Dampak Black Lives Matter pada Skincare Pemutih

intagram beauty 2

Teknologi dan zaman berubah, secara nggak sadar persepsi, kebiasaan dan standar zaman dahulu juga terpaksa untuk berubah. Is it a bad thing? Untuk beberapa hal, justru perubahan ini malah penting banget untuk dilakukan. Contohnya seperti perubahan standard beauty. Seperti campaign yang sering dibawakan dan diingatkan oleh tim Female Daily, beauty comes with different size and colour, and we all should embrace it. Artinya? Nggak ada lagi yang bisa bilang, kalau yang cantik itu putih dan kurus. You know the drill right?

Sudahkah beauty standard zaman batu ini hilang, di zaman modern sekarang? Belum hilang, hanya saja perlahan-lahan mulai berubah. Mulai banyak beauty brand khususnya, dari luar negeri yang mulai menyediakan warna foundation yang lebih luas dan bisa mencakup semua warna jenis kulit. Tapi, apakah bertambahnya pilihan warna foundation yang gelap, sudah cukup untuk menghilangkan standard beauty zaman batu ini? Jawaban dari saya, tentunya nggak. Karena saat mau mengubah standard beauty, harus mulai dari mindset. Artinya perlu ada perubahan dan didukung dari beberapa sisi.

Perubahan apa saja? Pertama adalah foto campaign untuk produk makeup atau skincare yang too much editing. Kedua adalah perubahan nama produk skincare yang masih menggunakan kata-kata line “fair, lightening , dan whitening”. Kalau masih banyak brand skincare yang menggunakan tag line ini, gimana orang mau percaya kalau kulit putih bukanlah goals-nya?

Nah, desakan untuk menghilangkan tag line “fair, lightening , dan whitening” akhirnya datang juga. It’s all coming from Black Lives Matters. Tahukan isu yang satu ini? Satu isu yang lagi non-stop dibahas di media manapun? Kalau belum, sedikit pemabahasan mengenai BLM ini bisa kalian baca di artikel yang sudah ditulis oleh Regina, “5 Black Owned Beauty Products yang Mengingatkan Bahwa #BlackLivesMatter

But wait, apa hubungannya iklan skincare dan black lives matter? Lihat saja salah satu iklan skincare di atas ini. Apa pesan yang saya dapatkan dari iklan di atas? Pesan yang saya dapatkan adalah, kalau mau sukses dan mudah mendapatkan kesempatan emas, kulit kalian harus putih. So basically, pesan yang disampaikan adalah kulit putih itu memiliki kasta yang lebih tinggi, ketimbang kulit hitam. Iklan seperti ini banyak banget ditemukan di negara Asia, seperti Indonesia, Malaysia, India, Thailand dan masih banyak lagi. Jadinya iklan ini rasis dan stereotyping, seperti #BlackLivesMatter.

Maka dari itu, sekarang banyak banget yang menuntut brand skincare untuk stop menggunakan kata-kata, “fair, lightening , dan whitening”. Dan permintaan ini langsung ditanggapi oleh dua perusahaan besar, yaitu L’Oreal dan Unilever. Kedua perusahaan ini akan stop menggunakan kata-kata “fair, lightening , dan whitening” pada produk skincare mereka, kemudian stop menggunakan foto proses perubahan dari kulit gelap ke putih, dan Unilever berencana untuk mengganti salah satu nama brand mereka, yang memiliki unsur kata-kata pemutih di dalamnya.

Semoga dengan tindakan yang diambil oleh L’Oreal dan Unilever, semakin banyak brand skincare yang nggak menggunakan lagi kata-kata “fair, lightening , dan whitening”. Dan tentunya, semoga kita yang di Indonesia pun, nggak lagi mencari produk-produk skincare yang fungsinya memutihkan kulit.