lifestyle
8 minutes ago
Afgan Rayakan 18 Tahun Berkarya Lewat Konser Bernuansa Grand Symphonic Universe yang Spektakuler!
Perayaan 18 tahun karier Afgan hadir lewat konser Grand Symphonic Universe yang memukau, lengkap dengan Erwin Gutawa Orchestra dan kolaborasi spesial.
Delapan belas tahun berkarya di industri musik menjadi perjalanan yang dirayakan secara istimewa oleh Afgan melalui ‘Afgan retrospektif: The Concert’. Digelar di Plenary Hall, Jakarta International Convention Center, pada Sabtu 19 Juli 2026, konser yang dipromotori Seven Star Production ini menghadirkan konsep Grand Symphonic Universe sebagai bentuk refleksi perjalanan karier sang penyanyi, sekaligus menjadi persembahan spesial untuk para penggemar yang telah menemaninya sejak awal.
Lebih dari 4.000 penonton memenuhi venue untuk menikmati 30 lagu yang dibawakan Afgan bersama Erwin Gutawa Orchestra. Tak hanya menyuguhkan aransemen musik yang megah, konser ini juga memadukan visual artistik, tata panggung, dan storytelling yang mengajak penonton menyusuri berbagai fase kehidupan serta perjalanan musikal Afgan selama hampir dua dekade.
Konsep panggung yang merepresentasikan perjalanan Afgan

Sejak memasuki venue, penonton langsung disambut dengan desain panggung yang cukup unik. Struktur scaffolding sengaja dibuat terekspos sebagai simbol keterbukaan Afgan dalam membagikan perjalanan hidup dan kariernya kepada para penggemar yang telah mendukungnya selama hampir dua dekade. Konsep tersebut semakin diperkuat lewat penggunaan layar reflektif, inverted projection, serta tata cahaya artistik yang membuat setiap babak terasa semakin imersif. Seluruh elemen visual dirancang untuk mengikuti alur cerita yang ingin disampaikan sepanjang konser.
Empat babak yang merangkum 18 tahun perjalanan musikal

Konser dibagi menjadi empat babak yang menggambarkan perkembangan musikal Afgan dari masa awal debut hingga eksplorasi karya-karya terbarunya. Pertunjukan dibuka dengan lagu ‘Misteri Dunia’ bersama The Gandarians sebelum berlanjut ke kemunculan Erwin Gutawa Orchestra yang langsung disambut tepuk tangan meriah. Afgan kemudian hadir membawakan ‘Jalan Terus’, menandai dimulainya perjalanan retrospektif tersebut.
Pada babak ketiga, Afgan menunjukkan sisi musikalnya yang lebih modern melalui medley lagu ‘Shallow Water’ dan ‘Say I’m Sorry’ dari album berbahasa Inggris ‘Sonder dan Wallflower’. Memasuki babak terakhir, suasana berubah menjadi lebih meriah ketika lagu ‘Dia, Dia, Dia’ dan ‘Kacamata’ berhasil mengajak ribuan penonton bernyanyi bersama.
Baca juga: Ini Sederet Alasan Mary Jane Sporty Jadi It Shoes Favorit Anak Muda!
Salah satu momen yang paling mencuri perhatian terjadi saat lagu ‘Kacamata’ dibawakan. Musik tiba-tiba berhenti, lalu Afgan bersama seluruh personil Erwin Gutawa Orchestra secara serempak melepas kacamata mereka. Aksi sederhana tersebut langsung disambut sorakan dan tepuk tangan penonton.
Kris Dayanti, Mahalini, hingga Petra Sihombing turut memeriahkan konser

Perjalanan musikal Afgan juga terasa semakin spesial lewat kehadiran sejumlah musisi lintas generasi sebagai kolaborator. Salah satu penampilan yang paling dinantikan adalah duet Afgan bersama Kris Dayanti. Keduanya membawakan medley lagu ‘Kepastian’, ‘Kamu Yang Ku Tunggu’, ‘Percayalah’, dan ‘Ada’ dalam balutan aransemen orkestra.
Sementara itu, Mahalini tampil membawakan lagu ‘Sadis’, sedangkan Petra Sihombing menghadirkan suasana emosional melalui lagu ‘Peluk’ yang diiringi gitar akustik dan paduan suara Paragita. Di momen tersebut, ribuan penonton serempak menyalakan flashlight ponsel mereka hingga Plenary Hall berubah menjadi lautan cahaya.
Hadirkan pengalaman konser yang lebih sinematik dan selebrasi perjalanan bersama para penggemar

Tak hanya dari sisi musikal, konser ini juga menghadirkan sejumlah treatment baru yang belum pernah ditampilkan Afgan sebelumnya, salah satunya melalui format mashup yang menggabungkan beberapa lagu menjadi satu rangkaian musikal. Pengalaman menonton juga semakin terasa sinematik berkat penggunaan teknologi cinematic sound surround yang memanfaatkan karakter akustik Plenary Hall JICC. Hasilnya, suara terdengar lebih jernih dan terasa mengelilingi seluruh ruangan, sehingga penonton dapat menikmati setiap detail aransemen secara maksimal.
Bagi Afgan, konser ini bukan hanya tentang merayakan 18 tahun berkarya, tetapi juga menjadi bentuk apresiasi kepada para penggemar yang telah menemani setiap fase perjalanan kariernya. “18 tahun bukan sekadar tahun perjalanan bagi saya, tetapi juga bagi para fans yang selalu mendukung saya sejak awal. Konser ini merupakan selebrasi atas semua perjalanan yang telah kita lewati bersama, baik, buruk, hal menyenangkan, hal yang menyedihkan, dan semua rasa. Saya berharap penonton tidak hanya pulang dengan kenangan akan pertunjukan musik, tapi juga membawa pulang sesuatu yang lebih bermakna,” ujar Afgan.
Baca juga: Drakoran sampai Bikin Konten, REDMI Pad 2 9.7 4G Siap Penuhi Kebutuhan Produktivitasmu!
Lewat ‘Afgan retrospektif: The Concert’, Afgan tidak hanya menghadirkan konser dengan produksi yang megah, tetapi juga merangkum perjalanan 18 tahun bermusiknya dalam sebuah pertunjukan yang personal. Perpaduan musik, visual, tata panggung, hingga kolaborasi dengan para musisi lintas generasi membuat konser ini menjadi perayaan yang berkesan, baik bagi Afgan maupun ribuan penggemar yang hadir menyaksikannya secara langsung.
Images: Dok. Artemis Indonesia



