasi yang membutuhkan respons cepat. Hormon ini sebenarnya punya peran penting, mulai dari membantu mengatur gula darah hingga mendukung tekanan darah dan metabolisme. Masalah dapat muncul ketika kadar kortisol terlalu tinggi dalam waktu lama. Lantas, apa saja efek kortisol tinggi di badan?

Bisa Mengganggu Kualitas Tidur

kortisol tinggi

Salah satu efek yang mungkin terasa adalah perubahan pola tidur. Kortisol secara alami mengikuti ritme harian dan umumnya lebih tinggi pada pagi hari, kemudian menurun menjelang malam. Ketika regulasinya terganggu, seseorang bisa lebih sulit tidur, sering terbangun, atau merasa kurang segar ketika bangun.

Kurang tidur kemudian dapat membuat tubuh semakin sulit melakukan recovery. Kondisi ini juga bisa menciptakan siklus yang kurang ideal karena kurang tidur dapat menjadi salah satu bentuk stres fisik bagi tubuh.

Baca juga: Sering Pakai Alat Styling Setiap Hari? Ini 8 Cara Menjaga Rambut Kamu Tetap Sehat!

Memengaruhi Berat Badan dan Nafsu Makan

Kortisol berhubungan dengan regulasi metabolisme dan gula darah. Ketika tubuh terus berada dalam kondisi stres, nafsu makan pada sebagian orang dapat berubah dan keinginan mengonsumsi makanan tinggi kalori juga bisa meningkat.

Perubahan berat badan tidak bisa langsung dianggap sebagai tanda kortisol tinggi karena berat badan dipengaruhi banyak faktor, termasuk asupan makanan, aktivitas fisik, hormon lain, tidur, dan perubahan cairan tubuh. Jadi, naiknya angka timbangan dalam beberapa hari bukan berarti otomatis disebabkan oleh kortisol.

Baca juga: Makeup Gampang Luntur? Tren Glue Method Ini Bikin Complexion Lebih “Nempel”

Mood Bisa Ikut Berubah

Stres yang berlangsung terus-menerus dapat membuat tubuh terasa lebih sulit rileks. Beberapa orang mungkin merasa lebih mudah kesal, cemas, sulit berkonsentrasi, atau mengalami perubahan mood.

Namun, perubahan mood juga memiliki banyak kemungkinan penyebab. Karena itu, gejala ini sebaiknya tidak digunakan sendirian untuk menyimpulkan bahwa kadar kortisol sedang tinggi.

Recovery Tubuh Bisa Terasa Lebih Berat

Ketika tubuh mendapatkan banyak tekanan fisik tanpa recovery yang cukup, rasa lelah dapat terasa lebih menumpuk. Hal ini terutama relevan bagi orang yang rutin melakukan olahraga intens, kurang tidur, atau sedang menjalani aktivitas fisik yang cukup berat.

Meski begitu, olahraga sendiri bukan berarti membuat kortisol menjadi “buruk”. Kortisol memang dapat meningkat sementara setelah aktivitas fisik dan merupakan bagian dari respons normal tubuh. Yang perlu diperhatikan adalah keseluruhan kondisi tubuh dan apakah rasa lelah terus berlangsung atau disertai gejala lain.

Kortisol Tinggi Tidak Bisa Didiagnosis dari Gejala Saja

Penting untuk diingat bahwa merasa stres, susah tidur, atau mengalami perubahan berat badan tidak otomatis berarti kadar kortisol tinggi. Kondisi medis yang menyebabkan kortisol terlalu tinggi secara menetap, seperti Cushing syndrome, tergolong berbeda dari peningkatan kortisol sementara akibat stres atau aktivitas fisik.

Jika muncul gejala yang menetap atau cukup mengganggu, pemeriksaan dan evaluasi oleh dokter diperlukan untuk mengetahui penyebabnya. Jadi, daripada langsung menyalahkan kortisol setiap kali tubuh terasa lelah atau berat badan berubah, lebih baik melihat kondisi tubuh secara keseluruhan.

Image: Dok. iStock