Pengalaman 6 Bulan Memakai Deodoran Natural. Sukses?

Apa sih sebenarnya yang membedakan deodoran natural dengan yang biasa? Enam bulan terakhir ini saya mencoba sendiri untuk melihat efeknya.

Perdebatan antara menggunakan produk sintetis dan produk natural dalam dunia beauty memang nggak akan pernah selesai.  Hal ini sah-sah saja dan alasannya sih simpel: setiap orang berhak memilih mau memakaikan produk apa ke tubuhnya. It becomes a problem when you force your preference on other people. Dengan semakin maraknya gerakan zero-waste, banyak pula yang jadi beralih ke produk-produk natural, termasuk juga untuk perawatan tubuh. Beberapa bulan lalu saya lihat post @sustaination di Instagram yang membahas tentang deodoran natural. Produk ini memang bukanlah produk baru, sebelumnya saya juga sudah sering lihat deodoran natural seliweran di jastip Jepang. Namun, beberapa poin yang ditulis Tyas, Founder Sustaination, membuat saya jadi mengangguk sambil bergumam “hmm, menarik untuk dicoba ya.”.

So what’s the fuss about natural deodorants? Apa sih yang membuatnya berbeda dengan deodoran biasa yang dijual di pasaran? Pertama, kita pahami dulu fungsi dari deodoran sendiri. Sesuai namanya, deodoran sebenarnya merupakan produk yang bisa menghilangkan bau nggak sedap ketika tubuh berkeringat (odor) yang disebabkan oleh bakteri. That’s it. Deodoran berbeda sama antiperspirant yang fungsinya menahan perspirasi atau keluarnya keringat dari tubuh. Produk antipersipiran roll on yang biasa kita temukan di pasaran, umumnya mengandung aluminum chloride yang memang bisa menahan keringat berlebih keluar dari tubuh. Sejauh ini setiap deodoran dengan klaim ‘natural’ nggak mengandung aluminum chloride ini.

Baca juga: Mencoba Acid Toner Sebagai Pengganti Deodorant

No-Pong-Coconut-2

No Pong All Natural Anti Odourant

Lalu kenapa saya tertarik mencoba deodoran natural? Kebetulan setahun belakangan saya menyadari ada small lump di ketiak kanan saya yang terkadang bisa membengkak dan terasa nyeri. Saya jadi berpikir-pikir, apakah ini efek dari keringat yang nggak bisa keluar dengan alami akibat antiperspiran yang biasa saya gunakan? Karena setiap mandi pun saya masih bisa merasakan ada residu antiperspiran yang membuat ketiak saya semacam ‘waterproof’ hahaha. Makanya saya jadi tertarik mencoba deodoran tanpa aluminum chloride agar tubuh saya berkeringat secara alami. Ditambah lagi saya juga suka merasa antiprespiran yang biasa saya pakai kurang bisa menahan body odor saat saya pakai baju yang bahannya nggak menyerap keringat (misalnya chiffon atau crepe).

Produk yang saya coba enam bulan terakhir ini adalah No Pong All Natural Anti Odourant. No Pong sendiri adalah indie brand asal Australia. Kandungan di dalamnya ada coconut oil, sodium bicarbonate, corn starch, beeswax, natural fragrance (a blend of 100% pure certified organic essential oils of orange sweet, vanilla, lemongrass, cedarwood atlas, bergamot, lime, frankincense, ylang ylang, and geranium). Selain karena review-nya bagus-bagus, saya juga memilih No Pong karena kemasannya berupa pot kaleng yang bisa di-reuse maupun di recycle.

Deodoran dari No Pong ini memiliki aroma lemongrass lembut dan teksturnya sangat mirip cleansing balm. Cara pakainya tinggal dioles saja dengan jari ke ketiak setiap habis mandi. Apakah sukses menahan bau badan? Yup! Saya nggak pernah mencium bau keringat nggak sedap, termasuk saat lagi pakai baju berbahan non-katun meski sudah beraktifitas seharian. Namun deodoran ini memang nggak bisa menahan keringat. It’s not completely a bad thing karena setelah enam bulan ini lump di ketiak kanan saya sudah nggak pernah muncul lagi! Yay!

Baca juga: Ngobrol Soal Skincare Natural Bareng Yaumi Fauziah A.K.A Gleam Base

No Pong All Natural Anti Odourant bisa kamu beli di online shop atau jastip yang jual produk Australia. Saya sendri belinya di Instagram @tokotujuhpuluh seharga Rp 159.000 untuk 35 gram. Dalam enam bulan ini saya sudah menghabiskan satu setengah pot No Pong All Natural Anti Odourant dan tentunya akan terus repurchase. 

Kalau kamu, sudah pernah coba deodoran natural belum? Bagaimana hasilnya? Cerita di kolom comment ya!