
Paparan abu vulkanik bisa mengganggu saluran pernapasan dan kulit. Penting untuk jaga kesehatan dengan konsumsi vitamin yang tepat.
Erupsi gunung berapi nggak hanya berdampak pada lingkungan sekitar, tetapi juga membawa risiko kesehatan bagi masyarakat yang terpapar sebaran abu vulkaniknya, bahkan hingga wilayah yang berjarak cukup jauh dari pusat erupsi. Partikel halus dalam abu vulkanik dapat terhirup dan mengiritasi saluran pernapasan, memicu batuk, sesak napas, iritasi mata, hingga memperberat kondisi bagi penderita asma dan gangguan paru-paru lainnya.
Selain melindungi diri secara fisik, tubuh juga perlu diperkuat dari dalam agar sistem imun tetap optimal menghadapi paparan partikel dan polutan udara. Berikut vitamin yang direkomendasikan untuk dikonsumsi selama periode paparan abu vulkanik.
Baca juga: Bukan Flek Hitam Biasa, Kenali Penyebab Melasma

Vitamin D3 (kolekalsiferol) adalah salah satu bentuk vitamin D yang paling efektif dalam meningkatkan kadar vitamin D di dalam tubuh. Ia berperan penting dalam mengatur dan memperkuat respons sistem imun tubuh, fungsi otot, dan kesehatan tulang. Saat kualitas udara memburuk akibat abu vulkanik, banyak orang cenderung membatasi aktivitas di luar ruangan sehingga paparan sinar matahari sebagai sumber alami vitamin D3 pun berkurang.
Untuk mengantisipasi hal ini, disarankan mengonsumsi suplemen vitamin D3 dengan dosis minimal 1000 IU per hari, guna membantu menjaga kadar vitamin D3 tetap stabil dan mendukung fungsi imun. Minum di pagi atau siang hari setelah makan, terutama yang mengandung lemak sehat untuk penyerapan optimal. Kamu juga bisa dukung dengan mengonsumsi makanan yang kaya akan vitamin D, seperti ikan berlemak, kuning telur, jamur, dan hati sapi.

Vitamin C dikenal luas sebagai antioksidan yang membantu memperkuat sistem imun serta melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas, termasuk yang dipicu oleh paparan partikel abu dan polutan udara. Pada usia dewasa, asupan vitamin C harian yang dibutuhkan berkisar 50-90mg.
Namun, saat saluran pernapasan sedang teriritasi akibat abu vulkanik, sebaiknya pilih vitamin C yang sifatnya non-acidic (non-asam), seperti dalam bentuk sodium ascorbate atau kalsium askorbat. Jenis vitamin C ini lebih ramah di lambung dan nggak memperparah iritasi tenggorokan, sehingga lebih nyaman dikonsumsi dalam kondisi udara yang kurang bersahabat.

Zinc adalah mineral esensial yang berperan dalam menjaga fungsi sistem kekebalan tubuh serta mempercepat proses regenerasi sel, termasuk sel-sel pada lapisan mukosa saluran pernapasan yang rentan teriritasi oleh partikel abu vulkanik. Kekurangan zinc dapat membuat tubuh lebih mudah terserang infeksi, terutama saat kualitas udara sedang buruk.
Konsumsi zinc dalam dosis harian yang wajar dapat membantu tubuh tetap tangguh menghadapi paparan lingkungan yang nggak ideal. Perlu diperhatikan bahwa rasa mual bisa muncul di beberapa orang saat mengonsumsi zinc. Untuk mencegahnya, kamu bisa konsumsi zinc dengan makanan atau snack dan minum air yang banyak.

Selain vitamin C, tubuh juga membutuhkan dukungan antioksidan lain untuk melawan stres oksidatif akibat paparan partikel halus abu vulkanik. Vitamin E membantu melindungi membran sel dari kerusakan akibat radikal bebas dan mendukung kesehatan kulit, sementara glutathione dikenal sebagai antioksidan yang berperan penting dalam detoksifikasi serta melindungi sel dari kerusakan oksidatif akibat paparan polutan.
Baca juga: Level Up Kesehatan dengan Anti-Inflammatory Diet, Ini Cara Mulainya!
Perlu diingat kalau konsumsi vitamin saja belum cukup tanpa didukung langkah perlindungan fisik yang tepat. Gunakan masker, sebaiknya masker KN95 dengan tingkat filtrasi 95%, karena mampu menyaring partikel halus abu vulkanik secara lebih efektif dibandingkan masker kain biasa. Jangan lupa juga perbanyak minum air putih untuk membantu menjaga kelembapan saluran pernapasan dan mencegah radang tenggorokan terjadi.
Di kondisi seperti sekarang ini, sebisa mungkin hindari beraktivitas di luar rumah untuk mengurangi paparan langsung terhadap saluran pernapasan, mata, dan kulit.
Stay safe, everyone.
Images: dok. iStock