Friday Fragrance: Le Labo Ylang 49

Salah satu must-have untuk fragrance aficionado, ini alasan kenapa saya suka banget sama Le Labo Fragrances Ylang 49.

 

Kalau ditanya apa holy trinity saya dalam parfum, I have Le Labo Fragrances, Byredo, and Diptyque. A true hipster fragrance lover! Hahahaha. Walaupun saya selalu punya sebotol Chanel Coco Mademoiselle yang udah saya pakai sejak SMP-SMA, I can’t help that I’m more attracted to a nicher brands of perfume now. Ya walaupun tiga holy trinity saya itu juga nggak kecil-kecil banget, but I like the fact that I smell unique, unlike any other. 

 

Le Labo 2

 

Hal yang saya suka dari Le Labo adalah filosofi dan branding-nya. Le Labo punya brand manifesto sendiri lho, yang menurut saya penting banget untuk membedakan brand kita dari market saturation produk yang ada di pasaran. Minjem beberapa kalimat dari penyair Hafiz dan filosofis Henry David Thoreau, saya suka banget kalimat ini di manifesto Le Labo: We believe fine perfumery must create a shock – the shock of the new, combined with the shock of the intimately familiar. Sebagai orang yang selera parfumnya itu-itu aja, saya selalu nunggu wangi yang bikin saya “Hmm… Mirip sih sama yang di rumah, tapi ada sesuatu yang baru that I can’t put my finger on it.”

Saya juga suka craftsmanship dari Le Labo: semua botolnya dicampur secara fresh dan labelnya di-customize dengan nama masing-masing. Kaca botolnya tebal dan tutupnya terasa berat, jadi mantap di tangan. Karena transparan, kamu langsung bisa lihat warna parfum kamu apa. Tiap parfum beda-beda karena perfume oil yang digunakan beda-beda. Oh ya, Le Labo juga eco-friendly lho. Instead of buying a new bottle each time your perfume runs out, kamu bisa refill botol lama kamu dengan parfum yang sama di tokonya.

 Baca juga: 3 Cara Agar Parfum Awet Aromanya

 

Walaupun yang terkenal dan jadi cult favorite adalah Santal 33, saya milih Ylang 49 karena wanginya yang spesial buat saya. Biasanya, saya emang suka wangi yang lebih ‘tua’ dari usia saya sebenernya… Hahaha. Wangi Ylang 49 ini kuat banget dan nggak sarat alkohol. Bisa kerasa banget di kulit kalau Le Labo adalah parfum yang kadar alkoholnya dikit, karena molekul semprotannya tuh terasa berat dan oily pas baru di-spray. Makanya, saya berusaha banget untuk nggak nyemprot Le Labo ke baju karena takut nge-stain! Untuk dapet wangi yang optimal dari parfum ini, saya juga cuma butuh satu semprotan aja di area leher dan dada karena jangkauan spray-nya cukup luas. Dari situ, tinggal tap-tap aja deh pakai pergelangan tangan untuk nyebar titik wanginya ke bagian tubuh lain. Antara efektif dan irit ya… Hahaha. Tapi karena strong banget, satu semprot aja cukup.

 

Le Labo 3

 

Wanginya sendiri… Agak susah sih deskripsiinnya. Sesuai namanya, Ylang 49 fokus ke ylang-ylang atau bunga kenanga. Setelah wangi bunga kenanga-nya dissepate, ada wangi floral dari gardenia dan berakhir ke bau patchouli dan vetiver yang saya suka banget. Kalau dibayangin sebagai orang, Ylang 49 adalah perempuan yang yoga seminggu tiga kali, dengerin Sabrina Claudio pakai vinyls, survive ikutan Burning Man, dan makan patisserie tiap abis makan. Spesifik banget kan? Hahaha. Menurut saya, parfum ini dominating dan sensual banget wanginya, tapi tetap approachable dan nggak bikin pusing. Saya sendiri pakai parfum ini kalau lagi mau presentasi atau butuh boost of confidence.

Baca juga: Friday Fragrance: Parfum Mahal Wanita yang Patut Dibeli

 

Karena belum tersedia di Indonesia, Le Labo terdekat ada di Bangkok atau beberapa kota di Australia. Saya sendiri beli di Singapore saat Le Labo ada pop up di Escentials, jadi botol ini bakal spesial banget buat saya karena lokasinya yang unik. Kamu bisa dapetin 50ml dengan harga US$189 atau nyaris tiga juta rupiah. Is it worth it? For me, it’s a definite yes.