Selain paparan sinar UV, ada beberapa faktor penyebab melasma yang juga perlu kamu ketahui.
Kamu tahu nggak kalau bulan Juli adalah Melasma Awareness Month? Banyak orang mengira flek hitam di wajah hanya soal telat pakai sunscreen. Padahal, kalau bicara soal melasma, ceritanya jauh lebih kompleks. Melasma bukan sekadar noda kulit biasa yang muncul karena kurang tabir surya, melainkan gangguan pigmentasi kronis yang melibatkan interaksi rumit antara sinar matahari, hormon, genetik, hingga peradangan di kulit. Itulah sebabnya melasma sering disebut sebagai salah satu masalah kulit paling membandel dan sulit ditangani secara tuntas.

Sebelum bicara soal cara mengatasinya, penting untuk benar-benar memahami dulu apa yang sebenarnya terjadi di balik munculnya melasma. Semakin dalam kita mengenali akar penyebabnya, semakin mudah pula memahami kenapa melasma gampang kambuh meski sudah “hilang”. Melalui acara Melasma Awareness Month bersama PT Unison Medika Jaya, dr. Stanley Setiawan, dokter spesialis kulit, menjelaskan beberapa faktor penyebab melasma yang penting untuk diketahui.
Baca juga: 3 Tips Makeup Awet di Cuaca Panas, Anti Luntur dan Longsor Seharian
Apa itu melasma?

Melasma adalah kondisi hiperpigmentasi kulit yang ditandai dengan munculnya bercak-bercak kecokelatan hingga keabu-abuan, biasanya simetris di kedua sisi wajah. Area yang paling sering terkena adalah pipi, dahi, hidung, area atas bibir, dan dagu. Bercak ini muncul karena produksi melanin yang berlebihan dan nggak merata di lapisan kulit tertentu.
Berbeda dari flek hitam bekas jerawat atau bekas luka yang sifatnya lokal dan biasanya membaik seiring waktu, melasma cenderung lebih luas, simetris, dan bersifat kronis. Ia bisa menghilang sementara lalu muncul kembali, terutama jika faktor pemicunya nggak dikendalikan.
Mengapa melasma bisa terbentuk? Berikut ini beberapa penyebabnya.
Paparan sinar Ultraviolet (UV) dan cahaya tampak (Visible Light)
Sinar matahari adalah pemicu paling dominan dalam kemunculan dan perburukan melasma. Radiasi ultraviolet A (UVA) dan ultraviolet B (UVB) merangsang melanosit (sel penghasil pigmen di kulit) untuk memproduksi melanin lebih banyak sebagai bentuk perlindungan alami kulit terhadap kerusakan akibat sinar matahari. Masalahnya, pada penderita melasma, respons ini menjadi berlebihan dan nggak merata.
Yang menarik, bukan hanya UV yang berperan. Penelitian dermatologi terkini menunjukkan bahwa cahaya tampak (visible light), termasuk blue light dari layar gadget dan lampu ruangan, juga bisa memicu produksi melanin, terutama pada kulit dengan tingkat pigmentasi lebih gelap seperti kulit orang Asia dan Indonesia pada umumnya. Ini menjelaskan kenapa melasma tetap bisa memburuk meski seseorang jarang beraktivitas di luar ruangan pada siang hari.
Faktor hormonal
Melasma sangat erat kaitannya dengan perubahan hormon, terutama estrogen dan progesteron. Inilah alasan mengapa kondisi ini lebih sering ditemukan pada perempuan dibanding laki-laki, dan kerap muncul atau memburuk pada masa-masa tertentu, seperti kehamilan, saat konsumsi pil KB atau terapi hormon, dan terapi penggantian hormon pada masa menopause.
Hormon-hormon ini diduga meningkatkan sensitivitas melanosit terhadap rangsangan sinar matahari, sehingga produksi melanin menjadi lebih mudah terpicu, sulit dikendalikan, dan jadi penyebab melasma.
Predisposisi genetik
Riwayat keluarga memainkan peran besar dalam risiko seseorang mengalami melasma. Berbagai studi menunjukkan bahwa sebagian besar penderita melasma memiliki anggota keluarga, biasanya ibu atau saudara perempuan, yang juga mengalami kondisi serupa. Faktor genetik ini memengaruhi seberapa aktif dan sensitif melanosit seseorang terhadap pemicu dari luar, seperti sinar matahari maupun perubahan hormon.
Ini juga menjelaskan mengapa melasma jauh lebih umum ditemukan pada individu dengan warna kulit lebih gelap (skin tone tipe III–V dalam skala Fitzpatrick), termasuk mayoritas masyarakat Indonesia, dibandingkan pada kulit yang sangat terang.
Peradangan dan kerusakan skin barrier
Semakin banyak riset dermatologi menyoroti peran peradangan tingkat rendah (low-grade inflammation) dan gangguan fungsi skin barrier dalam patogenesis melasma. Ketika skin barrier rusak, misalnya akibat penggunaan produk yang terlalu keras, eksfoliasi berlebihan, atau iritasi kronis, kulit menjadi lebih rentan terhadap peradangan mikro yang pada akhirnya turut merangsang aktivitas melanosit.
Proses peradangan ini juga melibatkan pembuluh darah kecil di kulit. Pada area kulit yang mengalami melasma, sering ditemukan peningkatan jumlah pembuluh darah (peningkatan vaskularisasi) dibandingkan kulit normal di sekitarnya, yang diduga turut memperkuat siklus peradangan dan pigmentasi berlebih.
Baca juga: Waspada Cuaca Panas! Ini 6 Rekomendasi Sunscreen Spray untuk Reapply
Panas dan radiasi inframerah
Selain cahaya, paparan panas, baik dari sinar matahari, aktivitas memasak di dekat kompor, sauna, maupun radiasi inframerah, juga disebut-sebut sebagai faktor yang dapat memperburuk melasma. Panas dapat meningkatkan aliran darah dan suhu kulit lokal, yang pada gilirannya turut merangsang melanosit untuk lebih aktif memproduksi pigmen penyebab melasma.
Penggunaan produk atau obat tertentu
Beberapa jenis obat dan produk perawatan kulit diketahui dapat memicu atau memperparah melasma, misalnya obat-obatan yang meningkatkan fotosensitivitas kulit (membuat kulit lebih reaktif terhadap sinar matahari), produk kosmetik atau perawatan kulit yang mengandung bahan iritan dan digunakan tanpa perlindungan sinar matahari yang memadai, serta prosedur kecantikan tertentu yang dilakukan tanpa persiapan atau perawatan pascaprosedur yang tepat, sehingga memicu peradangan pada kulit.
Makanya penting banget untuk jujur dan terbuka saat konsultasi dengan doktermu untuk mencegah risikonya.
Stres dan gaya hidup
Meski bukan penyebab utama, stres kronis dapat memengaruhi keseimbangan hormon dalam tubuh, termasuk hormon yang berkaitan dengan aktivitas melanosit. Gaya hidup dengan paparan sinar matahari tinggi tanpa perlindungan memadai, kurang tidur, dan pola hidup nggak seimbang secara nggak langsung dapat memperbesar risiko melasma muncul atau kambuh.
Baca juga: Kapan Perlu Pakai Azelaic Acid untuk Jerawat?
Memahami penyebab-penyebab ini penting bukan hanya untuk mereka yang sudah mengalami melasma, tetapi juga sebagai langkah pencegahan bagi yang belum. Mengenali pemicu sejak dini menjadi kunci untuk mengelola risiko melasma dalam jangka panjang. Jadi jika sudah muncul tanda-tandanya, jangan ragu untuk konsultasikan ke dokter spesialis kulit, ya.
Images: PT Unison Medika Jaya, iStock



