
Parfum kolaborasi edisi terbatas yang menghadirkan perjalanan aroma reflektif, terinspirasi dari lagu Barasuara “Hitam dan Biru”.
Belakangan ini, tanpa disadari banyak hal mengajarkan tentang grounding. Bukan karena sengaja mencari atau mempelajarinya, melainkan karena berbagai peristiwa membuat konsep tersebut terasa semakin dekat. Di tengah berbagai ketidakpastian, hidup seolah mengajarkan untuk tetap hadir, menjalani waktu, dan menerima apa pun yang berada di luar kendali dengan pikiran yang lebih tenang.
Menariknya, pelajaran itu datang dari tempat yang tidak selalu diduga. Kadang melalui percakapan, lagu, atau bahkan beberapa wewangian. Semuanya hadir dengan cara yang berbeda, tetapi meninggalkan pengingat yang serupa.
Di antara semuanya, perhatian kemudian tertuju pada Hitam dan Biru, rilisan kolaborasi Usual Parfums dan Barasuara. Bukan karena daftar notes-nya atau seperti apa aromanya nanti, melainkan konsep yang diusungnya. Ada kesan bahwa parfum ini membawa sesuatu yang terasa begitu personal.
Rasa penasaran itu akhirnya terjawab ketika mendapat kesempatan untuk mencoba Hitam dan Biru. Setelah mencium aromanya, perhatian tidak lagi berhenti pada wanginya, melainkan pada cara parfum ini menerjemahkan tema tersebut.
Baca juga: Tren Milky Lip Gloss Lagi Viral, Ini 5 Rekomendasi Produk yang Bisa Kamu Coba

Usual Parfums dan Barasuara membangun Hitam dan Biru dari tema uncertainty, acceptance, dan finding clarity. Inspirasinya memang datang dari lagu dengan judul yang sama, tetapi yang diterjemahkan ke dalam parfum ini bukan lirik ataupun melodinya. Yang diterjemahkan adalah esensi yang ingin disampaikan lagu tersebut, lalu diwujudkan menjadi sebuah wewangian.
Cara inilah yang membuat Hitam dan Biru terasa berbeda. Parfum ini tidak hanya menawarkan komposisi aroma, tetapi juga mencoba menerjemahkan sebuah gagasan ke dalam pengalaman mencium parfum. Perhatian pun tidak lagi berhenti pada pertanyaan “wanginya seperti apa?”, melainkan “apakah semua itu bisa benar-benar terasa ketika dicium?”
Pertanyaan itulah yang membuat proses mencoba Hitam dan Biru terasa berbeda.
Saat pertama kali disemprotkan, Hitam dan Biru langsung dibuka dengan bergamot dan basil yang memberikan kesan segar sekaligus hijau. Namun, kesegaran yang muncul bukan tipe citrus yang tajam atau mencolok. Ada karakter aromatik yang membuat pembukaannya terasa lebih tenang dan membumi.
Rosemary, clary sage, dan vetiver kemudian mulai mengambil peran. Di fase ini, komposisi aromanya mulai menunjukkan karakter yang lebih jelas. Aroma herbalnya hadir tanpa menjadi terlalu dominan, sementara vetiver muncul dengan lembut sehingga keseluruhan komposisinya tetap seimbang.
Memasuki dry down, cedarwood, amber woods, dan Iso E Super perlahan muncul. Basisnya menghadirkan kehangatan woody yang bersih, sementara Iso E Super membuat aromanya menyatu dengan kulit dan meninggalkan jejak yang halus. Perkembangannya mengalir tanpa perubahan yang kontras dari satu fase ke fase berikutnya. Transisi antar notes pun terasa mulus.
Namun, yang paling menarik justru bukan salah satu notes-nya.

Ekspektasinya sederhana. Perhatian mungkin akan mengikuti bagaimana top notes, middle notes, hingga base notes berkembang di kulit. Namun, yang justru terlintas adalah sebuah kata.
Laut.
Bayangan itu sama sekali tidak muncul karena nama Hitam dan Biru, juga bukan karena parfum ini memiliki karakter marine atau aquatic. Yang justru mengingatkan pada laut adalah cara aromanya berkembang. Dari top notes, aromanya perlahan bergerak menuju middle dan base notes, hingga akhirnya menyatu dengan kulit.
Rasanya seperti melihat laut. Permukaannya terus bergerak mengikuti ombak dan arus. Namun, semakin ke dalam, suasananya justru semakin sunyi. Bukan berarti ombaknya menghilang, tetapi kedalaman itu tetap ada.
Di situlah konsep Hitam dan Biru terasa benar-benar utuh. Tema uncertainty, acceptance, dan finding clarity tidak lagi hanya menjadi cerita di balik pembuatannya, tetapi ikut hadir melalui perkembangan aromanya. Pemaknaan itu pun terasa selaras dengan cara memandang grounding belakangan ini. Bukan tentang menghilangkan ketidakpastian, melainkan tetap mampu hadir dan menerima apa pun yang datang dengan pikiran yang lebih tenang.

Tidak semua parfum lahir dari sebuah cerita. Sebagian diciptakan untuk mengeksplorasi kombinasi aroma, mengikuti tren, atau sekadar menghadirkan wangi yang menyenangkan. Hitam dan Biru memilih pendekatan yang berbeda. Perjalanannya dimulai dari sebuah lagu, lalu diterjemahkan menjadi sebuah wewangian.
Usual Parfums tidak hanya berhenti pada idenya. Konsep yang diangkat hadir bukan hanya sebagai latar belakang kolaborasi dengan Barasuara, tetapi juga tercermin dalam perkembangan aromanya. Hal inilah yang membuat Hitam dan Biru terasa lebih dari sekadar parfum kolaborasi.
Baca juga: 4 Inspirasi Outfit Liburan ala Jennie di MV ‘Less Than a Lover’
Pada akhirnya, pertanyaan tentang bagaimana sebuah lagu bisa diterjemahkan menjadi aroma mungkin memang tidak memiliki satu jawaban yang pasti. Namun, Hitam dan Biru menunjukkan bahwa sebuah parfum tidak hanya bisa dinikmati melalui aromanya, tetapi juga melalui perjalanan yang diciptakannya. Mungkin, di situlah terjemahan itu benar-benar terjadi.
Images: dok. Female Daily/Regiana Mantikan