Beauty Brand Inklusif, Harus Nggak Sih?

Setelah fenomena Fenty Beauty, rasanya beauty brand inklusif adalah suatu keharusan yang dituntut banyak orang. Apa benar harus seperti itu?

 

Setiap ada beauty brand yang launching produk, apalagi kalau produk complexion, saya selalu melihat adanya kekecewaan dari konsumen kalau produknya hanya menyediakan segelintir shade saja. Contohnya? Natasha Denona baru relaunching FoundationX+ dengan dua puluh shade dan masih ada aja netizen yang komplain kalau shade-nya kurang. Jadi, beauty brand inklusif untuk semua skin tone itu harus mencapai level yang seperti apa, sih?

 

Menjadi beauty brand inklusif di zaman sekarang tuh sangat menguntungkan, lho. Di era media sosial seperti sekarang, brand jauh lebih mudah untuk memasarkan produknya dan mencapai pasarnya dengan lebih baik. Komunikasi juga jauh lebih terbangun sehingga pengembangan produk juga bisa lebih sesuai dengan keinginan pasarPerpaduan media sosial dan idealisme kompleks millennial yang lebih humanis bikin beauty brand yang inklusif jadi jauh lebih menarik daripada beauty brand yang biasa-biasa aja. Nggak cuma fokus ke produk, millennial juga peduli purpose atau masalah besar apa yang ingin diselesaikan oleh company itu sendiri. Jadi beauty brand inklusif juga bisa berarti punya pembeli lebih banyak karena lebih ‘merangkul’ banyak orang!

 

Tapi kalau dilihat-lihat, nggak semua brand harus ‘melayani’ semua orang, lho. Setiap brand pasti punya business plan masing-masing dan punya target pasar sendiri-sendiri. Apakah setiap brand harus menarget seluruh lapisan pasar? Not really! Hanya menarget satu kelompok pasar juga nggak berarti brand-nya nggak profitable atau valuable. Kriwil, misalnya. Fokus di perawatan rambut keriting, Kriwil jadi lebih punya identitas dan lebih bisa relate ke customer-nya. Sebetulnya, specific targeting ini banyak banget dilakukan brand di luar beauty, seperti brand mobil atau makanan. Nggak mungkin kan, liat Aston Martin bikin mobil sejenis Avanza biar lebih inklusif?

Untitled design (1)

Ngeliat ke brand beauty inklusif di industri lokal sendiri, sebetulnya masih butuh improvement. Sampai saat ini, hanya Make Over aja yang menawarkan range lengkap untuk semua skintone. Melihat rilis-rilis foundation dari brand-brand lokal, saya juga belum puas karena belum tentu skintone saya punya shade. Apa sih alasannya beauty brand lokal nggak ngeluarin shade yang lebih banyak untuk produk complexionAda dua alasan yang bisa saya simpulkan: modal dan market demand. Seperti yang kita tahu, product development itu nggak gampang dan nggak murah! Berhubung kebanyakan brand yang lagi ngeluarin produk-produk complexion di industri lokal itu adalah brand indielaunching produk dengan shade yang lebih banyak bisa jadi mahal! Nah, kalau gitu, kenapa selalu ngeluarin tiga shade yang selalu terang dan kurang representatif atas skintone perempuan Indonesia? This is where market demand steps in. 

 

Menurut ZAP Beauty Index, penelitian yang dilakukan oleh klinik kecantikan ZAP, mayoritas perempuan Indonesia masih pingin kulitnya lebih cerah. Hal ini bisa jadi jawaban kenapa brand memprioritaskan produk makeup dengan shade yang lebih terang, karena perempuan Indonesia masih membeli produk yang bisa mencerahkan warna kulit mereka. Penelitian yang dilakukan oleh L. Ayu Saraswati di jurnal Feminist Studies juga menemukan bahwa perempuan Indonesia ‘menutupi’ warna kulit mereka karena malu akan kulitnya yang nggak putih. Fakta ini nggak bikin saya heran sih, karena produk skincare yang menjual klaim ‘whitening‘ dan ‘brightening‘ sangat mudah ditemukan di supermarket dan toko-toko. Walaupun di Female Daily senantiasa mengkampanyekan bahwa warna kulit apapun itu cantik, representasi media dan mindset banyak orang juga sekarang masih fokus ke definisi cantik yang masih satu dimensi: yang berkulit putih!

Untitled design (2)

Untungnya, kita melihat progres yang cukup menggembirakan dari beauty brand yang ada di Indonesia. Rosé All Day, misalnya, dengerin banget customer-nya dan menambah dua shade yang lebih gelap untuk produk foundation mereka, The Realest Lightweight Foundation. Emina juga menambah satu shade lebih gelap untuk Bare With Me Mineral Cushion untuk perempuan yang berkulit tan. Jadi, ketika kamu melihat ada brand yang ngeluarin produk dengan shade range terbatas, sampaikan concern kamu dan sabar! Take a look at Glossier, for example. Walaupun mereka udah punya Glossier Skin Tint sejak awal, mereka baru expand shade range-nya dari lima ke dua belas di tahun ini. After all, good products (and sometimes, shades) need time to develop!