backstage beauty

#BreakTheBias, Stop Beauty Privilege

seo-img-article

Coba ingat-ingat kembali, pernahkah kamu memaklumi kesalahan seseorang hanya karena ia memiliki paras rupawan? Itulah yang dinamakan beauty privilege.

 

Kita tentunya sering mendengar ungkapan “It hurts to be beautiful” atau “Beauty is pain” untuk menggambarkan bahwa menjadi cantik butuh pengorbanan yang kadang menyakitkan. Dalam bukunya yang berjudul The Beauty Bias, Deborah L. Rhode berusaha mematahkan pernyataan tersebut dengan memaparkan beragam faktor yang membuktikan bahwa menjadi tidak cantik sesungguhnya lebih menyakitkan, karena kita hidup di tengah masyarakat yang mengedepankan penampilan fisik dan hanya mereka yang memiliki paras rupawan yang diuntungkan. Inilah prinsip beauty bias atau yang biasa juga disebut beauty privilege.

Baca juga: Perempuan Lebih dari Sekadar Stereotipe yang Ada #BreakTheBias

Seperti apa bentuk beauty privilege dalam kehidupan sehari-hari?

beauty privilege

Memaklumi kesalahan seseorang hanya karena parasnya yang rupawan merupakan contoh beauty privilege yang paling sederhana dan fenomena inilah yang melahirkan candaan “Orang cakep mah bebas”. Mungkin kamu juga pernah melihat seseorang yang tadinya tidak pernah menjadi pusat perhatian berubah menjadi pusat perhatian karena perubahan penampilan fisiknya, baik di sekolah, kampus, atau kantor.

Ya, dalam lingkungan kerja, beauty privilege  pun kerap terjadi, misalnya iklan lowongan pekerjaan yang mensyaratkan kandidat untuk memiliki paras dan penampilan yang menarik atau bahkan kesempatan promosi yang lebih mudah bagi yang memiliki paras dan penampilan yang menarik daripada bagi yang berpenampilan biasa-biasa saja.

Menurut FD Community, orang-orang yang berparas rupawan secara otomatis lebih disukai, dihargai, dan diperlakukan dengan baik sehingga hidup mereka dipenuhi kemudahan yang difasilitasi oleh lingkungannya. Seorang FD Community member bernama Elizabeth Paula bahkan mengatakan bahwa 50% dari total masalah hidup orang-orang yang berparas rupawan akan terselesaikan dengan mudah hanya karena parasnya.

beauty privilege

Ia juga menceritakan pengalamannya menerima diskriminasi saat hendak berbelanja beauty product di salah satu beauty store, “Aku memasuki beauty store tersebut mengenakan kaos dan celana panjang dengan menenteng handbag yang biasa-biasa saja, tetapi tatapan yang diberikan BA (Beauty Assistant) sama sekali tidak biasa. Aku baru dilayani dengan baik kalau sudah menemukan produk yang pasti akan kubeli. Bahkan ketika aku tidak jadi membeli complexion product karena shade-ku tidak ada, sekumpulan BA yang bertugas malah saling berbisik sambil melirik-lirik ke arahku. Sikap mereka berubah 180 derajat ketika pelanggan lain datang yang kecantikannya sesuai standar kecantikan dan penampilannya juga lebih fashionable. Padahal pelanggan itu ujung-ujungnya juga tidak membeli apapun, sama seperti aku.”

Ya, beauty privilege sungguh nyata adanya.

Baca juga: Publik Figure Juga Nggak Lepas dari Beauty Standar

Perlukah beauty privilege dinormalisasi atau dihapuskan?

beauty privilege

Konon katanya, beauty is in the eye of the beholder alias kecantikan itu subjektif. Namun, pada kenyataannya, berbagai hasil riset menunjukkan bahwa ada kesepahaman mengenai konsep kecantikan di berbagai belahan masyarakat di dunia. Well, bayi pun telah terbukti sudah bisa membedakan orang yang good looking dengan orang yang less good looking.

Alan Slater dari University of Exeter, Inggris telah melakukan penelitian dengan memperlihatkan beberapa foto perempuan, mulai dari yang good looking hingga yang less good looking, kepada beberapa bayi untuk mengetahui foto mana yang mendapatkan perhatian lebih. Bayi-bayi tersebut ternyata memberikan lebih banyak perhatian kepada foto perempuan yang good looking, sehingga Alan Slater menyimpulkan bahwa memang sudah naturnya manusia untuk memberikan perhatian lebih kepada apa yang mereka anggap rupawan.

Apakah ini artinya beauty privilege perlu dinormalisasi?

beauty privilege

FD Community tidak berpendapat demikian. Menurut FD Community, beauty privilege tidak perlu dinormalisasi dan akan lebih baik jika dihapuskan. Salah satu FD Community member bahkan berharap, jika beauty privilege bisa dihapuskan, semua orang akan bisa memperlakukan satu sama lain dengan sama rata dan respectful, terlepas dari penampilan mereka. 

Andrew Pearson, seorang praktisi hipnoterapi dari Inggris, percaya bahwa beauty privilege merupakan sebuah social conditioning, sehingga apabila kita selama ini terkondisi untuk mengistimewakan mereka yang berparas rupawan, kita bisa melakukan re-kondisi untuk tidak lagi mengistimewakan mereka. Sulitkah? Tentu saja. Unlearning something that is learned for a long time is hard. Apalagi mengubah sesuatu yang melibatkan standar kecantikan yang mengakar di dalam sebuah masyarakat selama ratusan tahun. Nevertheless, it is doable.

 

Apakah kamu punya pendapat lain mengenai beauty privilege? Yuk, kita diskusi santai di kolom komentar.

 

 

Image: Sam Manns, Karl Magnuson, Billie, Charisse Kenion for Unsplash

 

Slow Down

Please wait a moment to post another comment