5 Hoax dan Fakta Seputar Covid-19

CORONAVIRUS - TERHINDAR DARI VIRUS

Seperti yang kita ketahui bersama, penyebaran penyakit Covid-19 berlangsung sangat cepat. Siapa pun rentan terinfeksi. Perang melawan coronavirus, nggak cukup jika hanya bergantung pada pemerintah atau otoritas setempat. Kita semua perlu jadi lebih proaktif menghadapi situasi ini.

Cara terbaik yang bisa kita lakukan saat ini adalah: educate ourselves and our beloved ones. Tapi hal ini agak tricky juga, sih. Dengan mudah dan melimpahnya informasi yang bisa kita peroleh tentang Covid-19, informasi palsu atau hoax pun makin merajalela dan berpotensi menyesatkan.

Hoax tentang virus ini bisa-bisa lebih berbahaya dari virus itu sendiri, penyebarannya pun jauh lebih cepat dibanding virus itu sendiri. Hoax yang beredar tentang Covid-19, dapat menyebabkan kepanikan dan kesalahan dalam cara memberikan treatment terhadap diri sendiri dan orang lain. Hingga saat ini saja, Kominfo sudah mendeteksi lebih dari 200 hoax terkait Covid-19, yang mungkin jumlahnya masih akan bertambah.

Baca juga: Cara Cerdas Menangkis Hoax Kecantikan di Era Digital

Sayangnya, keterampilan literasi informasi yang masih terbilang rendah dikalangan masyarakat Indonesia, bikin hoax-hoax seputar Covid-19 makin mudah untuk menyebar. Terlebih lagi dikalangan generasi X dan Baby Boomers yang masih gagap menggunakan media sosial. Udah bukan rahasia lagi, kalau group chat WhatsApp dan timeline Facebook atau pun Instagram orangtua kita, bersarang banyak sekali hoax. Bukan sebatas kalangan orang tua saja, lho. Generasi Millennials dan Gen Z, juga harus ekstra ketat dalam mem-filter informasi tentang pandemi ini.

Berikut beberapa mitos dan fakta  yang ramai seputar penyebaran dan pencegahan Covid-19 yang harus banget kamu tahu:

Polusi Kota Seberapa Bahaya untuk Kulit?- female daily

Coronavirus nggak bisa bertahan di iklim tropis

Sebelum pemerintah mengumumkan secara resmi dua orang pertama yang positif Covid-19 di Indonesia, banyak masyarakat yang masih santai dengan merebaknya wabah Covid-19 di seluruh dunia. Bahkan banyak yang bikin jokes soal “kekebalan” orang Indonesia terhadap Coronavirus. Ada juga yang bilang bahwa Coronavirus nggak bisa masuk ke Indonesia karena iklim yang tropis yang panas dan lembap.

Saya nggak habis pikir kalau ada yang percaya misinformasi ini, sih. Pasalnya, Malaysia dan Singapura yang notabene punya iklim yang sama, dan tetangga lima langkah dari Indonesia saja sudah lebih dulu terkena wabah ini. Faktanya, WHO mengatakan bahwa Coronavirus bisa menyebar di negara dengan iklim apapun, termasuk iklim tropis. Begitu pun cuaca dingin nggak akan mampu menahan atau membunuh Coronavirus.

minum air

Banyak minum air putih bisa menangkal Coronavirus

Hidrasi yang cukup memang sangat diperlukan oleh tubuh. Karenanya minum air putih yang cukup sangat disarankan untuk menjaga kesehaatan secara menyeluruh. Namun langkah ini saja nggak cukup untuk menangkal Coronavirus. Saat sedang flu atau atau nggak enak badan, sering kita dianjurkan untuk banyak minum air agar tenggorokan lebih lega. Faktanya, dalam kasus Covid-19, gangguan di tenggorokan nggak dapat dibereskan dengan hanya minum air putih saja.

Baca juga: Yuk, Gabung dengan Atta Halilintar & Rachel Vennya Galang Dana Buat COVID-19!

Berkumur air hangat ditambah garam dan cuka bisa menghilangkan Coronavirus

Sama halnya dengan misinformasi soal air putih di atas, kumur-kumur dengan garam dan cuka sering dilakukan untuk mengatasi sakit tenggorokan dikala flu, tapi nggak bisa digunakan untuk mengobati gejala akibat Covid-19. Sebuah informasi ramai beredar di berbagai media sosial, yang mengatakan bahwa sebelum Coronavirus mencapai paru-paru, virus bertahan di tenggorokan selama 4 hari, selama itu, seseorang akan merasakan gangguan pada tenggorokannya. Dengan kumur-kumur menggunakan air hangat ditambahkan garam dan cuka, virus tersebut dapat mati sebelum mencapai paru-paru.

Sumber: snopes.com

Faktanya, hal ini benar-benar keliru dan menyesatkan. Nggak ada data ilmiah yang menyebutkan bahwa virus bertahan di tenggorokan selama 4 hari. Nggak ada pula bukti secara ilmiah yang menunjukkan cara ini efektif untuk mematikan virus. Jadi, informasi ini dapat dipastikan adalah hoax.

MINUMAN HANGAT UNTUK MEMBANTU MENGURANGI FLU 4

Jus lemon bisa menyembuhkan kanker, begitu pula Covid-19

Kayaknya lemon dianggap buah yang superpower oleh sebagian orang, ya. Banyak banget informasi salah mengenai manfaat lemon yang beredar di internet, mulai dari untuk mencerahkan kulit, mengobati jerawat, detox usus, hingga menyembuhkan kanker dan Covid-19. Namun informasi palsu tentang manfaat lemon untuk megobati kanker bukan hoax kemarin sore. Info salah ini sudah lama ada dan kini digaungkan kembali dan dikait-kaitkan dengan Covid-19.

Faktanya, lemon yang disebut-sebut bisa menyembuhkan kanker sendiri telah dibatah oleh Cancer Research UK sejak tahun 2013, lho! Nggak ada bukti saintifik yang menunjukkan efektivitas air perasan lemon dalam melawan kanker, apa lagi Covid-19 yang merupakan penyakit yang diakibatkan oleh virus. Sehingga perbandingan antara kanker dan Covid-19 dalam pesan ini saja sudah nggak apple-to-apple.

Dalam kaitannya dengan Covid-19, WHO hingga saat ini masih menyatakan belum ada obat atau treatment spesifik yang diketahui efektif untuk pencegahan maupun penyembuhan Covid-19, termasuk pula antibiotik, vaksin pneumonia, dan konsumsi bawang putih yang juga sering disebut dapat menangkal dan menyembuhkan Covid-19.

Perokok kebal terhadap Coronavirus

Hoax lainnya yang beredar di media sosial terkait Covid-19 adalah pernyataan mengenai perokok yang kebal dengan Coronavirus. Dari pesan yang beredar tersebut, disebutkan kalau tembakau dan cengkeh dapat menangkal Coronavirus, sehingga asap rokok dianggap baik untuk menjaga tubuh dari Covid-19.

Kalau saya sih merasa ini hanya denial dari para perokok aktif supaya nggak dilarang merokok, sih, hahaha. Pesan ini jelas saja hoax. Jauh sebelum Covid-19 mewabah di Wuhan, buruknya dampak rokok terhadap kesehatan organ pernafasan sudah nggak perlu diperdebatkan lagi, apa lagi setelah adanya Covid-19 yang merupakan penyakit yang menyerang sistem pernapasan. Faktanya, dilansir dari VOA, Lembaga Biologi Molekuler Eijkman justru menyebutkan bahwa perilaku merokok bagi perokok aktif dapat meningkatkan risiko terinfeksi Coronavirus.

Selain itu, dalam halaman Q&A WHO juga menegaskan bahwa dari beberapa hal yang SEHARUSNYA NGGAK DILAKUKAN, karena nggak terbukti efektif dalam mencegah dan mengobati Covid-19, dan malahan akan berbahaya, salah satunya adalah merokok.

Sumber: WHO

Pada dasarnya, membagikan informasi kesehatan pada orang-orang terdekat adalah bentuk caring kita pada orang-orang tersayang. Namun, perlu digarisbawahi bahwa nggak semua informasi yang beredar adalah benar. Lebih baik saring dulu info yang diperoleh sebelum di-sharing, jangan sampai hoax malah makin menyebar karena kita asal forward.