banner-detik

beauty

Worth the Wait? 3 Parfum yang Sudah Lama Masuk Wishlist

seo-img-article

Tiga parfum yang bertahan lama di wishlist, dan ternyata penantiannya benar-benar worth the wait.

Ada parfum yang langsung masuk wishlist setelah sekali dicium. Ada juga yang butuh waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sebelum akhirnya benar-benar menjadi bagian dari koleksi.

Kalau dipikir-pikir lagi, bukan karena rasa penasarannya hilang. Selalu ada alasan untuk menundanya. Kadang ingin memastikan parfum tersebut memang benar-benar sesuai selera, kadang masih belum siap mengeluarkan budget sebesar itu, atau memang belum menemukan kesempatan yang tepat.

Aku baru sadar kalau parfum-parfum yang paling lama bertahan di wishlist justru sering kali menjadi yang paling berkesan ketika akhirnya berhasil dimiliki. Tiga parfum ini adalah contohnya.

Serge Lutens La Fille de Berlin

Dari ketiga parfum ini, La Fille de Berlin mungkin menjadi yang paling lama bertahan di wishlist.

Perkenalan pertama dengannya datang dari botol milik seorang teman. Begitu aromanya tercium, reaksinya cuma satu, “Ini dia.” Selama ini selalu ada ketertarikan pada sesuatu yang sedikit dark, gothic, dan dramatis. Anehnya, belum pernah ada parfum yang benar-benar menghadirkan karakter seperti itu. Sampai akhirnya bertemu dengan La Fille de Berlin.

Perpaduan rose, geranium, palmarosa, honey, moss, dan patchouli menghasilkan karakter mawar yang jauh dari kesan romantis. Mawarnya terasa lebih gelap, sedikit moody, dan tetap elegan. Rasanya seperti menemukan aroma yang selama ini hanya ada di bayangan.

Sempat beberapa kali muncul keinginan untuk langsung membelinya di store, tetapi selalu berakhir maju mundur. Sekitar setahun kemudian, teman yang pertama kali memperkenalkan parfum ini justru memutuskan untuk menjual botolnya. Rasanya seperti penantian selama ini benar-benar terbayar. La Fille de Berlin akhirnya menjadi parfum pertama yang membuat wishlist terasa worth the wait.

Baca juga: Parfum untuk Cuaca Panas yang Tetap Awet Seharian, Xerjoff Erba Pura Layak Dicoba

Diptyque Eau Duelle

Tiga parfum

Kalau La Fille de Berlin masuk wishlist karena pengalaman menciumnya secara langsung, Eau Duelle justru berawal dari rasa penasaran saat mencari parfum dengan karakter yang sedikit dark dan gothic.

Di berbagai forum dan review, Eau Duelle cukup sering muncul sebagai rekomendasi vanilla fragrance dengan karakter yang sedikit smoky dan lebih gelap dibanding vanilla pada umumnya. Deskripsi itu saja sudah cukup membuat rasa penasaran muncul.

Kebetulan, tidak lama kemudian Diptyque membuka store di Jakarta. Kesempatan itu langsung dimanfaatkan untuk mencium Eau Duelle secara langsung, dan ternyata aromanya benar-benar sesuai dengan ekspektasi.

Perpaduan bourbon vanilla, incense, cypriol oil (nagarmotha), dan pink pepper menghasilkan aroma yang hangat, sedikit smoky, dan punya kedalaman tanpa terasa terlalu berat. Vanillanya tetap menjadi pusat perhatian, tetapi tidak pernah berubah menjadi terlalu manis.

Meski sudah yakin dengan aromanya, Eau Duelle belum langsung masuk ke koleksi. Harganya saat itu masih terasa cukup tinggi sehingga keputusan untuk membeli sempat beberapa kali ditunda. Sampai akhirnya menemukan satu botol dengan harga yang jauh lebih masuk akal di e-commerce. Rasanya tidak perlu berpikir dua kali. Semua rasa penasaran yang terbentuk dari berbagai review akhirnya benar-benar terjawab.

Baca juga: Page by Page Hadirkan Parfum dengan Mood Cap yang Bisa Dipersonalisasi hingga 1.000 Kombinasi

Hermetica Jade888

Jade888 punya awal cerita yang sedikit berbeda. Ketertarikan justru bukan dimulai dari parfumnya, melainkan dari brand Hermetica. Pertama kali mengenalnya lewat koleksi salah satu teman, lalu mulai tertarik dengan konsep brand, desain botol, hingga pendekatan mereka terhadap wewangian yang terasa sangat niche.

Saat itu, Source¹ yang menjadi salah satu parfum paling populer dari Hermetica sempat dicoba lebih dulu. Meski menarik, aromanya belum benar-benar terasa cocok. Rasa penasaran kemudian beralih ke Jade888, terutama karena namanya yang terdengar unik.

Begitu akhirnya berhasil mencobanya, Jade888 justru terasa lebih sesuai dengan selera. Perpaduan lily of the valley, musk, dan ginger menghadirkan karakter floral green yang bersih, modern, dan effortless. Dibanding beberapa green fragrance yang sudah ada di koleksi, Jade888 terasa lebih niche dengan pendekatan yang lebih halus dan elegan. Green-nya tetap hidup, tetapi tidak terlalu tajam sehingga sangat nyaman dipakai dalam berbagai suasana.

Tidak lama kemudian, muncul kesempatan untuk membawa pulang botol ukuran 50 ml dengan harga yang sangat menarik di e-commerce. Tanpa berpikir terlalu lama, Jade888 pun resmi menjadi bagian dari koleksi.

Final Thoughts

Kalau melihat kembali ketiga parfum ini, ada satu kesamaan yang baru kusadari belakangan. Semuanya memang membutuhkan waktu sebelum akhirnya benar-benar masuk ke koleksi.

Yang juga menarik, ketiganya ternyata berhasil kudapatkan dalam kondisi preloved. Awalnya aku sempat ragu membeli parfum preloved. Namun setelah menjalaninya sendiri, pandanganku berubah. Selama membeli dari penjual yang terpercaya, mengecek kondisi botol, dan memastikan parfumnya masih tersimpan dengan baik, membeli parfum preloved bisa menjadi alternatif yang menarik, terutama untuk parfum yang sudah lama ada di wishlist.

Kalau ditanya sekarang apakah tiga parfum ini worth the wait, jawabannya jelas iya. Bukan hanya karena aromanya sesuai ekspektasi, tetapi karena masing-masing punya cerita yang membuat proses menunggunya terasa sama menyenangkannya dengan momen saat akhirnya berhasil dimiliki.


Image: Female Daily

Slow Down

Please wait a moment to post another comment