lifestyle
in 6 hours
Rayakan Kemerdekaan dengan Cara Berbeda, Tugu Hotels Hadirkan Pengalaman Kuliner Bertema “Nenek Moyangku Seorang Pelaut”
Tugu Hotels & Restaurants hadirkan pengalaman kuliner nggak biasa yang layak dicoba.
Buat kamu yang masih mencari ide merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia tahun ini, Tugu Hotels & Restaurants punya pengalaman kuliner yang nggak sekadar memanjakan lidah, tapi juga mengajak mengenal kembali sejarah Nusantara.
Mengusung tema “Nenek Moyangku Seorang Pelaut”, pengalaman bersantap spesial ini terinspirasi dari perjalanan panjang masyarakat Indonesia yang sejak dulu menjadikan sungai dan laut sebagai penghubung antarpulau. Bukan hanya jalur perdagangan, tetapi juga jalur bertemunya budaya, tradisi, hingga aneka cita rasa yang kini menjadi bagian dari kekayaan kuliner Indonesia.
Baca juga: Siap-siap Belanja Promo 17 Agustus, Diskon Kemerdekaan Beauty & Fashion!
Melihat Kuliner Indonesia dari Sudut Pandang yang Berbeda

Lagu “Nenek Moyangku Seorang Pelaut” tentu sudah akrab di telinga sejak kecil. Namun di balik liriknya, tersimpan cerita tentang bagaimana Indonesia tumbuh sebagai negara kepulauan yang dipersatukan oleh perjalanan air.
Jauh sebelum jalan raya dibangun, sungai-sungai besar seperti Musi, Kapuas, Mahakam, hingga Barito menjadi jalur utama yang menghubungkan pedalaman dengan kawasan pesisir. Dari perjalanan inilah berbagai hasil bumi, rempah-rempah, resep keluarga, hingga teknik memasak berpindah dari satu daerah ke daerah lain dan membentuk keberagaman kuliner Nusantara yang kita kenal sekarang. Lewat pengalaman bersantap ini, Tugu Hotels ingin menghidupkan kembali kisah tersebut melalui cara yang lebih imersif.
Disajikan Di Atas Rakit Bambu yang Penuh Makna

Hal pertama yang langsung mencuri perhatian adalah cara penyajian makanannya. Alih-alih menggunakan plating biasa, seluruh hidangan disajikan di atas rakit bambu yang dibuat khusus. Bukan tanpa alasan. Rakit bambu dipilih sebagai simbol perjalanan masyarakat Indonesia sejak ratusan tahun lalu. Dahulu, rakit menjadi alat transportasi sederhana yang digunakan untuk mengangkut hasil panen, kopi, rempah-rempah, buah, hingga hasil laut menyusuri sungai sebelum akhirnya dibawa menuju pelabuhan dan berlayar ke berbagai penjuru Nusantara. Melalui konsep ini, setiap hidangan bukan hanya menjadi makanan yang dinikmati, tetapi juga pengingat akan perjalanan panjang yang membentuk identitas kuliner Indonesia.
Baca juga: Coba 6 Menu Spesial Hari Kemerdekaan di Bacha Coffee!
Menjelajahi Rasa dari Berbagai Daerah Indonesia
Pengalaman kuliner ini menghadirkan beragam hidangan yang mewakili berbagai wilayah di Indonesia. Dari Flores ada Molo Weti Nakeng, yang terinspirasi dari tradisi masyarakat pesisir dalam menangkap ikan dan penghormatan kepada laut sebagai sumber kehidupan.
Dari Jawa Timur hadir Bebek Ireng Ungkep, sajian yang merepresentasikan resep turun-temurun yang terus diwariskan lintas generasi. Sementara itu, Kawisari Plantation juga menjadi bagian dari cerita lewat musim panen kopi yang menggambarkan perjalanan biji kopi dari lereng Gunung Kelud hingga akhirnya tersaji di meja makan.

Perjalanan rasa berlanjut ke Blitar melalui Mangasati, hidangan yang dikenal sebagai salah satu makanan favorit Bung Karno saat pulang ke kota kelahirannya. Dari Bali, terdapat Lawar Embung yang mempertahankan cita rasa autentik desa dengan perpaduan kelapa, rempah, dan hasil bumi lokal. Sementara dari Lombok hadir Berengkes Laut Pantai Sire, olahan seafood yang dimasak perlahan dalam balutan daun pisang menggunakan bumbu khas Nusantara. Jakarta pun turut diwakili oleh Nasi Kecombrang, sebagai simbol pertemuan berbagai budaya yang sejak lama berkembang di kota pelabuhan tersebut.
Meski berasal dari daerah yang berbeda-beda, seluruh hidangan ini saling melengkapi dan menggambarkan bagaimana perjalanan melalui sungai serta laut telah membentuk kekayaan rasa Indonesia.
Baca juga: Social Affair Hadirkan Purple Picks, 6 Menu Serba Ube Kolaborasi dengan Andersen Sisters
Lebih dari Sekadar Makan Bersama
Melalui program ini, Tugu Hotels & Restaurants ingin menunjukkan bahwa makanan bukan hanya soal rasa, tetapi juga media untuk menjaga sejarah tetap hidup. Sama seperti koleksi bangunan, manuskrip, tekstil, hingga benda-benda bersejarah yang dirawat Tugu Group, setiap resep tradisional juga dianggap sebagai warisan budaya yang perlu terus dimasak, dibagikan, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Karena pada akhirnya, sungai dan laut bukan hanya menghubungkan satu tempat dengan tempat lainnya, tetapi juga menyatukan perjalanan panjang sebuah bangsa melalui cerita dan cita rasa yang masih bisa dinikmati hingga hari ini.
Image: dok. Tugu Hotels


