Ngobrol Bareng Beauty Vlogger Liv Junkie Tentang Diversity dan ‘Cancel Culture’

Beauty Vlogger Lifni Sanders a.k.a. Liv Junkie dikenal karena pembawaannya yang energik dan blak-blakan. Simak obrolan kami tentang cara Liv menggunakan platform media sosial untuk menyuarakan diversity berikut, ya.

Saat ini sudah banyak banget beauty vloggers atau beauty influencers yang bermunculan. Namun nggak semuanya punya value lebih yang bisa disampaikan pada followers maupun subscribers-nya. Meet Lifni Sanders atau yang dikenal juga sebagai Liv Junkie di Youtube. Selain dari penampilannya yang memang eye-catching, Liv juga berani membuat konten yang sifatnya blak-blakan, especially when it comes to diversity in the beauty industry. Baru-baru ini kami ngobrol bareng tentang diversity dan ‘cancel culture’ yang lagi marak di dunia beauty. Simak obrolannya, ya!

Baca juga: Kolaborasi Brand dan PoC Influencers untuk Shade Foundation Inklusif

Screen Shot 2019-05-31 at 22.46.22

instagram.com/lifnisanders

Beauty scene di Youtube Indonesia kan sudah cukup ramai di tahun 2012-2013, kenapa sih baru memutuskan untuk jadi vlogger di tahun 2016?

“Gue dulu penasaran banget cara bikin hidung kelihatan kecil dengan makeup itu gimana. Tahun 2013, gue cari-cari tutorial terus di Youtube dan jadi keterusan. Selain itu gue juga jatuh cinta banget sama eye makeup dan senang cobain eyeshadow. Tapi saat itu gue belum yakin kalau passion gue memang di makeup, sampai akhirnya tahun 2016 gue sudah merasa enjoy banget dan nggak bisa berhenti main makeup. Di saat itu lah gue memutuskan untuk beauty vlogging.”

Di awal karir Youtube, kamu memang menentukan ingin fokus di review atau tutorial juga?

“Dari awal gue emang sudah ingin banget nge-review, especially karena kulit gue berjerawat. Gue ngerasain banget susahnya nyari foundation yang hasilnya bagus di kulit berjerawat seperti gue. Jadi sambil gue mencari foundation yang cocok, gue juga sambil sharing review gue. Jadi fokus gue memang lebih ke review sih, lagi pula gue juga memang lebih enjoy nonton review dari pada tutorial. Menurut orang-orang, mereka juga senang nonton video gue karena gue fun. Kata mereka konten gue asik dan menghibur. Gue juga orangnya blak-blakan banget. Emang paling nggak bisa kalau nggak jujur.”

Pendapat kamu tentang ‘cancel culture’ yang sekarang lagi marak, terutama terhadap brand yang kurang diverse?

“Kalau untuk shade range foundation yang masih kurang banyak di brand lokal, gue sih masih bisa memaklumi ya saat ini. Mengingat memang negara kita sudah punya mentalitas “cantik itu putih” yang tertanam banget. I think I should still give them (re: brands) a chance to grow, nggak langsung ‘cancel’ begitu saja. Tapi ini juga kembali lagi ke pesan apa sih yang brand ini ingin sampaikan. Ada brand yang saat gue kritik tentang hal ini, mereka menerima. Itu gue sangat respect sih. Berarti mereka memang paham bahwa masih ada yang bisa mereka perbaiki agar brand-nya semakin berkembang. Kalau campaign mereka memang terang-terangan mau menunjukkan kalau yang cantik itu kulit putih, gue pasti tolak dan nggak mau dukung. Gue juga nggak akan mendukung brands yang menggunakan budaya tertentu untuk mencari profit (re: cultural appropriation), dan ini memang gue sampaikan terang-terangan di Instagram gue. As a beauty vlogger and as a person, I feel the need to deliver this message.

Baca juga: Bicara Standar Kecantikan Bersama Anggun

livsanders

instagram.com/lifnisanders

Selain diversity, apa lagi harapan kamu untuk beauty industry di Indonesia?

“Menurut gue penting banget untuk nggak ignorant. Just because some things are easy for you, bukan berarti orang lain nggak kesulitan (re: dalam hal mencari shade atau formul makeup yang tepat). Memang banyak yang menganggap ‘ya ini cuma makeup doang, kok’. But if you really like makeup, it matters to you. Colorism in beauty industry is real. Banyak banget yang membuat narasi kalau yang kulitnya gelap itu nggak cantik dan kotor. Kita bisa banget melawan colorism lewat makeup, terutama dari segi marketingnya. Media juga berperan banget karena mindset orang itu bisa terbentuk dari apa yang mereka sering lihat. Kalau kita sering lihat yang beragam, kita jadi punya konsep kalau yang cantik itu nggak cuma satu tipe saja.”