ic-fd

Feminitas, Stereotip, dan Kebiasaan Mempertahankan Ketimpangan Gender

backstage beauty
author

Poppy_Septia・08 Mar 2022

detail-thumb
Label feminin kerap membuat seseorang terkurung dalam citra “perempuan seharusnya” yang diciptakan masyarakat, dan menjadikannya salah bila berani bertindak atau bersuara. 

Memiliki suara pelan, suka warna merah muda, tampil kalem, nggak pandai olahraga, sejak kecil saya selalu dilabeli girly, atau feminin. Saya kemudian tumbuh menjadi sosok yang bagi banyak orang “sangat perempuan”, karena lemah lembut, penurut, tidak suka ribut, tidak suka protes, senang memasak, bisa makeup, dan jarang marah. Apakah feminitas pada diri saya itu ideal dan memudahkan? Jawabannya, tidak.

Kita tumbuh dalam budaya pelabelan

Seiring waktu, pada ujung usia 20-an, saya baru merasakan saya jarang punya suara untuk diri sendiri. Tanpa saya sadari, saya jadi sosok yang senang sekali mengalah. Saya si penurut kerap kali melakukan hal-hal untuk orang lain, mementingkan kebahagiaan orang lain di atas kepentingan saya. Saya yang terlihat dan dianggap lembut ini, akhirnya jadi sering menekan diri sendiri dan merasa dikecilkan, diperlakukan kurang adil di lingkungan kerja bahkan di keluarga, karena mungkin dianggap bisa menanggungnya, karena dianggap bisa memaklumi, karena tampak baik hati dan pemaaf, sehingga sedikit kemungkinannya untuk murka.

Pernah suatu waktu, saya merasa kecewa dan marah berkat perlakuan dan kejadian tidak menyenangkan di lingkungan terdekat saya. Saya amat sangat marah dan memutuskan mengungkapkan segala luka, bahkan seingat saya itu adalah kali pertama saya begitu marah dan letih dalam hidup saya, sampai saya kewalahan untuk menahannya. Kala itu saya tidak bisa berpura-pura tetap dalam positive vibes, dan sudah tidak mampu lagi menyampaikan perasaan saya dengan cara elegan – seperti yang mungkin banyak orang harapkan, hanya karena saya sosok yang feminin, seperti label yang mereka berikan sendiri.

Lalu, apa yang terjadi? Bukannya fokus pada inti permasalahan dan mencari solusinya, mereka justru fokus pada “perubahan” saya. Mereka terkejut bahwa saya bisa bertransformasi menjadi sosok berbeda saat menyuarakan kegelisahan saya. Mereka bingung, saya yang tampak kalem dan selalu menurut, bisa speak up dengan suara lantang dan emosional. Saya yang biasanya memilih diam, berubah menjadi tidak gentar berbicara, dan berujung mendapat label baru: sok pintar.

Perlahan saya mulai membenci feminitas yang terlanjur melekat itu. Saya tidak suka dianggap tidak tangguh. Saya tidak mau diremehkan atau dianggap tidak bisa bersuara. Hanya karena saya perempuan dan berpenampilan feminin, bukan berarti saya adalah sosok yang hanya bisa mengeluh dalam hati dan berdiam. Saya pun manusia biasa seperti yang lainnya, yang juga memiliki berbagai jenis emosi, bisa marah, bisa kecewa, dan tentunya punya hak untuk mengungkapkan pendapat.

Selama ini feminitas, label, dan stereotip yang saya sandang, malah kerap membuat saya membiarkan orang lain berlaku di luar batasan, karena melalui look saya, orang sering beranggapan dan penuh pengharapan bahwa saya tipe anak manis, “nrimo”, ramah, yang tidak bisa marah dan akan selalu baik-baik saja. Pernahkah kamu mengalami hal serupa?

Apakah feminitas itu?

Feminitas adalah ukuran orang-orang, konstruksi sosial, tentang bagaimana masyarakat memandang perempuan, seperti halnya maskulinitas yang merupakan bagaimana cara masyarakat memandang laki-laki. Secara sosiologis, feminitas menjadi anggapan perempuan “ideal”, tipe yang diam di rumah saja, menjadi ibu rumah tangga, dan membantu laki-laki sebagai pasangannya. Sementara laki-laki merupakan pribadi yang kuat, tangguh, berjiwa pemimpin, dan sebagainya.

Lantas, apakah perempuan yang feminin tidak boleh bekerja dan meniti karier? Apakah mereka yang berpenampilan lembut tidak berhak mengutarakan pendapat dan dilarang memperlihatkan kemarahannya? Lalu sebaliknya, perempuan yang tidak feminin, rebel, bisa olahraga bela diri, atau bekerja di bidang yang didominasi laki-laki, jadi tidak layak disebut perempuan?

Apakah menjadi single di atas usia 30 atau berpisah dengan suami, merupakan tindakan yang menodai citra perempuan? Apakah perempuan hanya boleh berbicara, bersikap, berpakaian, menikah, melahirkan, sesuai dengan standar-standar yang ada di masyarakat saja? Dan masih ada lagi segudang pertanyaan lainnya, yang sayangnya, hingga saat ini masih bisa kita lontarkan, karena label, bias, dan stereotip masih tumbuh subur di sekitar kita.

Padahal, untuk mempelajari kehidupan perempuan secara utuh, tidak bisa melalui hal-hal yang terlihat dari luarnya saja. Kita harus yakin perempuan adalah sosok yang lebih dari sekadar fisik dan penampilannya, lebih dari embel-embel yang diucapkan orang lain padanya berulang-ulang. Perempuan bukan sekadar pendamping, atau pelengkap, atau pemilik suara kedua. Mengkotak-kotakkan perempuan hanya akan membatasi ruang geraknya, menciptakan ketimpangan kuasa yang nyata, padahal setiap orang – baik laki-laki maupun perempuan, butuh mengembangkan diri dan berdaya.

Menghapus stereotip terhadap perempuan

Bagaimana perempuan di dunia bisa lebih bangkit dan berdaya, bila kita sehari-hari masih melanggengkan stereotip, pelabelan, stigma terhadap perempuan? Padahal topik ini masih tergolong basic, dibandingkan permasalahan-permasalahan perempuan lainnya seperti kekerasan domestik atau pelecehan seksual. Gagasan-gagasan yang memandang bahwa laki-laki lebih mampu, lebih superior, lebih powerful, lebih kompeten dibanding perempuan harus ditepiskan.

#BreakTheBias bisa dimulai dari hal-hal sederhana, dalam ruang paling kecil, mulai dari lingkungan keluarga, sekolah, perkuliahan, hingga pekerjaan. Kesadaran bersama dalam melindungi perempuan, menghargai perempuan, serta membebaskan perempuan dari stereotip dan bias, bisa mengurangi hal-hal terkait ketimpangan gender, seperti yang dilansir dari website Kemendikbud:

Bidang Politik

Adanya pandangan bahwa politik itu keras, penuh debat, serta pikiran yang cerdas yang kesemuanya itu diasumsikan sebagai dunia laki-laki, bukan milik perempuan. Sehingga area publik menjadi milik laki-laki sedangkan area domestik menjadi milik perempuan. Ketercapaian minimal 30% anggota DPR/DPRD di berbagai daerah tidak terpenuhi.

Bidang Ekonomi

Masih sedikit pengakuan pada kaum perempuan ketika mereka sukses dan berhasil menjadi pelaku ekonomi, karena masyarakat menganggap aktivitas ekonomi yang dijalani perempuan sekedar sampingan, bukan kerja yang prestisius seperti yang dilakukan laki-laki.

Bidang Dunia Kerja

Dalam dunia kerja perempuan harus berjuang untuk menunjukkan bahwa mereka juga dapat menjadi tenaga profesional yang tidak kalah dari laki- laki. Sektor publik belum disiapkan menerima kehadiran perempuan sebagai leader (pemimpin), sehingga harus bersaing dan mampu menunjukkan bahwa perempuan tidak hanya pantas sebagai istri dan ibu tetapi bisa menjadi pekerja profesional.

Bidang Pendidikan

Ketimpangan gender dalam bidang pendidikan dialami perempuan yang tinggal di pedesaan, pemikiran bahwa perempuan bersekolah hanya untuk dapat membaca dan menulis saja, karena pada akhirnya perempuan akan menjadi ibu rumah tangga. Hal tersebut sangat menghambat kesempatan perempuan desa untuk berpendidikan tinggi.

Nah, ada banyak kan contoh ketimpangan gender? Apakah kamu pernah atau masih merasakan salah satunya? Untuk mengubah hal-hal di atas, tentunya kita nggak bisa berjalan sendirian. Demi menciptakan dunia yang lebih nyaman dan budaya yang lebih inklusif bagi perempuan, sudah tugas kita untuk menyadari bersama-sama bahwa perempuan bisa setara. Selamat hari perempuan sedunia!

Image: Freepik.