Produk Beauty Tanpa Air Akan Jadi Tren?

Setelah cruelty-free, kini mulai bermunculan beauty brands yang diformulasikan tanpa air. Apa ya alasnnya?

Kalau sebelumnya sudah banyak yang memilih berpindah ke produk natural dan cruelty-free, akhir-akhir ini, isu sustainability  lah yang menjadi sorotan. Nggak hanya dalam produk kebutuhan sehari-hari seperti alat makan dan kantong belanja, sustainability kini juga menjadi penting di dunia beauty. Selain menggunakan bahan dasar dan kemasan yang ramah lingkungan, brands yang mengutamakan sustainibility juga menjalankan fair trade untuk mendapatkan bahan-bahan mentahnya.

Nah, ada satu lagi kriteria sustainable yang mungkin belum sering dibahas. Coba deh perhatikan ingredients list dari produk skincare atau makeup, ingredient apa yang ada di paling awal? Yup, air!  Biasa juga ditulis aqua atau water,  kandungan air sering banget ditemukan sebagai bahan utama dari produk kecantikan karena bisa dengan mudah melarutkan atau mencampur berbagai jenis kandungan lainnya. Namun beberapa tahun belakangan ini mulai bermunculan beauty brands yang memiliki klaim waterless alias nggak menggunakan air. Bahkan dilansir dari The Future 100, di tahun 2020, L’Oréal berkomitmen untuk mengurangi penggunaan air sebanyak 60%. Apa ya alasannya?

Lebih Higienis

Beberapa waktu lalu, di sejumlah komunitas organik Indonesia, sempat heboh soal produk skincare natural homemade yang menggunakan bahan dasar air. Lebih spesifiknya air fermentasi beras. Ini disebabkan oleh sifat air yang sangat potensial sebagai tempat tumbuhnya bakteri. Added with the fact that this particular product is fermented, bakteri yang tumbuh tentunya akan semakin nyaman hidup dalam cairan tersebut. Di sini lah peran pengawet atau preservatives diperlukan untuk menjaga produk agar nggak mudah terkontaminasi bakteri dan tetap fresh. With the absence of water, produk skincare dan makeup dapat diformulasikan tanpa/dengan lebih sedikit pengawet sejenis paraben. Makanya, kalau diperhatikan lagi, kebanyakan beauty brands natural seperti LUSH punya shelf life yang relatif singkat.

The-Klog_Reviews_COSRX_Triple-C-Lightning-Liquid-53-1

Active Ingredients

Untuk produk-produk bersifat hydrating seperti toner dan face mist, peran air memang dibutuhkan untuk melarutkan hydrophilic/water-loving ingredients yang memang penetrasinya akan lebih baik apabila dicampur dengan air. Apa saja sih kandungan yang bersifat hydrophilic? To name a few, ada tea tree, willow bark extract, dan alkohol. Tapi berbeda kasusnya untuk produk dengan active ingredients seperti vitamin C dan produk skincare anti-aging. Saat berada di urutan paling awal pada ingredients list, sekitar 70-80% dari produk itu terdiri dari air. Active ingredients bisa bekerja lebih maksimal dan tentunya lebih potent apabila nggak dilarutkan (diluted) dengan air.

Sustainable

UNESCO memprediksi di tahun 2030, planet Bumi akan mengalami penurunan suplai air sebanyak 40% kalau kita nggak mengatur penggunaan air dengan lebih bijak. But 2030 seems so far away, dan 40% kedengarannya memang nggak “sebanyak itu”, right? Wrong. Beberapa tahun terakhir ini saja krisis air bersih sudah terjadi di berbagai belahan dunia, nggak terbayang kan kalau suplai air kita semakin berkurang lagi.

Salah satu cara menggunakan air dengan bijak dalam dunia kecantikan adalah dengan memproduksi produk beauty tanpa air agar bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan lain yang urgensinya lebih tinggi. Semakin sedikit air yang digunakan dalam produksi produk-produk ini, tentunya akan lebih sedikit pula air yang terbuang.

Screen Shot 2019-01-08 at 10.37.54 AM

image: instagram.com/pinchofcolourofficial

Mulai dari mana, ya?

Pingin coba produk-produk beauty tanpa air? Untuk skincare, ada beberapa K-Skincare brands yang mengganti air dengan alternatif lain, seperti Birch Juice extract yang digunakan E-Nature. Pyunkang Yul juga menggunakan Coptis Japonica root extract dan Milkvetch root extract sebagai alternatif air. Salah satu produk andalan saya yang juga merupakan ‘cult favorite’, Sunday Riley Good Genes, pun juga nggak diformulasikan dengan air.

Produk makeup yang waterless sejauh ini belum sebanyak skincare. Saya pertama kali tahu tentang Pinch of Colour dari aktris sekaligus environmental activist, Shailene Woodley. Brand indie yang lahir 2 tahun silam ini juga memiliki jargon “The Waterless Beauty Company”. Produk-produknya pun sudah sangat beragam, mulai dari lipstick, tinted lip oil, sampai skin tint stickSayangnya, produk-produk Pinch of Colour belum tersedia di Asia Tenggara. Kalau penasaran, store yang terdekat ada di Hong Kong atau Pre Order di jastip.

Semoga ke depannya akan semakin banyak produk beauty tanpa air yang dikeluarkan oleh beauty brands, ya. Kalau kamu sudah pernah atau tertarik coba juga, nggak?