ic-fd

Lipstick Effect di Era Gen Z, Dari Beauty Products sampai Weekend Getaway

lifestyle
author

armeliafarah・in 7 hours

detail-thumb

Lipstick effect menjelaskan mengapa orang tetap berbelanja di tengah ketidakpastian ekonomi. Kini fenomenanya tak lagi terbatas pada produk beauty. 

Belakangan ini, istilah little treat semakin sering muncul di media sosial. Mulai dari membeli lip balm yang sedang viral, mencoba parfum baru, menikmati matcha favorit setelah hari yang melelahkan, membeli dubai chewy cookie setiap weekend, hingga memesan tiket liburan singkat, banyak orang, terutama Gen Z yang menganggap pengeluaran kecil tersebut sebagai bentuk self-reward.

Baca juga: Setelah Resign dari NCT dan SM Entertainment, Kini Mark Lee Mendirikan Agensi Sendiri! 

Di sisi lain, kita juga sering mendengar keluhan soal harga rumah yang semakin nggak terjangkau, biaya hidup yang terus meningkat, hingga target finansial besar yang terasa semakin sulit dicapai. Meski terdengar seperti dua hal yang berbeda, keduanya ternyata bisa dijelaskan melalui fenomena yang dikenal sebagai lipstick effect.

Apa itu lipstick effect?

Lipstick effect adalah teori yang menjelaskan bagaimana konsumen tetap mengeluarkan uang untuk membeli barang-barang yang memberikan rasa senang ketika kondisi ekonomi sedang tidak menentu. Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh sosiolog dan ekonom professor Juliet Schor dalam bukunya ‘The Overspent American’ yang terbit pada tahun 1998. Belia menemukan bahwa kecenderungan perempuan untuk splurge pada barang-barang yang lebih mahal justru semakin tinggi di kala masa-masa sulit, disebabkan oleh alasan psikologis. 

Kenapa lipstik? Menurut Schor, barang ini termasuk dalam kategori affordable luxury. Nggak terlalu mahal sampai bikin tabungan habis, tapi tetap memberikan perasaan senang. Dengan konsep ini, barang yang jadi lebih banyak dilirik di saat zaman sedang tidak baik-baik saja jadi tidak terbatas pada lipstik. Bisa saja bentuknya kutek, fragrance, atau scented candle, misalnya.

Namun, di beberapa tahun terakhir dan terutama di tahun 2026 ini makna dari lipstick effect telah berkembang jauh melampaui beauty products. Bahkan nggak hanya perempuan saja yang kerap menggunakan istilah ini, tapi sudah semua orang dan banyak juga yang mention soal ini untuk berbagai keputusan kecil untuk menyenangkan diri sendiri di keadaan ekonomi masa kini. 

Bagaimana Gen Z relate dengan lipstick effect?

lipstick effect

Bagi banyak Gen Z, lipstick effect terasa semakin relevan karena berkaitan dengan realitas finansial yang mereka hadapi saat ini. Harga properti yang terus meningkat, biaya hidup yang semakin tinggi, dan berbagai ketidakpastian ekonomi membuat target-target finansial besar seperti membeli rumah atau mobil terasa membutuhkan waktu yang lebih lama untuk dicapai dibanding generasi sebelumnya.

Akibatnya, nggak sedikit yang memilih fokus pada hal-hal yang bisa dinikmati sekarang. Daripada terus menunda kebahagiaan demi tujuan yang masih terasa jauh, sebagian orang memilih membeli sesuatu yang dapat memberikan rasa senang dalam waktu dekat. Mulai dari produk beauty, kopi favorit, hingga pengalaman seperti konser atau liburan singkat.

Kalau dulu lipstick effect identik dengan lipstik, sekarang bentuknya bisa bermacam-macam. Mulai dari parfum baru, skincare premium, collectible toys, kopi favorit, tiket konser, hingga weekend getaway seringkali dianggap sebagai bentuk little luxury yang mampu memberikan kebahagiaan di tengah rutinitas sehari-hari.

Fenomena ini juga menunjukkan bahwa lipstick effect bukan lagi sekadar tentang membeli produk kecantikan. Kini, istilah tersebut lebih sering digunakan untuk menggambarkan bagaimana orang mencari kebahagiaan kecil yang masih terasa terjangkau di tengah kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian.

Di tengah berbagai tantangan ekonomi, banyak masyarakat kini menjadi lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran. Namun menariknya, hal tersebut tidak selalu berarti orang berhenti berbelanja. Sebaliknya, dilansir dari artikel Kompas yang membahas fenomena ini, banyak konsumen mengalihkan pengeluarannya ke barang atau pengalaman yang dianggap lebih terjangkau, tetapi tetap memberikan kepuasan emosional.

Hal ini juga terlihat dari aktivitas transaksi di e-commerce yang tetap tinggi. Ketika pembelian barang bernilai besar cenderung ditunda, produk-produk yang menawarkan rasa senang dalam harga yang relatif lebih terjangkau justru tetap diminati. Sederhananya, masyarakat tidak berhenti mengeluarkan uang. Mereka hanya mengubah prioritas.

Baca juga: Bukan Sekadar Dessert Brand, Butter Baby Resmi Perkenalkan Semesta Butterlandia! 

Apakah fenomena ini selalu jadi tanda buruk dan how beauty products still heavily labeled with the phenomena?

lipstick effect

Fenomena ini nggak juga selalu menjadi tanda yang buruk. Pada dasarnya, lipstick effect menunjukkan bagaimana manusia mencari rasa nyaman dan kebahagiaan di tengah ketidakpastian. Selama dilakukan secara sadar dan sesuai kemampuan finansial, membeli sesuatu yang membuat kita merasa lebih baik bukanlah hal yang salah. Namun, penting juga untuk membedakan antara self-reward dan kebiasaan belanja impulsif. 

Ketika pengeluaran mulai dilakukan hanya untuk memenuhi dorongan sesaat tanpa mempertimbangkan kondisi keuangan, dampaknya tentu bisa berbeda. Karena itu, menikmati little treats sesekali bukanlah masalah. Yang terpenting adalah tetap menjaga keseimbangan antara menikmati hidup saat ini dan mempersiapkan tujuan finansial jangka panjang.

Meski maknanya sudah berkembang, produk kecantikan tetap menjadi salah satu contoh paling kuat dari lipstick effect. Dibandingkan membeli tas mewah atau gadget terbaru, membeli lip balm, parfum, atau hair treatment terasa jauh lebih realistis bagi banyak orang. Harganya relatif lebih terjangkau, tetapi tetap memberikan sensasi menyenangkan yang instan.

Selain itu, produk beauty juga sering dikaitkan dengan aktivitas self-care. Memakai parfum favorit sebelum beraktivitas, mencoba lip product baru, atau melakukan rutinitas skincare di malam hari bisa menjadi cara sederhana untuk meningkatkan suasana hati. Mungkin karena itulah, di tengah berbagai perubahan tren dan kondisi ekonomi, industri kecantikan masih menjadi salah satu kategori yang mampu mempertahankan daya tariknya.

Baca juga: Smudged Eyeliner Is Back, Tren Makeup 90-an Ini Kembali Digemari! 

Saat little treat jadi cara menikmati hidup

lipstick effect

Jika dulu lipstick effect identik dengan penjualan lipstik yang meningkat saat ekonomi sedang lesu, kini istilah tersebut telah berevolusi menjadi gambaran yang lebih luas tentang bagaimana banyak orang, terutama Gen Z yang memandang kebahagiaan dan pengeluaran. Mulai dari lip balm, parfum, kopi, tiket konser, collectible toys, hingga liburan singkat, semuanya bisa menjadi bentuk little treat versi masing-masing orang.

Dan mungkin, di tengah berbagai ketidakpastian yang kita hadapi saat ini, itulah alasan mengapa lipstick effect masih terasa begitu relevan. Bukan karena kita ingin hidup mewah, tetapi karena sesekali, kebahagiaan kecil juga terasa layak untuk dirayakan.

Images: Dok. iStock