banner-detik

lifestyle

IKEA Soroti Kebiasaan ‘Asal Muat Dulu’ yang Buat Rumah Lebih Penuh dari Seharusnya

seo-img-article

Rumah cepat terasa sesak bukan berarti banyak barang, bisa jadi salah meletakkan barang. Ini tips dari IKEA!

Pernah nggak, lagi beres-beres rumah lalu ‘asal’ masukin barang ke berbagai tempat yang menurut kamu “yang penting muat”. Ternyata solusi ini sering kali menimbulkan suasana rumah yang jadi lebih penuh dari seharusnya. IKEA Indonesia juga melihat pola ini terus berulang pada pengamatannya di program Home Visit IKEA. “Ada banyak rumah yang tidak kecil, memiliki cukup ruang, tapi terasa penuh karena cara menyimpannya tidak konsisten atau tidak punya sistem yang baik. Banyak orang cenderung menambah solusi setiap kali merasa terdesak, bukan berhenti sejenak untuk melihat apa yang sebenarnya dibutuhkan. Akhirnya, barang tidak pernah benar-benar ‘punya tempat’, hanya berpindah-pindah,” jelas Ruth Pricilla Pandjaitan, Home Furnishing & Competence Development Leader IKEA Indonesia, mengutip dari siaran pers. 

Baca juga: Long Weekend Staycation di Surabaya? Intip Hotel Baru dengan Rooftop Infinity Pool Ini!

Melihat pola ini, IKEA mendorong masyarakat untuk memastikan bahwa setiap pilihan dapat menjawab kebutuhan di rumah. Perabot rumah tangga dan penyimpanan yang dirancang dengan fungsi yang jelas dari awal dapat membantu mengurangi kebutuhan untuk terus menyesuaikan clutter di kemudian hari. Sebagai langkah awal, berikut beberapa cara yang bisa mulai diterapkan di rumah, dan bisa langsung dipraktikkan. 

Mulai dari isi, bukan dari tambahannya 

Saat sebuah area terasa penuh atau berantakan, banyak orang langsung mencari penyimpanan tambahan. Padahal, yang disimpan tidak berubah volumenya, hanya pindah tempat. Maka dari itu, coba lihat kembali isi barangnya. Pisahkan isi lemari, laci, atau sudut rumah berdasarkan frekuensi penggunaan. 

Dari sini biasanya kelihatan mana yang memang dipakai, dan mana yang “numpang tempat”. Di tahap ini, pengatur laci atau organiser lemari bisa membantu menyusun ruang dan meminimalisir clutter. Misalnya, untuk pakaian bisa menggunakan seri STUK dan seri SKUBB, agar pakaian tetap rapi dan mudah diambil. Untuk aksesoris atau perlengkapan kecil bisa menggunakan seri NOJIG, kotak PLOGSVÄNG, atau seri KACKLA dengan ukuran fleksibel. Karena, dengan susunan barang yang jelas dan terorganisir, barang akan lebih mudah diambil dan ditaruh kembali.

Pisahkan mana yang ingin ditampilkan dan yang cukup disimpan 

Di banyak rumah, barang sering dikumpulkan di satu area, bisa di rak yang sudah ada, atau sudut yang jadi tempat untuk “taruh dulu”. Lama-lama, barang yang sering dipakai akan tercampur dengan barang koleksi dan barang cadangan. Hasilnya, area tersebut akan lebih cepat cluttered dan jadi sulit untuk digunakan. Menentukan dari awal mana yang ingin ditampilkan dan mana yang cukup disimpan bisa bikin area dan ruang jadi lebih jelas dan nggak cepat sesak. 

Rak terbuka seperti seri KALLAX atau seri BILLY bisa jadi solusi untuk barang yang memang ingin diperlihatkan atau sering diakses. Untuk barang lain yang mau tetap disimpan di area yang sama, bisa ditambahkan kotak seperti DRÖNA atau seri KUGGIS agar tetap tersimpan rapi dalam satu sistem yang sama, tanpa bikin visualnya terlalu ramai. Karena ketika barang punya tempat yang jelas, kebutuhan untuk memindahkan atau menumpuk jadi berkurang dengan sendirinya.

Baca juga: Koleksi Musim Panas PEDRO Tampilkan Inspirasi Gaya Rileks yang Elevated

Pilih ukuran yang memang sesuai, bukan yang ‘mendekati’ 

Salah satu hal yang sering bikin ruang terasa cepat penuh adalah ukuran perabot yang nggak benar-benar pas. Bukan karena produknya salah, tapi karena sejak awal dipilih yang “kayaknya cukup”. Ukuran yang tanggung akan sering membuat barang sulit untuk disusun rapi. Ada yang nggak muat bahkan akhirnya ditumpuk. Lama-lama, kebiasaan ini akan menciptakan lapisan baru yang membuat ruang terasa makin padat.

Memilih ukuran yang sesuai sejak awal dapat membantu sistem penyimpanan berfungsi lebih optimal. Misalnya, menggunakan kotak dengan dimensi yang konsisten, atau organiser yang memang dirancang mengikuti ukuran lemari dapat membuat barang lebih mudah disusun dan diakses. Dengan begitu, penyimpanan tidak perlu terus disesuaikan, karena sejak awal sudah berfungsi dalam satu sistem yang jelas.

Gunakan metode zoning untuk mengatur alur penggunaan 

Zoning sering dipahami sebagai membagi area untuk fungsi tertentu. Misalnya, membuat area “siap berangkat” di dekat pintu, tempat semua barang yang dipakai sebelum keluar rumah terkumpul. Atau sudut “wind down” di kamar, di mana barang-barang yang dipakai sebelum tidur diletakkan dalam satu jangkauan. Dengan pendekatan ini, barang jadi memiliki konteks penggunaan yang jelas.

Zoning seperti ini membantu mengurangi kebiasaan mengambil dari satu tempat dan menaruh di tempat lain. Barang digunakan di area yang sama dengan tempat penyimpanannya, sehingga nggak perlu berpindah-pindah atau menumpuk di titik lain. Ada banyak perabot pendukung dari IKEA tentunya yang bisa membantu membentuk zona-zona ini secara lebih konsisten. 

Baca juga: Bali All-Access Pass Hadirkan Akses Tanpa Batas dengan Layanan Concierge Pribadi!

Sisakan ruang dengan sengaja, dan pilih apa yang mau dipertahankan 

Pada akhirnya, nggak semua ruang perlu diisi dengan barang. Saat semua sudut terpakai, ruang justru lebih cepat terasa sesak dan sulit dijaga. Ini juga terkait apakah barang di rumah masih perlu digunakan atau tidak. Karena pada akhirnya, tidak semua barang perlu terus ada di dalam rumah. Sebagian memang bisa disimpan terpisah, namun ada juga yang bisa diberikan, atau dijual kembali sebagai preloved items agar tetap berguna.

Dengan menyaring barang atau decluttering secara berkala, akan lebih jelas mana yang memang dipakai dan mana yang hanya tersimpan sampai berdebu. Saat yang tersisa benar-benar relevan hanya yang digunakan, ruang dan rumah akan terasa lebih lega dan lebih mudah digunakan sehari-hari.

Itulah beberapa inspirasi untuk meletakkan barang supaya rumah nggak terlihat terlalu penuh. Semoga bermanfaat! 

 

Image: IKEA 

Slow Down

Please wait a moment to post another comment