Ngobrol Bareng Dian Sastrowardoyo Soal Diversity in Beauty

Belum lama ini saya berkesempatan untuk wawancara ekslusif dengan Dian Sastrowardoyo. Pingin tahu apa saja yang kami obrolin? Intip, yuk!

Kalau ditanya tentang definisi ‘cantik Indonesia’, banyak orang akan menjawab Dian Sastrowardoyo. Setuju? Sejak namanya jadi super populer lewat film ‘Ada Apa Dengan Cinta’ saat saya masih di bangku SD dulu, hingga sekarang berperan sebagai Alma yang bad*ss di ‘The Night Comes for Us’, sosok Dian Sastrowardoyo masih jadi salah satu ‘barometer’ cantik di tanah air.

Eits, tapi cantik yang saya maksud di sini bukan hanya penampilan fisiknya saja ya, she just spreads good vibes around her! Tapi tentu saja, ‘cantik’ nggak hanya bisa didefinisikan dengan satu tipe tertentu, kan. Apakah perempuan Indonesia yang nggak memiliki facial features seperti Dian nggak bisa dikategorikan cantik? Of course not!

Nah, belum lama ini, saya berkesempatan untuk ngobrol langsung dengan Dian tentang diversity in beauty di salah satu event promo film “Aruna dan Lidahnya”. Penasaran apa saja yang kami obrolin? Simak terus!


View this post on Instagram

A post shared by Dian Sastrowardoyo (@therealdisastr) on

Jadi, beberapa tahun terakhir ini, diversity di dunia kecantikan kan sangat ditekankan, sementara stereotip cantik di Indonesia masih saja perempuan yang berkulit putih, dan produk pemutih pun masih sangat laku di pasaran. How do you see this mentality?

“Wah, skripsiku dulu bahas ini, lho! Menarik banget untuk dibahas! Jadi, aku lihatnya pakai teori poskolonialisme. Karena terbiasa di bawah koloni, kita jadi punya inferiority complex terhadap Caucasians. Kita ‘takut’ sama mereka, tapi juga punya fetish untuk menjadi seperti mereka. Kalau kita terlihat seperti mereka (re: berkulit putih), kita jadi merasa bisa disejajarkan.

Sampai sekarang pemikiran ini sudah mendarah daging, dan beauty industry melihat celah untuk bisa take advantage dari situasi ini. Karena tahu produk pemutih mudah banget dijualnya, semakin banyak juga lah yang memproduksi.”

‘Lucu’nya padahal Caucasians justru banyak yang berusaha terlihat lebih tan, ya.

“Nah, iya. Pemikiran mereka justru beda lagi. Menurut ras Kaukasia, siapa yang kulitnya terlihat lebih gelap, berarti punya lebih banyak waktu luang untuk berlibur, lebih punya banyak disposable money. Tentunya yang dianggap lebih sering berlibur juga dianggap lebih bahagia.”

How is it like to be an international beauty brand ambassador di beauty scene yang seperti ini?

“Sebagai seseorang yang mewaikili sebuah brand kecantikan, aku senang semakin ke sini aku punya lebih banyak kebebasan untuk bisa menginterpretasikan apa yang dibilang cantik. Sehingga aku nggak pernah dengan sengaja aiming untuk terlihat lebih putih ataupun lebih gelap. Menurutku sudah alaminya warna kulit kita bisa berubah-ubah tergantung aktivitas.

Aku selalu mengkampanyekan untuk jangan takut beraktivitas outdoor selama kita pakai perlindungan yang tepat. Yang terpenting bukan how people see us, but how we see ourselves, and carry ourselves with confidence.”

Kalau personal makeup style Kak Dian seperti apa sih?

Aku nggak pernah membuat patokan makeup style yang ‘harus dandan’ atau ‘harus barefaced terus’. Aku suka bebasin diri sendiri aja, kapan mau dandan atau nggak. Menurutku keduanya punya charm yang berbeda dan tergantung dengan karakter apa yang lagi pingin dikeluarin. Just be playful!”

Punya beauty routine favorit?

“Wajib banget pakai virgin coconut oil setelah mandi saat kulit masih basah!”