
Jangan sampai kelewatan, film ‘Tunggu Aku Sukses Nanti’ yang bertabur bintang ini.
Kalau kamu lagi mencari tontonan yang nggak cuma menghibur, tetapi juga menyentil emosi. ‘Tunggu Aku Sukses Nanti/ karya Naya Anindita bisa banget jadi salah satu film yang masuk watchlist kamu. Kisah ini mengangkat realita kehidupan di usia 28 tahun, yang terasa dekat dengan kehidupan banyak orang khususnya di usia yang sama. Kalau kamu masih ingat dengan film ‘Home Sweet Loan’ dan ‘1 Kakak 7 Ponakan’, film ini juga mencerminkan karakter yang kurang lebih struggle nya mirip.
Baca juga: Seo In Guk Spill Chemistry dengan Jisoo di Drama Boyfriend on Demand!

Film ini berpusat pada Arga (Ardit Erwandha), pemuda yang masih berusaha menemukan arah hidupnya di usia 28 tahun. Belum memiliki pekerjaan tetap membuatnya harus menghadapi tekanan dari berbagai sisi, terutama keluarga besar yang selalu menjadikan momen Lebaran sebagai ajang bertanya soal karier dan masa depan. Tekanan tersebut semakin berat ketika kondisi ekonomi keluarga mulai goyah. Adiknya terancam putus kuliah, sementara situasi finansial keluarga juga tidak stabil. Di tengah semua itu, Arga berusaha membuktikan bahwa dirinya bisa sukses dan menjadi sosok yang diandalkan.

Salah satu kekuatan film ini adalah bagaimana ceritanya terasa sangat relate, terutama untuk generasi sandwich. Di usia yang dianggap “seharusnya sudah mapan” apalagi sebagai anak pertama, kenyataannya banyak orang masih berjuang dari nol. Belum punya pekerjaan tetap di usia 28 bisa terasa seperti kegagalan, apalagi ketika lingkungan sekitar terus mempertanyakan pencapaian kita. Bahkan saat sudah bekerja, tekanan tidak serta-merta hilang, justru sering kali pencapaian berubah jadi ajang validasi yang melelahkan.

Selain soal keluarga dan karier, film ini juga menyoroti hubungan Arga dengan kekasihnya. Hubungan yang sudah dibangun dari nol ternyata nggak menjamin akhir yang bahagia. Jika kamu pernah familiar dengan kisah, “pacaran bertahun-tahun, nemenin dari 0 ternyata nikahnya sama orang lain,” itulah yang terjadi di film ini. Perbedaan kesiapan dalam menjalani komitmen menjadi konflik utama. Ketika satu pihak menginginkan kepastian, sementara yang lain masih sibuk menyelesaikan dirinya sendiri, hubungan pun menjadi nggak seimbang. Film ini dengan jujur menunjukkan bahwa cinta saja nggak selalu cukup tanpa kesiapan emosional dan ruang untuk tumbuh bersama.

Karakter Arga juga digambarkan sebagai sosok yang mudah terpancing emosi. Di tengah tekanan hidup yang bertubi-tubi, kemarahan sering kali menjadi pelampiasan. Namun, film ini memperlihatkan bahwa kemarahan nggak menyelesaikan masalah, karena semakin banyak masalah yang datang. Justru yang dibutuhkan adalah jeda, waktu untuk menenangkan diri dan mencari solusi tanpa dikuasai emosi.

Ketika momen lebaran tiba, di situlah keluarga besar yang ketemunya setahun sekali berkumpul. Nggak sedikit anggota keluarga yang akan menanyakan tentang pekerjaan maupun asmara. Memang basa-basi tersebut terdengar umum dan biasa, tetapi bagi orang yang belum memiliki pekerjaan atau belum memiliki pasangan, akan terdengar sangat sensitif. Karakter Tante Yuli di film ini benar-benar menggambarkan bagaimana Bude-Bude di dunia nyata melemparkan pertanyaan yang sama, hingga menimbulkan rasa kesal juga di penonton.
Film ini bukan sekadar drama tentang sukses atau gagal. Film ini adalah tentang proses yang nggak selalu mulus, dan sering kali penuh tekanan. Melalui cerita Arga, kita diajak menyadari bahwa setiap orang memiliki timeline hidupnya masing-masing.
Bagi kamu yang penasaran, film ‘Tunggu Aku Sukses Nanti’ dapat kamu saksikan di bioskop terdekat kamu!
Image: dok. Film