Brand Lokal dengan Model Kaukasia. Apakah Relevan?

Kemajuan brand lokal dalam beberapa tahun terakhir tentunya berbanding lurus dengan derasnya pemasaran dan promosi produk yang kerap dikemas secara kreatif. Namun, dalam eksekusinya, masih kita jumpai wajah-wajah Kaukasia. Relevankah menggunakan model Kaukasia dalam pemasaran brand lokal?

Semua pasti setuju bahwa brand lokal kini mampu bersaing dengan brand luar, baik itu Jepang, Korea, atau bahkan Amerika Serikat. Produk apapun yang kamu butuhkan,mulai dari hair care hingga foot care, pasti terjawab oleh brand buatan Indonesia. Bahkan kemajuan ini juga dicatat oleh Kementerian Perindustrian, lho. Pada tahun 2017 saja, perusahaan kosmetik bertambah 153 sehingga totalnya menjadi 760 dan 95% di antaranya merupakan sektor usaha kecil juga menengah. Membanggakan banget ya! Campaign-campaign yang diluncurkan brand lokal setiap ada produk baru juga selalu dikemas menarik. Namun, kalau kamu perhatikan, masih banyak brand lokal yang menggunakan model Kaukasia dalam memasarkan produknya. Padahal ada banyak perbedaan antara kulit perempuan Kaukasia dengan kulit perempuan Indonesia. Bayangkan deh, kalau kamu memiliki kulit sawo matang dengan warm undertone yang cenderung berminyak, tetapi model dari produk incaranmu berkulit putih dengan cool undertone yang cenderung kering. Dengan perbedaan yang cukup signifikan, bagaimana ya memastikan produk itu sesuai dengan kulit perempuan Indonesia atau tidak?

Baca juga: Beauty Sponge Lokal Bagus Di Bawah 100 Ribu

 

#FDlocalPower-7
Memang tidak bisa kita pungkiri bahwa di Indonesia masih banyak orang, ataupun industri, yang berpatokan ke brand luar, sehingga ada anggapan bahwa model Kaukasia lebih oke daripada model lokal. Padahal ada banyak model lokal yang jam terbangnya tidak kalah tinggi dengan model Kaukasia dan bisa mewakilkan kita sebagai perempuan Indonesia. Sasaran utama dari brand lokal tentunya adalah kita sebagai masyarakat Indonesia, sehingga sudah sepatutnya brand lokal membuat kita merasa bahwa “ Brand lokal tuh gue banget”. Naturally, we will identify with someone who looks like us, right? Jelasnya, dengan model yang memiliki kulit kuning langsat dan/atau sawo matang, bukan model yang memiliki kulit tidak terlalu mirip dengan orang Indonesia. Kita akan merasa lebih terwakilkan dan dapat lebih mudah mengetahui apakah sebuah produk yang diluncurkan brand lokal sesuai dengan kulit kita atau tidak, ketimbang mengeluhkan “Di kulit dia sih bagus, dia kan bule, di kulit aku pasti lain cerita.”

Baca juga: Divia Sari Komitmen Mau Pakai Brand Lokal Saja!

 

Jadi, kalau menurut pendapat saya, di luar keinginan brand lokal yang ingin membuat produknya terlihat keren di mata konsumen, saya rasa mereka juga tetap harus menunjukkan ke-Indonesiaannya. Kenapa? Supaya perempuan Indonesia sebagai sasaran utama, dapat merasa relevan dengan brand tersebut. Atau, kalau memang ingin menggunakan model yang kulitnya lebih fair, sepertinya akan lebih menarik kalau tetap tidak melupakan model lainnya yang berwarna kuning langsat atau sawo matang khas perempuan Indonesia di dalam satu campaign tersebut. Jadi, setiap warna kulit perempuan Indonesia jadi terwakili dengan baik, deh.

Punya pendapat lain mengenai brand lokal dengan model Kaukasia? Share di kolom comment ya!