banner-detik

beauty

D'ORSAY Resmi Hadir di Indonesia, Amélie Huynh Berbincang Soal Tren Fragrance bersama Female Daily!

seo-img-article

D’ORSAY resmi hadir di Indonesia. Simak perbincangan Female Daily bersama Co-Founder Amélie Huynh, tentang tren niche perfume, fragrance wardrobe, dan Love After Rain. 

Dunia niche perfume di Indonesia semakin berkembang. Seiring meningkatnya antusiasme masyarakat terhadap fragrance, semakin banyak pula brand internasional yang mulai melirik pasar Tanah Air. Salah satunya adalah D’ORSAY, rumah parfum asal Prancis yang dikenal dengan koleksi parfum uniseks dan sejarahnya yang telah berlangsung sejak tahun 1830.

Bertepatan dengan kehadiran D’ORSAY di Indonesia sekaligus peluncuran parfum terbarunya, Love After Rain, Female Daily berkesempatan berbincang langsung dengan Amélie Huynh, Co-Founder D’ORSAY Paris. Dalam kesempatan tersebut, Amélie membagikan pandangannya mengenai perkembangan niche perfume, perubahan cara orang memilih parfum, hingga bagaimana D’ORSAY melihat potensi pasar Indonesia.

Baca juga: Lash Boss Lashlift Glossy Mascara, Maskara dengan Efek Lash Lift Instan Tanpa Perlu ke Salon

Amélie melihat karakter fragrance enthusiast masa kini juga melihat the journey of the fragrance

d'orsay

Meski D’ORSAY baru memulai perjalanannya di Indonesia, Amélie melihat bahwa karakter fragrance enthusiast di Indonesia tidak jauh berbeda dengan pasar lain seperti Eropa maupun Amerika Serikat. Menurutnya, saat ini semakin banyak orang yang ingin mengenal parfum lebih dalam. Mereka tidak hanya mencari aroma yang enak, tetapi juga ingin memahami bahan-bahan yang digunakan, proses kreatif di balik pembuatannya, hingga cerita yang dimiliki sebuah brand.

Niche perfumery is growing because people are looking for more uniqueness. They want to learn more about what they buy, and they don’t want to smell like everybody else,” ungkap Amélie. Meski tren tersebut bersifat global, ia juga melihat adanya karakter khas dari konsumen Indonesia. Fragrance enthusiast di Tanah Air, khususnya generasi muda, cenderung menyukai parfum dengan karakter yang lebih intens, termasuk aroma gourmand yang beberapa tahun terakhir semakin populer.

Tanggapan Amélie tentang orang-orang beralih dari designer fragrance ke niche, serta fragrance wardorbe yang jadi lifestyle masa kini

d'orsay

Dalam perbincangan tersebut, Amélie juga membahas mengapa semakin banyak orang mulai beralih dari designer fragrance ke niche. Menurutnya, perubahan ini berkaitan erat dengan perjalanan seseorang dalam mengenal dirinya sendiri. “When you’re younger, you tend to want to blend in. But as you grow older and become more comfortable with who you are, you’re more willing to express something personal about yourself, including through the fragrance you wear.”

Hal inilah yang membuat niche perfume semakin diminati. Dengan proses kreatif yang lebih bebas, perfumer memiliki ruang untuk mengeksplorasi material dan menciptakan aroma yang lebih unik dibandingkan parfum yang diproduksi secara massal. “A niche perfume is something you won’t smell everywhere.”

Menariknya, menurut Amélie, perubahan tidak hanya terjadi pada pilihan parfum, tetapi juga cara orang menggunakannya. Jika dulu banyak orang hanya memiliki satu signature scent, kini konsep fragrance wardrobe justru semakin populer. Seseorang bisa memiliki beberapa parfum yang dipilih sesuai suasana hati, aktivitas, waktu dalam sehari, hingga acara yang dihadiri.

Ia juga menjelaskan bahwa ada alasan ilmiah di balik kebiasaan tersebut. Saat memakai parfum yang sama terus-menerus, otak akan menganggap aroma itu sebagai sesuatu yang familiar sehingga kita sendiri menjadi lebih sulit menciumnya. Sebaliknya, ketika berganti parfum, otak akan kembali mengenali aroma tersebut sebagai sesuatu yang baru sehingga wanginya terasa lebih jelas. “People are becoming more intentional about learning the art of fragrance and building their own perfume collections. Collecting perfume is no longer any different from collecting handbags or sneakers,” ujar Amélie

Baca juga: 3 Tips Makeup Awet di Cuaca Panas, Anti Luntur dan Longsor Seharian

Perfume layering  jadi cara baru mengeksplorasi aroma

Salah satu momen menarik dalam wawancara adalah ketika tim Female Daily berbagi kebiasaan melakukan perfume layering, terutama untuk menyesuaikan aroma dengan cuaca Indonesia yang cenderung panas dan lembap. Amélie mengaku senang mengetahui bahwa banyak fragrance enthusiast di Indonesia sudah cukup akrab dengan teknik ini. Menurutnya, layering menjadi salah satu cara terbaik untuk membuat pengalaman memakai parfum terasa lebih personal. Dengan mengombinasikan beberapa aroma, setiap orang dapat menciptakan signature scent yang benar-benar unik.

D’ORSAY tetap berpegang pada heritage dan ‘Love After Rain’ jadi interpretasi terbaru D’ORSAY

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Amélie Huynh (@ameliehuynh_)

Di tengah berkembangnya tren parfum saat ini, D’ORSAY tetap mempertahankan akar sejarahnya sebagai rumah parfum asal Prancis. Seluruh proses produksinya, mulai dari parfum, botol, tutup, hingga kemasan, masih dibuat di Prancis sebagai bentuk penghormatan terhadap craftsmanship yang telah diwariskan selama hampir dua abad. Namun, menurut Amélie, heritage bukan berarti harus terpaku pada masa lalu. “Heritage is not a weight, it’s a strength,” ungkap Amélie

Nilai yang terus menjadi DNA D’ORSAY hingga kini adalah love. Rumah parfum ini lahir dari kisah cinta Alfred d’Orsay kepada Marguerite de Blessington pada tahun 1830. Hingga saat ini, semangat tersebut masih menjadi inspirasi di balik setiap koleksi D’ORSAY, yang mengeksplorasi berbagai emosi dalam cinta, mulai dari kerinduan, passion, hingga keintiman.

Dalam kesempatan yang sama, D’ORSAY juga memperkenalkan ‘Love After Rain’, parfum terbaru yang terinspirasi dari suasana setelah hujan reda, ketika udara terasa lebih segar, suasana menjadi tenang, dan muncul harapan akan awal yang baru. Parfum berkarakter neo-chypre ini memadukan kesegaran pear dan iris sebagai top notes, kelembutan lily of the valley di bagian heart, serta moss accord dan woody notes pada base yang memberikan kesan earthy sekaligus elegan. Perpaduan tersebut menghadirkan aroma yang terasa ringan di awal, lalu berkembang menjadi lebih hangat dan membumi saat digunakan.

Baca juga: Mascara Transparan: Apa Bedanya dengan Mascara Hitam? Ini Kelebihan dan Kekurangannya

Selain ‘Love After Rain’, Amélie juga menilai koleksi Extrait de Parfum D’ORSAY memiliki karakter yang sesuai dengan preferensi konsumen Indonesia karena menawarkan aroma yang lebih intens dengan longevity yang tinggi. Melalui perbincangan bersama Female Daily, satu hal yang menjadi benang merah adalah bahwa dunia parfum kini tidak lagi sekadar soal mencari aroma yang enak. Semakin banyak orang yang melihat parfum sebagai bagian dari identitas diri, cara berekspresi, sekaligus medium untuk bercerita. Dan menurut Amélie, perubahan inilah yang membuat perkembangan niche perfumery menjadi begitu menarik untuk disaksikan, termasuk di Indonesia.

Setelah membaca insight dari Amélie di atas, kamu jadi tertarik untuk mengeksplor niche perfumery dan mencoba melirik D’ORSAY?

Images: Dok.

Slow Down

Please wait a moment to post another comment