
Beberapa bulan terakhir, media sosial diramaikan dengan tren sleepmaxxing. Kalau sebelumnya banyak orang berlomba-lomba menjalani morning routine yang sempurna atau mencoba berbagai wellness hack, sekarang ada juga yang mencoba mencari cara untuk mendapatkan tidur terbaik. Mulai dari memakai sleep tracker, minum magnesium sebelum tidur, menggunakan mouth tape, hingga makan kiwi di malam hari, semuanya diklaim bisa membuat kualitas tidur meningkat. Jadi, apa sebenarnya sleepmaxxing? Apakah benar bisa bikin tubuh lebih sehat, atau hanya sekadar tren wellness yang sedang hype?
Baca juga: Waspada Cuaca Panas! Ini 6 Rekomendasi Sunscreen Spray untuk Reapply
Sleepmaxxing adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan berbagai kebiasaan, rutinitas, gadget, maupun metode yang bertujuan mengoptimalkan kualitas dan durasi tidur. Istilah ini mulai populer di TikTok sebagai “versi tidur” dari tren looksmaxxing, yaitu upaya memaksimalkan penampilan. Bedanya, sleepmaxxing berfokus pada gimana seseorang bisa tidur lebih cepat, lebih lama, lebih nyenyak, dan bangun dengan tubuh yang terasa lebih segar. Oh iya, konsep ini sebenarnya bukan hal baru karena sebagian besar praktik sleepmaxxing dikemas ulang dari prinsip sleep hygiene atau kebiasaan tidur sehat yang selama ini sudah direkomendasikan oleh tenaga medis.

Popularitas sleepmaxxing nggak lepas dari meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya tidur bagi kesehatan fisik maupun mental. Saat ini, makin banyak orang menggunakan smartwatch atau wearable device yang bisa memantau durasi tidur, fase tidur, hingga sleep score setiap malam. Data tersebut bikin banyak orang terdorong untuk terus memperbaiki kualitas tidurnya. Ditambah lagi, media sosial juga dipenuhi konten tentang “perfect nighttime routine” yang membuat sleepmaxxing terasa seperti tren yang wajib dicoba. Di sisi lain, lifestyle yang penuh dengan pikiran stres, jam kerja panjang, dan penggunaan gadget hingga larut malam juga membuat banyak orang memang mencari solusi agar bisa tidur lebih berkualitas.
Sleepmaxxing sangat beragam, mulai dari yang sederhana hingga yang cukup ekstrem. Beberapa kebiasaan yang sering dilakukan antara lain menjaga jadwal tidur tetap konsisten setiap hari, menggunakan eye mask atau white noise machine, mengatur suhu kamar agar lebih sejuk, mengurangi paparan cahaya biru sebelum tidur, menggunakan aromaterapi, mengonsumsi magnesium atau melatonin, memakai nasal strip, hingga melakukan mouth taping. Ada juga yang mencoba minum “sleepy girl mocktail”, makan dua buah kiwi sebelum tidur, atau menggunakan berbagai gadget pemantau tidur. Meski terlihat menarik, tapi nggak semua metode tersebut memiliki tingkat bukti ilmiah yang sama sehingga penting untuk kamu memilah mana yang memang terbukti efektif dan mana yang hanya berdasarkan pengalaman pribadi pengguna media sosial.
Baca juga: Perbedaan Purging dan Breakout: Kenali Ciri-Cirinya agar Tidak Salah Menangani Jerawat
Jawabannya bisa iya, tetapi tergantung metode yang digunakan. Sampai saat ini belum ada penelitian ilmiah yang secara khusus membuktikan bahwa konsep “sleepmaxxing” merupakan kebiasaan benar-benar efektif. Tapi, beberapa komponen di dalamnya cukup efektif, seperti menjaga jadwal tidur yang konsisten, rutin berolahraga, membatasi konsumsi kafein di malam hari, mengurangi paparan cahaya sebelum tidur, serta menciptakan kamar yang gelap, tenang, dan sejuk. Sebaliknya, beberapa tren viral seperti mouth taping atau penggunaan berbagai suplemen tanpa indikasi medis masih harus diteliti kembali karena berpotensi menimbulkan efek samping pada sebagian orang.

Karena viral di media sosial, banyak orang menganggap semua sleep hack aman untuk dilakukan. Padahal kenyataannya nggak seperti itu. Salah satu contoh yang paling banyak diperdebatkan adalah mouth taping atau menutup mulut menggunakan plester saat tidur dengan tujuan mendorong pernapasan lewat hidung. Cara ini masih minim bukti ilmiah dan justru bisa berbahaya bagi orang yang memiliki gangguan pernapasan tertentu, alergi, atau sleep apnea, lho. Begitu pula dengan konsumsi suplemen seperti melatonin atau magnesium yang sebaiknya nggak digunakan sembarangan tanpa mengetahui kebutuhan tubuh masing-masing. Kalau kamu mengalami gangguan tidur yang berlangsung lama, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter tetap menjadi langkah terbaik dibanding mengandalkan tren di media sosial.
Kalau tertarik mencoba sleepmaxxing, sebaiknya fokus pada kebiasaan yang sudah terbukti membantu meningkatkan kualitas tidur. Kamu bisa mulai dengan tidur dan bangun pada jam yang sama setiap hari, batasi konsumsi kopi atau minuman berkafein di sore hingga malam hari, hentikan penggunaan gadget sekitar satu jam sebelum tidur, pastikan kamar tidur nyaman, gelap, dan memiliki suhu yang sejuk, serta lakukan aktivitas relaksasi seperti membaca buku atau meditasi ringan sebelum tidur. Paparan sinar matahari di pagi hari dan olahraga secara rutin juga membantu menjaga ritme sirkadian agar tubuh lebih mudah mengantuk pada malam hari. Langkah-langkah sederhana seperti ini justru memiliki bukti ilmiah yang jauh lebih kuat dibanding berbagai sleep hack yang sedang viral.
Baca juga: Meskipun Nggak Punya Gejala, Kenapa Harus Skrining Kanker Serviks secara Rutin?
Meski terdengar paradoks, terlalu fokus mengejar tidur yang “sempurna” justru bisa membuat seseorang semakin sulit tidur. Kondisi ini dikenal dengan istilah orthosomnia, yaitu kecemasan berlebihan terhadap kualitas tidur akibat terlalu sering memantau data dari sleep tracker atau terus mencoba berbagai cara untuk meningkatkan sleep score. Akibatnya, kamu bisa menjadi stres setiap kali merasa tidurnya kurang ideal. Padahal, tidur yang sehat bukan hanya soal angka di aplikasi, melainkan gimana tubuh terasa segar, fokus, dan bertenaga saat bangun di pagi hari.
Itulah semua tentang sleepmaxxing. Kalau kamu menginginkan tidur yang berkualitas, sebaiknya lakukan beberapa hal yang sudah direkomendasikan oleh ahli kesehatan. Kalau kamu merasakan gangguan tidur, jangan ragu untuk konsultasi, ya!
Image: iStock