ic-fd

Apa Itu Badabida? Lulur Ketan Hitam Warisan Perempuan Kaili yang Kini Dikenalkan Lagi!

beauty
author

arishacha・in 5 hours

detail-thumb

Badabida adalah lulur ketan hitam yang digunakan dalam tradisi perawatan calon pengantin perempuan Kaili di Sulawesi Tengah. Kini, warisan tersebut dikembangkan menjadi body scrub yang lebih praktis, sambil tetap melibatkan petani lokal dan memanfaatkan kembali sisa produksinya.

Jauh sebelum lulur hadir dalam berbagai kemasan modern, perempuan Kaili di Sulawesi Tengah telah menggunakan ketan hitam sebagai bagian dari perawatan menjelang pernikahan. Lulur tersebut dikenal sebagai badabida dan digunakan dalam tradisi nombungu, rangkaian perawatan tubuh dan wajah bagi calon pengantin.

Kini, badabida dikembangkan menjadi body scrub agar lebih praktis digunakan oleh konsumen. Namun, yang dibawa bukan hanya produk perawatannya. Di dalamnya ada pengetahuan perempuan yang diwariskan dalam keluarga, bahan baku dari petani lokal, serta pemanfaatan sisa produksi yang masih berguna. Yuk, simak di artikel bawah ini, ya!

Baca juga: Gimana Cara Menjaga Kulit dari Abu Vulkanik? Ini Tips dari Expert!

Badabida, lulur yang berawal dari tradisi Nombungu

badabida 1

Dalam tradisi nombungu, calon pengantin menjalani rangkaian perawatan tubuh dan wajah menggunakan bahan-bahan alami. Salah satunya adalah ketan hitam yang diolah menjadi lulur atau masker. “Dulu badabida dipakai calon pengantin. Wajahnya ditutup dengan lulur dari ketan hitam. Itu tradisi lama perempuan Kaili,” ujar Nelam Ayu Kusuma, pendiri Nelamayu Tradisional di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah.

Dahulu, badabida dibuat dalam bentuk bedak atau masker sederhana. Nelam kemudian mengembangkannya menjadi body scrub agar lebih mudah digunakan saat ini. Bagi Nelam, badabida tidak ingin hanya dikenal sebagai produk perawatan berbahan alami, tetapi juga membawa cerita tentang perempuan Kaili dan pengetahuan yang diwariskan di dalam keluarga.

Dari resep keluarga ke produk yang lebih modern

badabida 2

Pengetahuan tentang perawatan tradisional juga didapat Nelam dari neneknya melalui bada kumba, bedak dingin berbahan beras dan rempah. Sang nenek merupakan perawat herbal di kampung pada masa pendudukan Jepang. Ketika obat-obatan sulit diperoleh, ia meracik bedak dari beras, daun basakaling atau kodombuku, kunyit kayu, kencur, dan sejumlah rempah lainnya untuk digunakan secara turun-temurun dalam keluarga.

Nelam kemudian mempelajari kembali bahan dan proses pembuatannya agar pengetahuan tersebut tidak berhenti pada generasinya. Cerita keluarga itu menjadi dasar berdirinya Nelamayu Tradisional pada 2018. Awalnya, produk Nelam banyak digunakan oleh calon pengantin yang masih mengenal tradisi nombungu. Seiring waktu, produknya mulai menjangkau konsumen yang tertarik pada perawatan tubuh berbahan alami dan tradisi kecantikan dari berbagai daerah di Indonesia.

Baca juga: Seharian Kena Polusi? 4 Micellar Water Lokal Ini Bisa Jadi First Cleanser Andalan!

Ketan hitamnya dari petani lokal, sisanya nggak langsung dibuang!

badabida 4

Membawa resep keluarga ke pasar yang lebih luas tidak cukup hanya dengan membuat kemasan baru. Nelam juga perlu memahami kebersihan dan keamanan produk, klasifikasi yang tepat, perizinan, serta batas klaim manfaat yang dapat digunakan. Perkembangan penting terjadi ketika Nelamayu Tradisional mengikuti program inkubasi Gampiri Interaksi Lestari pada 2023. Selama enam bulan, Nelam mendapat pendampingan dalam pengembangan produk, penguatan usaha, pengurusan perizinan, pemasaran, dan akses pasar.

Ketan hitam yang digunakan untuk membuat badabida diperoleh dari petani di Dolo Barat, Kabupaten Sigi. Dalam satu kali pembelian, Nelam dapat menyerap hingga 25 kilogram ketan hitam. Proses produksinya juga berusaha mengurangi bahan yang terbuang. Dedak hasil penggilingan beras dimanfaatkan sebagai pakan ternak atau disalurkan kembali kepada petani, sedangkan abu dari proses sangrai digunakan sebagai abu gosok rumah tangga. Praktik ini mencerminkan ekonomi sirkular berbasis rumah tangga.

Dari tradisi lama, lahirlah cerita baru

badabida 3

Menurut Nedya Sinintha Maulaning, perwakilan Gampiri Interaksi Lestari, pendampingan yang dilakukan berfokus pada hilirisasi berbasis alam. Tujuannya agar produk seperti Nelamayu Tradisional dapat tumbuh secara ekonomi tanpa kehilangan nilai budaya dan lingkungan. Praktik pemanfaatan sumber daya secara bijak dan keterlibatan masyarakat lokal tersebut juga menjadi bentuk nyata ekonomi restoratif.

Sebagai asosiasi pemerintah kabupaten, Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) memiliki visi mewujudkan kemandirian kabupaten melalui model ekonomi restoratif. LTKL mendukung proses yang dijalankan Gampiri sebagai bagian dari upaya kolektif memperkuat ekosistem ekonomi lokal, membangun resiliensi, dan mendorong terwujudnya visi kabupaten lestari di masa depan.

Bagi Nelam, membawa badabida ke pasar yang lebih luas bukan berarti mengubahnya menjadi sekadar produk kecantikan. Dari resep yang dahulu diwariskan seorang nenek di dalam keluarga, badabida dan bada kumba kini menemukan jalan menuju generasi baru, sambil tetap membawa cerita tentang perempuan Kaili, tradisi, kesehatan, dan alam.

image: dok. Brand