Mary Angline: Antara Sekolah dan Beauty Influencer

Tidak membawa urusan sekolah ke rumah ternyata menjadi kunci sukses Mary Angline jadi beauty influencer di usia 15 tahun!

Masih sekolah bukan berarti jadi nggak bisa bebas berkarya menyalurkan passion yang dimiliki. Saya masih ingat banget betapa dulu kedua orangtua saya seneng banget minta saya coba ikut banyak kegiatan seperti kursus. Banyak banget deh, dari les piano hingga les sempoa haha!

Nah, berbeda dengan zaman saya remaja dulu ketika teknologi belum semaju seperti saat ini, Mary Angline, mencoba memanfaatkan platform digital yang lagi happening seperti Youtube, untuk mengasah passion dan kreatifitasnya. Remaja yang masih kelas 1 SMA ini bercerita tentang bagaimana suka duka dan prosesnya di dunia beauty.

Yuk simak obrolan saya berikut ini:

Ceritain dong awalnya gimana kamu bisa jadi Youtuber?

“Awalnya jadi blogger dulu karena memang lebih nyaman dan suka menulis. Tapi zaman sekarang, kalau mau influence orang melalui blog itu agak susah ya, apalagi newbie blogger. Jadi aku cari platform lain biar lebih bisa sharing dan juga keluar dari zona nyaman dengan media yang lebih mudah diterima”.

Apa sih dampak positif dari menjadi beauty content creator menurut kamu?

“Aku bisa punya banyak teman dan kenalan, menambah rasa percaya diri dan lebih dewasa haha. Menjadi beauty content creator memaksa aku untuk bisa mengatur waktu, mengetahui skala prioritas, dan lain-lain. Selain itu, aku jadi punya kesibukan yang berfaedah dari pada hanya scrolling tanpa arti. Nah kalau alasan terakhir ini sebenarnya hanya bonus saja, yaitu mendapatkan penghasilan tambahan”.

mary a isi

Bagaimana kamu mengatur waktu antara sekolah dan passion kamu di dunia beauty?

“Ini pertanyaan yang paling sering ditanyakan haha! Aktifitas di sekolah biasanya meliputi ulangan dan PR, nah aku biasanya melakukan itu semua di sekolah. Belajar di sekolah, kerjain PR di sekolah, jadi di rumah nanti sudah bebas dari tanggung jawab urusan sekolah deh. Kalau di kamusku sih, haram hukumnya bawa urusan sekolah ke rumah haha. Aku punya prinsip, di luar sekolah ya waktunya santai, menyalurkan passion, dan having fun! Alasan itu juga yang bikin aku memanfaatkan jam istirahat, karena aku jadi anti sosial dan fokus ke pelajaran”.

Bagaimana kamu melihat profesi sebagai content creator saat semakin dewasa nanti?

“It’s hard! Karena aku tau banget seiring berjalannya waktu, semakin banyak juga content creator yang bermunculan. Roda selalu berputar, nggak ada kata pasti. Misalnya tentang gimana karir aku ke depannya di industri ini, apakah aku pasti akan diajak kerja sama dengan brand besar dan lain-lain. Hal tersebut bikin aku jadi nggak akan mikir kalau content creator sebagai profesi yang menjanjikan karena penghasilannya nggak pasti dan konsepnya beda banget denga kerja kantoran. Tapi kalau kamu sudah sampai pada tahapan yang stabil, profesi content creator akan menjadi profesi yang sangat fun dan menjanjikan banget loh! Apapun itu kalau dilakukan dengan passion, pasti nggak akan terasa seperti kerja, karena yang kamu akan rasain adalah fun!”.

Ada kah trend beauty yang lagi kamu suka dan pingin kamu share ke pembaca teen FD?

“Ada beberapa beauty trend yang aku pengen coba seperi trend glass skin! Selain karena memang aku anaknya kurang suka tampilan matte, glass skin adalah konsep riasan yang fokus pada kondisi kulit yang halus, sehat berkilau, dan flawless. Menurutku sebaiknya itulah gaya makeup yang seharusnya dipakai remaja, yaitu tipis dan natural”.