
MOP Beauty dorong sustainability di industri kecantikan lewat beauty empties, waste station, dan sistem daur ulang yang inovatif.
Kalau ngomongin beauty brand, biasanya kita langsung kepikiran soal produk, shade, atau hasil akhirnya di kulit. Tapi sekarang, makin banyak brand yang mulai mikir lebih jauh, yaitu tentang dampak yang ditinggalkan. Di momen Hari Bumi tahun ini, MOP Beauty jadi salah satu brand lokal yang kembali menegaskan komitmennya untuk bergerak ke arah yang lebih sustainable. Bukan sekadar campaign musiman, tapi benar-benar membangun sistem yang bisa kasih dampak jangka panjang.
Baca juga: Sebentar Lagi Gajian! Intip 3 Lip Liner Lokal Baru yang Layak Dicoba

Sejak awal berdiri, brand yang didirikan oleh Tasya Farasya ini sudah membawa filosofi bahwa kecantikan juga punya tanggung jawab. Salah satu langkah awalnya adalah mengajak konsumen untuk lebih sadar dengan limbah kecantikan. Lewat program pengumpulan kemasan kosong atau beauty empties, MOP menyediakan drop point sekaligus memberikan apresiasi untuk partisipasi tersebut.
Menariknya, ini bukan jalan sendiri. Mereka juga berkolaborasi dengan Zero Waste Indonesia dan Lyfe With Less untuk memperkuat gerakan ini. Nggak berhenti di situ, MOP juga bekerja sama dengan Olah Plastic untuk mengolah limbah plastik jadi merchandise dan PR gifts berbahan daur ulang. Jadi, limbahnya benar-benar hidup lagi, bukan cuma dikumpulkan.

Salah satu langkah paling signifikan dari MOP adalah saat mereka meluncurkan waste station pertama di gedung RDTX Tower, Jakarta, pada Februari 2025. Bisa dibilang, ini jadi salah satu gebrakan karena MOP termasuk brand kecantikan lokal pertama yang membangun infrastruktur pengelolaan sampah seperti ini, bareng Rekosistem. Dalam waktu kurang dari setahun, sampah terkumpul mencapai lebih dari 33 ton, jauh melampaui target awal, ribuan kali waste drop dilakukan, dan ratusan pengguna aktif ikut berpartisipasi
Bahkan, dampaknya juga terasa ke lingkungan, seperti pengurangan emisi CO₂ dan efisiensi penggunaan bahan bakar. Dari sini kelihatan banget kalau ketika sistemnya tersedia dan mudah diakses, orang-orang juga jadi lebih terdorong untuk ikut berpartisipasi.
Baca juga: 2 Treatment Ini Bisa Gantiin Gym dan Bikin Tidurmu Lebih Nyenyak?
Nggak berhenti di Jakarta, MOP juga mulai memperluas jangkauan mereka ke generasi yang lebih muda. Pada Maret 2026, mereka menghadirkan waste station kedua di Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Baru satu bulan berjalan, responsnya sudah cukup positif, yaitu hampir satu ton sampah terkumpul, ratusan kali drop dilakukan, dan puluhan pengguna aktif ikut serta. Ini jadi sinyal kalau awareness soal sustainability di kalangan mahasiswa juga mulai meningkat, asal difasilitasi dengan cara yang tepat.
View this post on Instagram
Selain infrastruktur, MOP juga memperluas gerakan lewat kolaborasi kreatif. Salah satunya lewat pop-up exhibition ‘Journey into Sustainability: Waste to Worth’ yang merupakan bagian dari ARTCYCLE by ASHTA di ASHTA District 8. Di sini, pengunjung bisa drop beauty empties dari berbagai brand, bukan cuma MOP saja. Nantinya, semua kemasan yang terkumpul akan diproses lebih lanjut bersama Rekosistem. Konsepnya jadi lebih inklusif, siapa pun bisa ikut, tanpa harus terikat ke satu brand tertentu.
Kalau biasanya sustainability sering terasa seperti tren, pendekatan yang dilakukan MOP justru menunjukkan sebaliknya. Mereka melihat ini sebagai perjalanan jangka panjang, yang terus berkembang lewat penambahan waste infrastructure, kolaborasi baru, dan inovasi produk yang lebih responsible. Itu karena pada akhirnya, langkah-langkah kecil seperti ini yang kalau dilakukan bareng-bareng bisa jadi perubahan besar.
Baca juga: Underpainting Makeup, Teknik yang Bikin Complexion Lebih Seamless!
Dan mungkin ini juga jadi pengingat, dalam dunia beauty yang terus berkembang, cantik sekarang bukan cuma soal hasil akhir di kulit, tapi juga tentang bagaimana kita berkontribusi ke lingkungan!
Images: Dok. MOP Beauty