5 Influencer Ini Sebarkan Body-Positivity Lewat Kondisi Uniknya

o-BODY-POSITIVE-GIFT-GUIDE-facebook

Social media might be very stressful and toxic. Pada tahun 2017 lalu, Instagram dinyatakan sebagai platform yang terburuk untuk kesehatan mental. Salah satu yang menjadi dampak dari penggunaan platform satu ini berkaitan dengan body image. Namun lima influencer ini justru menjadikan media sosial sebagai platform untuk menyebarkan body-positivity ke seluruh penjuru dunia.

Dalam sebuah report berjudul Status of Mind: Social media and young people’s mental health pada tahun 2017 menyatakan bahwa media sosial punya beberapa potensi dampak negatif mulai dari Fear of Missing Out (FoMO), gangguan tidur, kecemasan dan depresi, cyberbullying, hingga body imageBody image adalah salah satu isu yang dialami oleh banyak kalangan remaja dan dewasa muda, akibat media sosial. Dikutip dari report tersebut, sembilan dari 10 remaja perempuan menyatakan tidak merasa bahagia atau puas dengan tubuh mereka.

Media sosial memang berdampak segawat itu terhadap body image kita. Akibatnya, kita merasakan adanya tekanan untuk terus tampil prima baik di dunia nyata maupun maya. Nggak jarang, satu jerawat di wajah saja sudah cukup bikin kita kehilangan rasa percaya diri. Padahal banyak banget di luar sana yang punya kondisi tertentu pada kulit dan tubuh mereka, namun tetap percaya diri bahkan mampu menebar body-positivity di media sosial. Kalau kamu merasa selalu nggak puas dan nggak pede dengan body image mu sendiri, mungkin kamu bisa follow lima sosok influencer berikut.

Baca juga: Ini Alasan Self-Acceptance Sulit Diterapkan di Dunia Modern

 

Winnie Harlow

Sumber: Instagram @winnieharlow

Sumber: Instagram @winnieharlow

 

 

Siapa tak kenal Winnie Harlow? Sosok ini sudah mendunia sejak mengikuti ajang America’s Next Top Model pada tahun 2014. Lahir di Toronto, Canada 27 Juli 1994 dengan nama Chantelle Whitney Brown-Young, Winnie tenar sebagai model dengan kondisi kulit vitiligo. Pada usia empat tahun Winnie mengalami vitiligo, kondisi dimana terjadi depigmentasi pada sebagian kulit. Kondisi langka ini dialami oleh satu dari seratus orang. Vitiligo juga dianggap sebagai gangguan autoimun yang menyebabkan gangguan pada sel melanosit atau penghasil pigmen pada kulit. Akibatnya, ia memiliki warna kulit yang tidak merata sehingga kerap dijuluki sapi atau zebra oleh anak-anak seusianya dulu. Berbagai bentuk verbal bullying yang dialaminya membuat Winnie berkali-kali harus pindah sekolah, hingga melakukan percobaan bunuh diri.

But look at her now! Winnie Harlow telah mengukir sejarah sebagai model pertama yang mengidap vitiligo yang berhasil eksis di berbagai runway dan sampul majalah terkenal dunia. Winnie sempat mengatakan pada Forbes: “My definition of beauty shouldn’t have anything to do with your definition of beauty. I think beauty is really within the eye of the beholder. Everyone should stop focusing on what everyone else thinks beautiful is.”

Shalom Blac

Shalom Blac

Sumber: Instagram @shalomblac

Pernah terbayang punya luka bakar di sekujur tubuh yang membekas permanen? Saya bahkan nggak pernah terpikir bagaimana rasanya punya luka bakar kecil sekali pun. Tapi inilah yang harus dialami oleh Shalom Nchom’ atau yang lebih dikenal dengan Shalom BlacWanita keturunan Nigeria ini menderita luka bakar yang cukup parah sejak masa kanak-kanak. Luka bakar itu didapatnya dari sebuah kecelakaan yang terjadi saat ia berusia 9 tahun, di mana pada saat itu Shalom tersiram minyak panas di toko milik keluarganya. Ia menderita luka bakar yang sangat serius di kepala, wajah, leher dan badan sehingga ia harus dilarikan ke rumah sakit dan menjalani operasi di Amerika Serikat.

Luka bakar yang dialaminya nggak cuma menyebabkan kerusakan pada kulitnya, tapi juga menyebabkan rambut tidak dapat tumbuh di area kepala sehingga ia mengalami kebotakan. Luka bakarnya sempat membuatnya medapat perundungan di sekolah, bahkan dianggap sebagai monster oleh teman sebayanya. Shalom pun sempat mengalami depresi dan berniat bunuh diri. 

Shalom Blac

Sumber: Instagram @shalomblac

Kini, Shalom bangkit dari rasa terpuruknya dan lebih menerima keadaannya dan percaya diri menunjukkan dirinya apa adanya. Ia kini telah memiliki 1,42 juta subscriber di channel YouTube-nya dan aktif membagikan konten seputar makeup dan self-acceptance. Menurutnya “You have to be grateful for what you have because you never know what someone else may be going through”.

Mariana Mendes

Sumber: Instagram @marianamendes.m

Sumber: Instagram @marianamendes.m

Mariana adalah seorang model dan influencer asal Juiz de Fora, Brazil. Sebagai seorang model, Mariana dengan bangga menonjolkan keunikan yang dimilikinya, yakni sebuah bercak berwarna hitam besar yang terletak di wajahnya. Bercak tersebut sebenarnya adalah congenital melanocytic nevus (CMN), atau yang lebih dikenal sebagai tanda lahir. CMN seperti tumor jinak yang muncul akibat malformasi sel pigmen (melanosit) dalam embrio, dan terdiri dari campuran elemen kulit yang abnormal.

Mariana telah menjalani tiga perawatan bedah laser untuk mengurangi tampilan dari tanda lahirnya itu sejak berusia lima tahun. Hal ini dilakukan karena kekhawatiran ibunya yang takut bila Mariana di-bully oleh teman-temannya. Namun Mariana memutuskan untuk berhenti melakukan operasi dan menerima tanda lahirnya tersebut sebagai bagian dari dirinya yang membuat ia berbeda dari yang lainnya. Ia pun menolak untuk menutupi tanda lahirnya dengan makeup.

Bersama pacarnya, Lucas, Mariana mengelola media sosialnya dengan konten-konten yang mendorong lebih banyak orang untuk merangkul keunikan dalam diri masing-masing. Dalam wawancaranya dengan Barcroft TV Mariana mengungkapkan “You don’t need to fit into conventional beauty standards to be a model… I think the fashion industry has to open up even more and stop maintaining a specific standard, open up to different kinds of people accept that everyone is different”.

Baca juga: Cinta Diri Sendiri dan Menerima Kekurangan Itu Penting

Lex Gillies

Sumber: Instagram @talontedlex

Sumber: Instagram @talontedlex

Lex Gillies adalah seorang beauty influencer asal London yang aktif mempromosikan skin-positivity lewat media sosialnya untuk mendukung, mengedukasi dan mendorong orang lain untuk lebih membuka diri dan menerima kondisi kulit. Ia sendiri telah menderita rosacea sejak umur 14 tahun. Awalnya Lex menggunkan media sosialnya untuk sharing tutorial makeup untuk menutup kemerahan di kulitnya akibat rosacea. Namun, kini ia lebih sering menunjukkan bare face-nya di hadapan publik, meskipun ia masih kerap merasa insecure memperlihatkan kondisi kulit apa adanya.

Beberapa waktu lalu, Lex tampil dalam sebuah foto yang diambil oleh Sophie Harris-Taylor untuk karyanya yang berjudul Epidermis Series. Foto ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan menunjukkan bahwa kulit tidaklah harus sempurna. Lex lalu membagikan fotonya yang menampilkan rosacea-nya tersebut melalui advert di Instagram. Sayangnya, Instagram justru menunjukkan penolakan terhadap fotonya itu dengan alasan “We don’t allow ads that focus on aspects of a person’s body to highlight an undesirable or idealised body state.”

Kondisi rosacea yang dialami Lex Gillies dianggap Instagram sebagai kondisi undesireable, termasuk pula kondisi kulit lainnya seperti jerawat, eczema dan dermatitis. Kebijakan ini dianggap diskriminatif dan tidak mendukung semangat body-positivity. Akhirnya melalui campaign #UndesirablesOfInstagram yang dibesut oleh Lex dan dukungan dari komunitas, kata “undesireable” resmi dihapus oleh Instagram.

Crystal Marshall

Sumber: Instagram @faceinosteosarcomax

Sumber: Instagram @faceinosteosarcomax

Crystal lahir pada tahun 1999, dan seminggu setelah ulang tahunnya yang ke-18 ia didiagnosa mengalami facial osteosarcoma. Osteosarcoma sendiri merupakan kondisi kanker tulang yang dialaminya di area wajahnya, tepatnya di bagian rahang atas. Kondisi ini bermula saat Crystal menyadari ada bengkak kecil di gusinya. Crystal harus menjalani kemoterapi selama tujuh bulan. Setelah selesai menjalani kemo pada Januari 2017, ia melakukan operasi untuk mengangkat bagian di pipinya dimana tumor tersebut bersarang.

Selama kondisi ini berlangsung, Crystal tengah menempuh pendidikan di perguruan tinggi, tepatnya di jurusan performing arts. Ia memiliki cita-cita dan tekad yang kuat untuk menjadi aktris dan sangat mencintai kegiatan teater. Facial osteosarcoma sama sekali tidak meruntuhkan semangatnya. Sebelum menjalani operasi, Crystal sempat merasa kehilangan rasa percaya diri akibat tatapan dari orang-orang yang merasa aneh atau iba dengan tampilan tumor di wajahnya. Bahkan ia sampai sekarang masih kerap menutupi sisi kanan wajahnya dengan rambut. Namun ia menyadari bahwa ia telah berhasil mengalahkan kankernya, yang mungkin tidak mungkin sanggup dialami oleh semua orang, dan itu membuatnya bangga pada dirinya sendiri. Ia pun aktif membagikan ceritanya melawan facial osteosarcoma di akun instagramnya @faceinosteosarcomax.

Nah, kalau kamu masih merasa minder dan nggak pede dengan body image-mu saat ini, coba lah bercermin dari lima influencer di atas ini. Dengan kondisinya yang berbeda dan unik, mereka mampu untuk survive dan bahkan menginspirasi orang banyak. Sosok-sosok ini juga hendaknya dapat mengingatkan kita semua untuk senantiasa bersyukur.